Kalau mau berobat yang manusiawi, mending ke Penang aja.
Pernah dengar kalimat ini?
Saya sudah dengar berkali-kali.
Dari orang tua. Teman. Bahkan dari orang dalam industri kesehatan itu sendiri.
Dan itu bukan cuma soal harga.
Tapi karena pengalaman.
Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan teman yang kerja di jasa medical travel ke Penang.
Dia cerita gimana rumah sakit di sana benar-benar menerapkan patient-centric system.
Bukan cuma jargon. Tapi dijalankan dari lini terdepan sampai dokter.
- Proses dari registrasi sampai pembayaran itu seamless.
- Rumah sakitnya sudah terkoneksi langsung ke sistem asuransi (host-to-host).
- Pasien nggak perlu nunggu lama.
- Dan yang paling penting—pasien dianggap manusia. Diperlakukan layak.
Bayangkan, biaya PET scan di Penang cuma sekitar Rp 4 juta,
di Jakarta bisa tembus Rp 14–18 juta karena dipaketin macam-macam.
Operasi jantung bypass di Penang up to Rp 200 juta,
di RS swasta Jakarta bisa up to Rp 500 juta.
Kenapa bisa lebih murah?
Karena sistemnya terbuka dan transparan.
Bukan bundling asal-asalan yang seringkali nggak perlu.
Dan kalau kita bicara digitalisasi—mereka udah jauh di depan.
Interop sistem antar RS, asuransi, laboratorium, semua jalan.
Bukan sekadar aplikasi tempelan.
Tapi, ini bukan cerita soal teknologi.
Ini cerita soal people & mindset.
Karena kalau orangnya niat,
sistem dan teknologi akan jalan.
Tapi kalau mindset-nya masih soal fee dokter, markup harga obat, dan antrian panjang?
Ya gini-gini aja.
Saya nggak anti rumah sakit dalam negeri.
Tapi kita perlu jujur bahwa sistem kita belum berpihak pada pasien.
Dan itu harus diubah dari hulu ke hilir.
Bukan dari proyek IT, tapi dari pola pikir seluruh stakeholder.
🏥 Obat, RS, BPJS, dokter, asuransi, pemerintah—ngobrolnya jangan pas rame doang.
📊 Bangun ekosistem yang bikin pasien tenang dan sehat, bukan makin stres.
Karena kalau terus begini,
ya wajar aja banyak yang pilih ke Penang.





