Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

Kolegium, Kuasa Kompetensi, dan Krisis Akses

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Kolegium, Kuasa Kompetensi, dan Krisis Akses

Kolegium Ribut Soal Siapa yang Boleh, Sementara Pasien Meninggal Karena Tidak Ada yang Bisa.

Saat Pak Budi Gunadi Sadikin bicara di podcast Rosi, saya terdiam cukup lama.

Karena untuk pertama kalinya, seseorang di posisi tertinggi di Kementerian Kesehatan berani bicara apa yang selama ini jadi rahasia umum:
Bahwa pelayanan kesehatan di Indonesia bukan cuma soal kompetensi. Tapi soal kekuasaan.

💉 Contohnya?

Di 514 kabupaten/kota di Indonesia, layanan cuci darah (hemodialisa) itu sangat terbatas.
Bukan karena alatnya nggak ada.
Bukan karena pasiennya nggak butuh.
Tapi karena… yang boleh melakukan hanya segelintir orang: dokter spesialis penyakit dalam subspesialis ginjal (Sp.PD-KGH).

Padahal?
Dulu banyak dokter penyakit dalam biasa yang bisa.
Bahkan dulu... dokter umum bisa bantu persalinan sesar.

Tapi sekarang?
Kompetensi-kompetensi itu ditarik ke atas.
Semakin lama, semakin sedikit yang boleh.
Dan itu semua ditentukan oleh... kolegium.

🧠 Kalau pakai alasan “pasien safety”, kita harus bertanya:
Kalau yang “aman” hanya bisa dilakukan di 10 kota besar,
bagaimana nasib masyarakat di 500 kota lainnya?

Kalau yang “berhak” hanya mereka yang sudah 15 tahun sekolah,
apakah rakyat harus menunggu sampai dokter itu datang?

BGS bilang dengan sangat lugas:
Saya ingin ilmunya diturunkan ke bawah.
Supaya makin banyak yang bisa melayani masyarakat.”

Karena menurut beliau, yang harus dijaga bukan hanya standar, tapi juga akses.

Dan semua itu tidak akan tercapai
kalau ilmunya ditarik terus ke atas —
sementara rakyatnya… ditinggal di bawah.

Di sinilah kita paham, kenapa digitalisasi pun terhambat.
Karena digitalisasi = keterbukaan
Dan keterbukaan = ancaman bagi mereka yang ingin menjaga otoritas tertutup.

SATUSEHAT? Interoperabilitas? Akses data pasien?
Gak akan benar-benar jalan
…kalau mindset kita masih “yang boleh hanya saya.”

Feodalisme di dunia kesehatan nyata adanya.
Dan kalau tidak ada yang berani bersuara,
kita akan terus bicara soal “pasien safety” —
sambil membiarkan pasien meninggal karena gak ada dokter yang boleh bantu.

✅ Mau ngobrol lebih lanjut soal transformasi layanan kesehatan & struktur kekuasaan di sektor medis?

✅ Gabung Tech Voice Indonesia — komunitas untuk tech thinker, praktisi digital, dan penggerak pelayanan publik  
→ techvoiceindonesia.org

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

← Semua tulisan