Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

Kita Belum Sampai di Fase “Patient as Customer” (PaC)

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Kita Belum Sampai di Fase “Patient as Customer” (PaC)

Kita Belum Sampai di Fase “Patient as Customer” (PaC)

Beberapa waktu lalu saya cerita pengalaman di puskesmas.

Total waktu: 3 jam lebih.
Sebagian besar hanya untuk menunggu.

Dan hampir semua orang punya keluhan yang sama:
LAMA

Menariknya, saya dengar penjelasan dari dr. Tirta yang cukup menjelaskan ini dengan sederhana.

Namanya:
Customer Pain Point.

Di Indonesia, secara tidak sadar kita masih melihat:
pasien = pihak yang butuh

Kalau sakit, ya datang.
Kalau harus nunggu, ya nunggu. 🙁

Sementara di banyak negara lain:
pasien = customer

Begitu cara pandangnya berubah, semuanya ikut berubah:

  • waiting time dijaga
  • flow dibuat simple
  • pengalaman pasien diperhatikan

Ini yang disebut MINDSET.

Bukan berarti dokter di luar negeri lebih pintar.
Bahkan sering kali dokter di Indonesia sangat kompeten.

Yang berbeda adalah:
experience yang dirasakan pasien.

Kita sering bilang:
“berobat di luar negeri lebih enak”

Padahal secara medis belum tentu jauh berbeda.

Yang berbeda itu sederhana:

  • tidak menunggu lama
  • tidak bingung prosesnya
  • tidak merasa diabaikan

Di healthcare, value itu:
TRUST

Dan trust dibangun dari pengalaman.

Masalahnya, di sistem kita hari ini:
menunggu 2–3 jam dianggap normal.

Padahal di industri lain, itu sudah tidak bisa diterima.

Ini bukan soal teknologi.
Bukan juga soal jumlah dokter.

Tapi soal:
mindset dan cara mendesain layanan.

Selama pasien masih dipandang sebagai “yang butuh”,

bukan “yang harus dilayani dengan baik”,

maka antrean panjang akan terus ada.

Dan digitalisasi tidak akan banyak membantu.

Karena teknologi hanya mempercepat sistem yang sudah benar.
Bukan memperbaiki sistem yang salah.

Kalau mau memperbaiki layanan kesehatan,

mungkin pertanyaan pertama bukan:
“pakai teknologi apa?”

Tapi:
kita mau memperlakukan pasien sebagai apa?

🟡 Kalau kamu ada di ekosistem layanan kesehatan—klinik, rumah sakit, apotek, atau platform—ini problem yang nyata dan masih bisa diperbaiki.

Beberapa tempat sudah mulai berhasil, banyak juga yang masih terjebak di pola yang sama.

Kalau mau diskusi lebih dalam atau tukar perspektif, kamu bisa langsung DM atau ke sini:

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Komentar

Masuk untuk ikut berkomentar

Masuk

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

← Semua tulisan