Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

Sekarang kita mulai ribut lagi soal DESIL.

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Sekarang kita mulai ribut lagi soal DESIL.

Sekarang kita mulai ribut lagi soal DESIL.

Beberapa hari ini timeline ramai. Orang mulai sibuk mencari tahu: "Gue masuk desil berapa?"

Pemicu utamanya karena wacana pembatasan Pertalite untuk kelompok desil 9–10. Pemerintah memang sedang membahas bagaimana subsidi lebih tepat sasaran, karena data menunjukkan kelompok desil 6–10 masih menikmati porsi besar subsidi Pertalite.

Tapi justru di sini saya mulai khawatir.

Kita sudah pernah mengalami kekacauan yang sama.

Awal 2026, sekitar 11 juta peserta PBI-JKN dinonaktifkan dalam proses pemutakhiran data berbasis DTSEN. Masalahnya, di lapangan muncul warga yang ternyata masih membutuhkan bantuan, termasuk pasien penyakit kronis yang terdampak. Akhirnya pemerintah harus melakukan reaktivasi dan verifikasi ulang. Bahkan sampai beberapa bulan kemudian, sekitar 8,8 juta dari 11 juta data tersebut masih dalam proses validasi lapangan.

Dan ini yang membuat saya berpikir...

Kita mau menggunakan data yang mana untuk mengambil keputusan sebesar ini?

Karena kalau datanya belum beres, jangan heran kalau masyarakat bingung.

Hari ini tercatat desil 5.

Besok berubah jadi desil 7.

Lalu subsidi hilang.

Atau sebaliknya, yang seharusnya berhak malah tidak mendapatkan.

Padahal pemerintah sendiri sudah mengakui masih ada exclusion error dan inclusion error dalam data sosial. DEN, Kemensos, BPS dan berbagai kementerian/lembaga bahkan sedang memperkuat integrasi DTSEN dan digitalisasi bansos untuk memperbaiki masalah ini.

Bahkan Luhut pernah mendorong pemanfaatan AI untuk membuat penyaluran bansos lebih tepat sasaran.

Nah sekarang...

baru beberapa bulan kita masih beresin data desil untuk BPJS.

Sekarang desil mau dipakai lagi untuk menentukan siapa yang boleh menikmati subsidi BBM.

Saya bisa bayangkan ributnya.

Karena masalahnya bukan sekadar Anda desil berapa?

Masalah sebenarnya adalah:

"Apakah data yang menentukan desil Anda benar-benar menggambarkan kondisi Anda hari ini?"

Kalau jawabannya belum...

Jangan heran kalau kebijakan yang niatnya ingin tepat sasaran justru menghasilkan ketidakadilan baru.

Data adalah fondasi.

Kalau fondasinya masih berantakan, jangan buru-buru membangun kebijakan di atasnya.

💬 Buat teman-teman yang mau ikut diskusi soal **AI**, **teknologi**, **data**, **dan transformasi digital Indonesia**, join Tech Voice Indonesia.

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

UU PDP: Risiko Rekam Medis Kertas di Faskes
Digitalisasi Kesehatan

9 Agu2 mnt

UU PDP: Risiko Rekam Medis Kertas di Faskes

Rekam Medis Jadi Bungkus Gorengan. Kedengarannya absurd. Tapi ini beneran kejadian di Thailand. Kertas rekam medis pasien dipakai buat bungkus gorengan. Rumah sakitnya? Kena denda ratusan juta rupiah. Sekarang bayangin…

RME Indonesia: Teknologi Ada, Mindset Tertinggal
Digitalisasi Kesehatan

9 Mei2 mnt

RME Indonesia: Teknologi Ada, Mindset Tertinggal

Rekam Medis Elektronik di Indonesia: Dari Kertas ke Komputer, Tapi Masih Belum Sampai ke Hati. Kalau kamu pernah ke puskesmas, klinik, atau rumah sakit di Indonesia, coba perhatikan baik-baik: Dokternya masih nulis…

Lima Tahun Pasca COVID, Data Obat Masih Gelap
Digitalisasi Kesehatan

29 Sep2 mnt

Lima Tahun Pasca COVID, Data Obat Masih Gelap

5 Tahun Setelah COVID, Sistem Digital Kesehatan Kita Masih Rapuh Saya masih ingat jelas, awal-awal COVID 2020. Mencari obat saja terasa seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Tiga bulan pertama, pemerintah gelap…

Kolegium, Kuasa Kompetensi, dan Krisis Akses
Digitalisasi Kesehatan

10 Mei2 mnt

Kolegium, Kuasa Kompetensi, dan Krisis Akses

Kolegium Ribut Soal Siapa yang Boleh, Sementara Pasien Meninggal Karena Tidak Ada yang Bisa. Saat Pak Budi Gunadi Sadikin bicara di podcast Rosi, saya terdiam cukup lama. Karena untuk pertama kalinya, seseorang di…

Gagal Bangun Startup Vitamin Preventif di 2019
Digitalisasi Kesehatan

12 Mei2 mnt

Gagal Bangun Startup Vitamin Preventif di 2019

Saya Pernah Bangun Startup Preventif Kesehatan. Dan Gagal Total. Tahun 2019, saya dan beberapa rekan, salah satunya Abi Dwiaji Wicahyo, kita FOMO. Kami melihat kesuksesan care/of di Amerika—startup vitamin personalisasi…

← Semua tulisan