Digitalisasi Kesehatan: Masih Jalan di Tempat?
Tahun lalu saya sempat pindah rumah sakit sampai 4 kali.
Setiap pindah, saya harus screening ulang —
ulang lagi isi form, ulang lagi cerita riwayat sakit, ulang lagi semua tes yang sama.
Capek? Banget.
Kadang harus bawa map yang isinya surat2 dari rumah sakit sebelumnya, bawa hasil rontgen dan lainnya buat ditunjukin ke dokter.
Yang bikin heran — koq rumah sakit tidak bisa membaca catatan kesehatan saya sebelumnya.
Dokter yang memeriksa saya selalu menganggap saya pasien baru —
seolah-olah saya nggak pernah punya riwayat sakit apa pun sebelumnya.
Padahal saya tahu banget —
sejak 2022, Kementerian Kesehatan sudah mewajibkan semua faskes dan layanan kesehatan untuk terintegrasi dengan platform Satusehat
(seperti yang diatur di Permenkes No. 24 Tahun 2022).
Batas awalnya Desember 2023, lalu diperpanjang sampai akhir 2024.
Tapi sampai sekarang?
Interoperabilitas belum berjalan.
Sabar ya, katanya.
Iya, di atas kertas ada data rumah sakit yang sudah terkoneksi atau teregistrasi —
tapi di lapangan?
Belum terasa apa-apa.
Tidak ada yang bergerak. Satusehat-nya seakan-akan mandek di tengah jalan.
Sebagai pemain di healthtech, saya awalnya optimis.
Waktu inisiatif digitalisasi diluncurkan Pak BGS (Budi Gunadi Sadikin),
saya berharap program ini bisa lanjut di periode berikutnya.
Tapi sepertinya berat.
Karena hampir semua stakeholder kesehatan masih belum mau move on.
Selalu saja yang dikedepankan:
“Ini masalah safety.”
“Ini masalah confidentiality.”
“Ini soal kompetensi.”
Padahal semua itu sebenarnya justru semakin menguatkan alasan untuk digitalisasi & interoperabilitas.
Terus gimana dong?
1️⃣ Dorong terus Pak Menteri Kesehatan untuk ambil alih kembali tim akselerasi digitalisasi kesehatan.
Kalau memang Peruri atau ina.digital tidak punya kapasitas, kembalikan ke kementerian yang lebih paham sektor ini.
2️⃣ Kalau Pak Menteri Kesehatan juga tidak punya kapasitas atau bandwidth lagi,
ajak swasta untuk urun rembuk menuntaskan Satusehat yang sudah setengah jalan ini.
3️⃣ Kalau semua gagal?
Ya sudah:
➡️ Sistem feodal, feodal, feodal.
➡️ Kita antri panjang.
➡️ Kita screening ulang terus.
➡️ Harga makin mahal.
➡️ Dan paling penting: jangan pernah sakit.
Kalau kamu punya keresahan yang sama,
atau ingin ngobrol lebih dalam soal digitalisasi kesehatan,
DM saya — kita bikin sarasehan online atau diskusi bareng di https://lnkd.in/gwVDP9rE
Atau gabung ke komunitas Tech Voice Indonesia —
ruang diskusi praktisi yang serius mikirin solusi.
👉 https://lnkd.in/gR4hdQhf





