Rekam Medis Elektronik di Indonesia:
Dari Kertas ke Komputer, Tapi Masih Belum Sampai ke Hati.
Kalau kamu pernah ke puskesmas, klinik, atau rumah sakit di Indonesia, coba perhatikan baik-baik:
- Dokternya masih nulis pakai pulpen
- Komputernya diisi… bukan oleh dokter, tapi staf lain
- Aplikasi digital? Kadang ada, tapi kadang juga cuma dipajang
Sudah 10 tahun lebih kita bicara soal RME — Rekam Medis Elektronik, tapi yang benar-benar jalan?
Baru sebatas “komputerisasi kertas.” Bukan digitalisasi sepenuhnya.
Sedikit Kita Flashback Evolusinya:
1. Kartu Kertas — warna pink, hijau, putih. (jaman 2010-an ke bawah)
2. Spreadsheet & HIS Software — mulai jadi kebiasaan di rumah sakit besar.
3. Aplikasi Tablet/HP — healthtech sempat coba masuk, tapi banyak gagal.
4. AI & Voice Input — mulai trial, tapi belum jadi standar.
Problemnya? Bukan Teknologinya.
Saya pernah terlibat langsung bikin platform untuk dokter.
Tim kami berdiskusi panjang sekali soal UX terbaik yang bikin dokter mau pakai.
- Sudah pakai ICD-10, SNOMED, sampai auto-suggestion.
- Sudah dicoba pakai template.
- Bahkan pakai input suara.
Tapi… tetap aja:
“Saya lebih nyaman nulis di kertas dulu aja deh. Nanti staf saya yang entry ke sistem.”
Kenapa Digitalisasi RME Begitu Susah?
Karena ini soal mindset, bukan cuma soal tools.
- Dokter terbiasa dengan alur manual
- Di banyak puskesmas/klinik, jam praktek padat, jadi input data dilakukan di akhir sesi
- Sistem rekam medis jadi “beban administratif”, bukan alat bantu klinis
- Tidak ada dorongan nyata dari industri maupun regulator
Akibatnya?
Kita bicara interoperabilitas data… tapi faktanya:
- Data kesehatan masih tersebar
- Pasien pindah rumah sakit, riwayatnya hilang
- Startup healthtech pun menyerah di tengah jalan
Dan sekarang?
Inisiator awal digitalisasi RME seperti… mulai kehilangan nafas.
Jadi, Solusinya Apa?
Kalau kita serius dengan digitalisasi kesehatan:
Harus ada kekuatan besar yang nggak hanya bikin sistem, tapi juga ngubah mindset.
Harus ada kolaborasi besar:
- Regulator
- Rumah Sakit
- Klinik
- Tech Players
- Dan tentu saja… para dokter.
Tanpa itu?
Ya mungkin kita cuma ganti kertas jadi Excel — tapi gak pernah benar-benar digital.
Kalau kamu punya pengalaman juga membangun sistem digital di dunia medis, atau penasaran kenapa banyak healthtech gagal menembus dunia kesehatan — yuk ngobrol!
→ Ngobrol bareng saya soal digitalisasi kesehatan di sini https://lnkd.in/gwVDP9rE
→ Join Tech Voice Indonesia – Komunitas anak digital & healthtech https://lnkd.in/gR4hdQhf





