Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

Margin Apotek Terlihat Besar, Tapi Banyak Boncos

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Margin Apotek Terlihat Besar, Tapi Banyak Boncos

Apotek: Bisnis yang Katanya Menggiurkan, Nyatanya Banyak yang Boncos

Dulu, saya pernah tergiur buka apotek.
Dari luar, kelihatannya ini bisnis “cuan” gila-gilaan.

  • Margin antara HNA (Harga Nett Apotek) dan HET (Harga Eceran Tertinggi) bisa sampai 25%.
  • Belum lagi diskon pengadaan obat dari supplier: 1025%.

Kalau dihitung cepat, bisa dapat keuntungan kotor sampai 50%.
Siapa yang nggak kepincut?

Tapi setelah dijalani, realitanya jauh dari manis.
1Main di obat bebas & OTC → pemain online banting harga, bahkan jual di bawah HNA.
2Main di obat branded (ethical) → aturannya ketat, nggak bisa promo, nggak bisa diskon. Ujung-ujungnya, banyak yang jadi dead stock.

Lalu biasanya yang terjadi?

  • Jadi panel: jual kulakan ke dokter, klinik, atau RS.
  • Lempar barang ke pedagang gelap (ya, termasuk ke Pasar Pramuka).
  • Jual ke “distributor bayangan” yang punya akses ke luar Jawa.

Dari luar kelihatan margin bisa 50%, tapi di neraca… boncos, boss.

Kenapa?
Karena peta distribusi obat di Indonesia ini semrawut.
Terlalu banyak “pemain di tengah” yang bikin rantai pasok panjang, biaya tinggi, dan harga obat ke masyarakat jadi mahal.

Pabrik nggak bisa fleksibel memproduksi sesuai demand, sementara pasar di ujung malah keteteran atau kelebihan stok. Ini jadi masalah klasik yang nggak pernah benar-benar tuntas.

Sekarang ada gebrakan baru: Koperasi Desa Merah Putih (Apotek Desa).
Targetnya 10.000 apotek dalam 1–2 bulan.
Bahkan ada janji harga 20% lebih murah dari ritel modern.

Saya sih lihatnya ini seperti proyek “Roro Jonggrang”.
Kenapa?
Karena masalah fundamentalnya belum dibereskan: distribusi obat kita masih tidak efisien dan belum bisa membaca demand sebenarnya di lapangan.

Kalau fondasi ini belum kuat, program sebesar ini bisa jadi bumerang.
Apalagi kalau janji harga lebih murah itu ternyata sulit dijaga konsistensinya.

🟡 Kalau mau ngobrol lebih dalam soal digitalisasi apotek dan bagaimana teknologi bisa merapikan rantai distribusi obat di Indonesia, DM saja.

Kita bahas sampai ke akar-akarnya.

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

← Semua tulisan