Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

Kenapa Banyak Pasien Indonesia Pilih Penang

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Kenapa Banyak Pasien Indonesia Pilih Penang

Kalau mau berobat yang manusiawi, mending ke Penang aja.
Pernah dengar kalimat ini?

Saya sudah dengar berkali-kali.
Dari orang tua. Teman. Bahkan dari orang dalam industri kesehatan itu sendiri.

Dan itu bukan cuma soal harga.
Tapi karena pengalaman.

Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan teman yang kerja di jasa medical travel ke Penang.
Dia cerita gimana rumah sakit di sana benar-benar menerapkan patient-centric system.
Bukan cuma jargon. Tapi dijalankan dari lini terdepan sampai dokter.

  • Proses dari registrasi sampai pembayaran itu seamless.
  • Rumah sakitnya sudah terkoneksi langsung ke sistem asuransi (host-to-host).
  • Pasien nggak perlu nunggu lama.
  • Dan yang paling penting—pasien dianggap manusia. Diperlakukan layak.

Bayangkan, biaya PET scan di Penang cuma sekitar Rp 4 juta,
di Jakarta bisa tembus Rp 1418 juta karena dipaketin macam-macam.
Operasi jantung bypass di Penang up to Rp 200 juta,
di RS swasta Jakarta bisa up to Rp 500 juta.

Kenapa bisa lebih murah?
Karena sistemnya terbuka dan transparan.
Bukan bundling asal-asalan yang seringkali nggak perlu.

Dan kalau kita bicara digitalisasi—mereka udah jauh di depan.
Interop sistem antar RS, asuransi, laboratorium, semua jalan.
Bukan sekadar aplikasi tempelan.

Tapi, ini bukan cerita soal teknologi.
Ini cerita soal people & mindset.

Karena kalau orangnya niat,
sistem dan teknologi akan jalan.
Tapi kalau mindset-nya masih soal fee dokter, markup harga obat, dan antrian panjang?
Ya gini-gini aja.

Saya nggak anti rumah sakit dalam negeri.
Tapi kita perlu jujur bahwa sistem kita belum berpihak pada pasien.
Dan itu harus diubah dari hulu ke hilir.
Bukan dari proyek IT, tapi dari pola pikir seluruh stakeholder.

🏥 Obat, RS, BPJS, dokter, asuransi, pemerintah—ngobrolnya jangan pas rame doang.
📊 Bangun ekosistem yang bikin pasien tenang dan sehat, bukan makin stres.

Karena kalau terus begini,
ya wajar aja banyak yang pilih ke Penang.

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

BPJS Berbayar, Tapi Pasien Tetap Dipersulit
Digitalisasi Kesehatan

9 Mei2 mnt

BPJS Berbayar, Tapi Pasien Tetap Dipersulit

BPJS Bukan Gratis, Tapi Kok Rasanya Diperlakukan Seperti Gratisan? Kalau denger kata BPJS Kesehatan, apa yang langsung terlintas di kepala? “Antrian.” “Ribet.” Dan sayangnya… ya memang begitu kenyataannya. Saya pernah…

AI Buat Rekam Medis? Sudah Bisa, Tinggal Dokternya Mau atau Nggak
Digitalisasi Kesehatan

19 Mei2 mnt

AI Suara untuk EMR: Tantangan Adopsi Dokter

AI Buat Rekam Medis? Sudah Bisa, Tinggal Dokternya Mau atau Nggak. Salah satu tantangan terbesar digitalisasi rekam medis di Indonesia adalah pembiasaan dokter. Banyak rumah sakit dan klinik sudah punya sistem…

Smart Claim BPJS dan Turunnya Dispute Klaim RS
Digitalisasi Kesehatan

5 Jun2 mnt

Smart Claim BPJS dan Turunnya Dispute Klaim RS

Smart Claim BPJS: Biang Kerok Pelayanan Buruk, Akhirnya Dibenerin Juga? Kemarin saya ketemu vendor software SIM-RS (Sistem Informasi Rumah Sakit) yang cerita pengalaman mereka soal implementasi Smart Claim BPJS. Ini…

Ekosistem Inovasi Kesehatan Gagal, Mulai dari Mana
Digitalisasi Kesehatan

15 Jun2 mnt

Ekosistem Inovasi Kesehatan Gagal, Mulai dari Mana

80 Tahun Gagal Bangun Ekosistem Kesehatan? Ya Salah Menteri. Iya. Ini semua salah Pak Menteri Kesehatan. Beliau yang harusnya: Sinkronkan seluruh Dinas Kesehatan di daerah Samakan visi BPJS, asuransi swasta, dan rumah…

Health-tech Indonesia: Bukan Industri Siap Disrupsi
Digitalisasi Kesehatan

27 Mei2 mnt

Health-tech Indonesia: Bukan Industri Siap Disrupsi

10 Tahun Health-Tech: Kita Harus Jujur, Ini Bukan Disrupsi. 2017–2020, startup kesehatan bermunculan: Alodokter, Halodoc, KlikDokter, SehatQ, Farmaku, Lifepack, dan lainnya. Investor pun ramai masuk. Valuasi naik…

← Semua tulisan