10 Tahun Health-Tech: Kita Harus Jujur, Ini Bukan Disrupsi.
2017–2020, startup kesehatan bermunculan:
Alodokter, Halodoc, KlikDokter, SehatQ, Farmaku, Lifepack, dan lainnya.
Investor pun ramai masuk. Valuasi naik. Pendanaan datang bertubi-tubi.
2020–2023 adalah masa puncak.
Tapi dari puncak itu… kita jatuh.
2024–2025:
Startup kesehatan satu per satu tiarap.
Beberapa pivot ke B2B. Beberapa hibernate.
Beberapa tetap bertahan — tapi dengan energi yang jauh berbeda.
Sekarang kita masuk era baru:
Era AI, era intelligence.
Tapi ironisnya?
Anak-anak muda AI pun banyak yang masuk ke sektor kesehatan — tanpa tahu bahwa
kesehatan di Indonesia belum pernah benar-benar berubah.
Kalau kamu founder AI dan tertarik main ke health-tech,
berhenti dulu sejenak.
Lihat ke belakang. Pelajari kenapa para pendahulu tumbang.
Bukan karena mereka bodoh.
Bukan karena teknologinya lemah.
Tapi karena bukan industri yang siap disrupsi.
Kita akan bahas lebih dalam soal ekosistem dan jalan masuk yang masuk akal di tulisan-tulisan berikutnya — sebagai pelengkap dari refleksi ini.
Kalau kamu pengen tahu lebih detail soal
- Cara jalur atau membuka jalan ke stakeholder kesehatan,
- Gimana nyusun go-to-market health-tech yang realistis,
- Apa yang perlu dihindari dari pengalaman para pendahulu...
➡️ Follow atau connect aja dulu.
Nanti akan saya share insight-insight berikutnya di sini.
📩 Atau kalau pengen diskusi lebih cepat, bisa langsung DM
🟡 Gabung juga komunitas Tech Voice Indonesia





