Kenapa Digitalisasi Healthcare di Indonesia Banyak Gagal?
Bukan karena budget.
Bukan karena teknologi.
Tapi karena mindset dan execution yang belum siap.
Beberapa waktu lalu saya coba langsung layanan kesehatan dasar.
Pakai BPJS Kesehatan, daftar lewat Mobile JKN, pilih faskes, poli, jadwal dokter, isi keluhan. Di atas kertas, semuanya terlihat “digital”.
Walaupun dari sisi UI/UX masih jauh dari standar aplikasi yang kita pakai sehari-hari.
Tapi ya sudah, kita lanjut.
Saya lihat di aplikasi:
Antrean: 0
Sisa antrean: 0
Ekspektasi saya sederhana: “wah, sepi ini.”
Sampai di puskesmas.
Penuh.
Ramai.
Orang antre di mana-mana.
Ekspektasi langsung jatuh.
Saya masuk, diarahkan ke registrasi online. Nomor saya dicek.
Jawabannya:
“Pak, ini sudah dipanggil dan selesai.”
Padahal saya baru datang.
Akhirnya diminta langsung ke ruang skrining, cari sendiri, lalu diminta keluar lagi untuk menunggu dipanggil ulang.
Beberapa menit kemudian, nama saya dipanggil lewat mic.
Bukan nomor antrean.
Nama.
⸻
Di skrining, data saya sudah masuk. Nama dan tanggal lahir valid.
Artinya, sistem sebenarnya sudah ada dan terhubung.
Tapi setelah itu, semuanya kembali manual.
Tidak ada layar antrean.
Tidak ada informasi progress.
Tidak ada kepastian kapan dipanggil.
Yang ada hanya:
MIC
“Bapak ini ke poli…”
“Ibu ini ke farmasi…”
Saut-sautan.
Selama hampir 2 jam, saya hanya memastikan satu hal:
jangan sampai nama saya terlewat.
⸻
Dari masuk pukul 09.00 sampai pegang obat pukul 12.30.
Total waktu: 3 jam 30 menit.
Masalahnya bukan tidak ada teknologi.
Sebagian sudah ada.
Tapi tidak terpakai secara utuh.
Di atas ada aplikasi.
Di lapangan, kembali ke cara lama.
Dalam satu alur saja, ada banyak pihak:
BPJS Kesehatan, Dinas Kesehatan, Kementerian Kesehatan.
Strukturnya kompleks, dan sering berjalan sendiri-sendiri.
Yang tidak terintegrasi bukan teknologinya.
Tapi cara kerjanya.
Makanya kita sering terlalu cepat lompat ke:
AI, big data, automation.
Padahal di lapangan:
- workflow belum efisien
- koordinasi belum jalan
- resource terbatas
- dan problem people masih dominan
Teknologi akhirnya hanya jadi lapisan atas.
Begitu masuk ke fasilitas layanan, semuanya kembali manual.
Ini kenapa banyak digitalisasi berhenti di tengah jalan.
Karena yang dibangun:
sistemnya duluan, bukan cara kerjanya.
Kalau fondasinya belum beres, teknologi secanggih apa pun tidak akan banyak mengubah hasil.
Digitalisasi healthcare bukan gagal karena tidak mampu.
Tapi karena belum siap secara fundamental.
⸻
🟡 Kalau kamu ada di ekosistem layanan kesehatan—klinik, rumah sakit, apotek, atau platform—ini problem yang masih bisa diperbaiki.
Dan sudah ada contoh digitalisasi yang berhasil, tapi juga banyak yang gagal. Yuk DM saya.





