Sekarang kita mulai ribut lagi soal DESIL.
Beberapa hari ini timeline ramai. Orang mulai sibuk mencari tahu: "Gue masuk desil berapa?"
Pemicu utamanya karena wacana pembatasan Pertalite untuk kelompok desil 9–10. Pemerintah memang sedang membahas bagaimana subsidi lebih tepat sasaran, karena data menunjukkan kelompok desil 6–10 masih menikmati porsi besar subsidi Pertalite.
Tapi justru di sini saya mulai khawatir.
Kita sudah pernah mengalami kekacauan yang sama.
Awal 2026, sekitar 11 juta peserta PBI-JKN dinonaktifkan dalam proses pemutakhiran data berbasis DTSEN. Masalahnya, di lapangan muncul warga yang ternyata masih membutuhkan bantuan, termasuk pasien penyakit kronis yang terdampak. Akhirnya pemerintah harus melakukan reaktivasi dan verifikasi ulang. Bahkan sampai beberapa bulan kemudian, sekitar 8,8 juta dari 11 juta data tersebut masih dalam proses validasi lapangan.
Dan ini yang membuat saya berpikir...
Kita mau menggunakan data yang mana untuk mengambil keputusan sebesar ini?
Karena kalau datanya belum beres, jangan heran kalau masyarakat bingung.
Hari ini tercatat desil 5.
Besok berubah jadi desil 7.
Lalu subsidi hilang.
Atau sebaliknya, yang seharusnya berhak malah tidak mendapatkan.
Padahal pemerintah sendiri sudah mengakui masih ada exclusion error dan inclusion error dalam data sosial. DEN, Kemensos, BPS dan berbagai kementerian/lembaga bahkan sedang memperkuat integrasi DTSEN dan digitalisasi bansos untuk memperbaiki masalah ini.
Bahkan Luhut pernah mendorong pemanfaatan AI untuk membuat penyaluran bansos lebih tepat sasaran.
Nah sekarang...
baru beberapa bulan kita masih beresin data desil untuk BPJS.
Sekarang desil mau dipakai lagi untuk menentukan siapa yang boleh menikmati subsidi BBM.
Saya bisa bayangkan ributnya.
Karena masalahnya bukan sekadar Anda desil berapa?
Masalah sebenarnya adalah:
"Apakah data yang menentukan desil Anda benar-benar menggambarkan kondisi Anda hari ini?"
Kalau jawabannya belum...
Jangan heran kalau kebijakan yang niatnya ingin tepat sasaran justru menghasilkan ketidakadilan baru.
Data adalah fondasi.
Kalau fondasinya masih berantakan, jangan buru-buru membangun kebijakan di atasnya.
💬 Buat teman-teman yang mau ikut diskusi soal **AI**, **teknologi**, **data**, **dan transformasi digital Indonesia**, join Tech Voice Indonesia.





