Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

UU PDP: Risiko Rekam Medis Kertas di Faskes

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
UU PDP: Risiko Rekam Medis Kertas di Faskes

Rekam Medis Jadi Bungkus Gorengan.

Kedengarannya absurd.
Tapi ini beneran kejadian di Thailand.
Kertas rekam medis pasien dipakai buat bungkus gorengan.
Rumah sakitnya? Kena denda ratusan juta rupiah.

Sekarang bayangin kalau hal ini terjadi di Indonesia.
Dengan UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) yang sudah berlaku,
sanksinya bisa berlapis:

  • Pidana (bahkan bisa sampai kurungan)
  • Denda miliaran rupiah
  • Tuntutan ganti rugi dari pasien

Dan kalau ketahuan lalai?
Management rumah sakit, klinik, bahkan apotek bisa ikut terseret.

Masalahnya, saya masih sering lihat…
Fasilitas kesehatan di Indonesia belum benar-benar serius digitalisasi data.
Rekam medis masih kertas.
Pengarsipan seadanya.
Sistem IT seadanya — atau malah nggak ada sama sekali.

Padahal internet sudah menjangkau hampir semua wilayah.
Teknologi EMR/RME sudah ada, tinggal pilih vendor yang tepat.
Tapi kenapa lambat bergerak?
Karena banyak yang mikir “nanti aja, tunggu ada aturan baru.”

Lha, aturannya udah ada.
Risikonya nyata.
Kalau sampai kebobolan data pasien—mau itu karena hacker atau karena kertas nyasar—
yang kena bukan cuma pasien, tapi reputasi & keberlangsungan bisnis faskes itu sendiri.

Jadi, buat para owner & pengambil keputusan di faskes:
Jangan tunggu sampai data pasien Anda jadi bahan pembungkus gorengan.
Mulailah beralih ke sistem digital yang aman dan compliant.

Saya dan beberapa teman yang punya latar belakang teknologi kesehatan
lagi berusaha merekatkan kembali puzzle sistem dan data kesehatan kita.
Bukan cuma demi kepentingan riset,
tapi juga buat mendorong harga obat lebih murah, layanan lebih efisien, dan kesehatan publik yang lebih baik.

🟡 Kalau mau ngobrol atau konsultasi soal harus mulai dari mana,
DM saya.

Biar kita selamatin data kesehatan kita, sebelum terlambat

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

BPJS, Rumah Sakit, dan Kekacauan Integrasi Data
Digitalisasi Kesehatan

19 Jul2 mnt

BPJS, Rumah Sakit, dan Kekacauan Integrasi Data

BPJS Kesehatan vs Rumah Sakit. Atau mungkin… vs Everybody? Saya sering lihat di sosial media: Pasien BPJS marah-marah ke petugas rumah sakit. Padahal yang dimarahi cuma menjalankan sistem. Tapi akarnya lebih dalam dari…

BPJS Kesehatan: Saatnya Ganti Haluan, Bukan Sekadar Ganti Kalender.
Digitalisasi Kesehatan

6 Nov2 mnt

BPJS Kesehatan: Saatnya Ganti Haluan, Bukan Sekadar Ganti Kalender.

BPJS Kesehatan: Saatnya Ganti Haluan, Bukan Sekadar Ganti Kalender. Lagi dan lagi, BPJS Kesehatan kembali jadi sorotan. Setelah ramai soal pemutihan iuran senilai Rp20 triliun, publik akhirnya tahu — ini bukan sekadar…

Rekam Medis Hak Pasien dan Silo Rumah Sakit
Digitalisasi Kesehatan

21 Jun2 mnt

Rekam Medis Hak Pasien dan Silo Rumah Sakit

Rekam Medis Itu Milik Pasien. Bukan Milik Rumah Sakit. Pernah ngalamin ini? Saya, pribadi. Dalam beberapa bulan terakhir pindah ke 3 rumah sakit berbeda. Setiap pindah? Bawa hasil lab sendiri. Bawa rontgen. Bawa hasil…

Kolegium, Kuasa Kompetensi, dan Krisis Akses
Digitalisasi Kesehatan

10 Mei2 mnt

Kolegium, Kuasa Kompetensi, dan Krisis Akses

Kolegium Ribut Soal Siapa yang Boleh, Sementara Pasien Meninggal Karena Tidak Ada yang Bisa. Saat Pak Budi Gunadi Sadikin bicara di podcast Rosi, saya terdiam cukup lama. Karena untuk pertama kalinya, seseorang di…

Kita Belum Sampai di Fase “Patient as Customer” (PaC)
Digitalisasi Kesehatan

14 Apr2 mnt

Kita Belum Sampai di Fase “Patient as Customer” (PaC)

Kita Belum Sampai di Fase “Patient as Customer” (PaC) Beberapa waktu lalu saya cerita pengalaman di puskesmas. Total waktu: 3 jam lebih. Sebagian besar hanya untuk menunggu. Dan hampir semua orang punya keluhan yang…

← Semua tulisan