Resep Digital Harusnya Bisa Jadi Kunci.
Tapi Kenapa Gak Pernah Jadi Nyata?
Lebih dari satu dekade terakhir,
rumah sakit di Indonesia sudah pakai sistem informasi sendiri-sendiri.
Formatnya beda-beda, caranya beda-beda.
Seolah semua berjalan di jalannya masing-masing.
Lalu datang gelombang health-tech:
telemedicine, teleconsultation, hingga pandemi COVID.
Semua stakeholder dipaksa online.
Dan saat itu baru kelihatan — betapa kacaunya data kita.
Saat COVID, kita bahkan gak punya data dasar yang rapi:
- Data obat
- Data dokter
- Data faskes
Akhirnya dibuat cara darurat:
Semua apotek wajib kirim data stok obat COVID via API.
Pemerintah bikin dashboard ketersediaan obat per area.
Dari “gelap total” jadi “abu-abu” —
tapi cukup untuk menyelamatkan nyawa.
Sayangnya… begitu COVID mereda,
momentum itu hilang.
Satusehat memang sempat naik,
tapi sebentar saja.
Culture & mindset balik lagi ke manual,
main sendiri-sendiri, format sendiri-sendiri.
Rekam Medis Elektronik (RME) sudah ada,
lumayan banyak yang comply.
Tapi untuk melangkah lebih jauh?
Stuck.
Salah satu yang paling terbengkalai adalah e-resep.
Padahal ini krusial — ujungnya sampai ke pasien.
Standar kode nasional (KFA) sudah ada.
Tapi implementasinya? Gembos.
Padahal kalau pencatatan resep terintegrasi secara nasional:
- Bisa deteksi real demand
- Memonitor supply chain dari hulu ke hilir
- Mencegah permainan kartel & perputaran palsu
Sekarang?
- Sistem pencatatan masih terpisah-pisah
- Masih Banyak yang manual
- Tidak ada standar interoperabilitas
Akibatnya:
- Stakeholder gak bisa analisis data
- SCM obat boros & tidak efisien
- Harga obat membengkak — pasien yang menanggung
Kalau kamu tertarik ngobrol soal data kesehatan,
saya dan beberapa rekan yang punya latar belakang teknologi kesehatan,
bersama tim data engineer, data analyst, dan data scientist,
sedang merekatkan kembali puzzle data kesehatan Indonesia.
Tujuannya?
Untuk riset, untuk kepentingan komersil yang sehat,
dan pada akhirnya untuk memberi manfaat luas —
mulai dari rantai pasok yang efisien, hingga harga obat yang jauh lebih terjangkau.
Yuk ngobrol dengan saya.





