Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

Data Publik Tersandera Vendor dan Proyek Aplikasi

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Data Publik Tersandera Vendor dan Proyek Aplikasi

Data Punya Rakyat. Tapi Tersandera Vendor.
Saya baru saja diskusi dengan teman-teman dari Kementerian Kesehatan dan Bappenas.

Kami sepakat:
Lebih dari 1 dekade ini, kita latah bikin proyek digital — tapi hasilnya?
Digital bukan benaran digital.
Hanya PROJEK.

Dari penunjukan langsung di bawah 200 juta sampai proyek triliunan rupiah,
game-nya sama:
➤ Bikin sistem
➤ Serah terima
➤ Lanjut proyek lain
➤ Vendor hilang

10 tahun kemudian, kita baru sadar.
Yang tertinggal bukan ekosistem digital,
tapi ratusan aplikasi tak terurus.

Contoh nyatanya?
Di Kementerian Kesehatan saja, sempat ada >400 aplikasi aktif.
Ya, 400!

Beberapa dibuat oleh vendor yang… sekarang bahkan sudah bubar.

  • Mau integrasi? Gagal.
  • Mau dikembangkan? Bingung.
  • Ada bug? Ya udah, didoakan saja.

Lebih gila lagi, banyak vendor pakai subkon berlapis.
Jadi ketika proyek selesai, jejaknya pun hilang.

Untungnya, setelah pandemi, Kemenkes mulai sadar cepat.
Sejak 2022, mereka bereskan pelan-pelan:
Dari ratusan aplikasitinggal puluhan.

Dan beberapa waktu lalu saya hadir di acara CIO Healthcare,
di mana Pak Budi Gunadi Sadikin bilang:

"Kalau bisa, sederhanakan jadi 4–5 aplikasi utama saja."

Kenapa?

  • Efisiensi
  • Fokus
  • SDM bisa diatur
  • Tidak tergantung vendor lagi

Bappenas juga cerita hal serupa.
Di bawah Direktorat Satu Data Indonesia, mereka pusing:
Data di seluruh KL dan Pemda terserak di puluhan ribu sistem.
Format beda-beda. Protokol beda-beda.
Dan banyak yang tersandera oleh arsitektur vendor.

Mau kurasi data?
Butuh waktu dan orang yang... nggak mungkin cukup.

Semua ini bukan karena kita bodoh.
Tapi karena dari awal kita salah niat.
Kita bangun digitalisasi seperti main proyek fisik:
Bikin dulu, urusan maintain nanti.
Yang penting anggaran cair.

Tapi sekarang, kita harus balik arah.

  • Tata kelola data
  • Platform terstruktur
  • Interoperabilitas sejak desain
  • Akses publik yang jelas
  • Ownership tetap di negara, bukan vendor

Kalau kamu orang KL, Pemda, atau bahkan korporasi yang mulai frustasi dengan fragmentasi data,
Yuk ngobrol.

Saya sedang inisiasi proyek untuk bagian ini.
Bukan proyek digital2an.
Tapi membangun pondasi agar data benar-benar jadi milik rakyat, bukan milik vendor.

🟡 Mau mulai nulis di LinkedIn tapi bingung? https://lnkd.in/gcPxaRkn

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

AdMedika Dijual dan Rumitnya Sistem TPA Asuransi
Digitalisasi Kesehatan

6 Jun2 mnt

AdMedika Dijual dan Rumitnya Sistem TPA Asuransi

AdMedika Dijual? TPA Itu Sebenarnya Apa Sih? Bloomberg sempat rilis kabar panas: Telkom katanya mau jual AdMedika senilai USD 100 juta (Rp1,6 triliun). Sebagai orang yang pernah bikin healthtech, saya langsung mikir…

Blueprint Digital Kesehatan Tak Cukup Tanpa Kolaborasi
Digitalisasi Kesehatan

4 Mei2 mnt

Blueprint Digital Kesehatan Tak Cukup Tanpa Kolaborasi

Dulu saya berpikir blueprint ini akan jadi jawaban. Sekarang saya sadar, tidak segampang itu kawan. Tahun 2022 saya mendapatkan dokumen resmi peta jalan transformasi digital kesehatan dari Kemenkes. Blueprint ini…

Kita Sudah Masuk Fase Darurat Gula.
Digitalisasi Kesehatan

15 Apr2 mnt

Kita Sudah Masuk Fase Darurat Gula.

Kita Sudah Masuk Fase Darurat Gula. Dan ini bukan opini. Ini realita yang pelan-pelan jadi normal. Beberapa waktu lalu saya sempat bahas fenomena kopi kekinian. Minuman yang isinya bukan lagi kopi— tapi gula dengan…

Kenapa Digitalisasi Healthcare di Indonesia Banyak Gagal?
Digitalisasi Kesehatan

13 Apr2 mnt

Kenapa Digitalisasi Healthcare di Indonesia Banyak Gagal?

Kenapa Digitalisasi Healthcare di Indonesia Banyak Gagal? Bukan karena budget. Bukan karena teknologi. Tapi karena mindset dan execution yang belum siap. Beberapa waktu lalu saya coba langsung layanan kesehatan dasar…

Kolegium, Kuasa Kompetensi, dan Krisis Akses
Digitalisasi Kesehatan

10 Mei2 mnt

Kolegium, Kuasa Kompetensi, dan Krisis Akses

Kolegium Ribut Soal Siapa yang Boleh, Sementara Pasien Meninggal Karena Tidak Ada yang Bisa. Saat Pak Budi Gunadi Sadikin bicara di podcast Rosi, saya terdiam cukup lama. Karena untuk pertama kalinya, seseorang di…

← Semua tulisan