Startup Healthtech Gagal Bukan Karena Teknologi. Tapi Karena Masyarakatnya Belum Siap.
Saya pernah membangun startup di sektor kesehatan.
dan fail.
Bukan karena aplikasinya jelek.
Bukan karena timnya kurang pintar.
Bukan juga karena tidak ada kebutuhan.
Tapi karena satu hal yang berat sekali dilawan:
Literasi kesehatan masyarakat kita sangat rendah.
Di Indonesia, hanya 39,9% penduduk yang pernah melakukan skrining penyakit tidak menular.
95,5% orang Indonesia tidak makan buah dan sayur sesuai anjuran harian.
1 dari 3 orang dewasa merokok.
Dan konsumsi gula serta garam — jauh melampaui batas normal.
Konsekuensinya?
Angka hipertensi, diabetes, dan stroke terus naik.
Dan biaya kesehatan untuk penyakit-penyakit ini sudah tembus Rp24 triliun per tahun — hanya dari klaim BPJS!
Yang lebih menyedihkan:
Kesadaran baru muncul setelah terkena penyakit.
Baru mulai cari informasi.
Baru tanya-tanya soal gaya hidup sehat.
Baru mulai peduli — setelah tubuh memberi peringatan keras.
Padahal yang kita hadapi ini penyakit tidak menular (PTM).
Dan jawabannya cuma satu: pencegahan.
Sayangnya, hampir semua orang lebih memilih menunggu sakit dulu baru sadar.
Ini bukan cuma masalah gaya hidup.
Ini adalah akumulasi dari kegagalan jangka panjang edukasi kesehatan di masyarakat.
Dan saat swasta masuk untuk bantu lewat inovasi digital, healthtech, bahkan AI sekalipun,
yang dihadapi pertama adalah:
- Rendahnya kesadaran.
- Penolakan terhadap pemeriksaan dini.
- Tidak ada perubahan gaya hidup meski ada akses teknologi.
Kalau kita ingin masa depan kesehatan yang lebih cepat, lebih tepat, dan lebih aman —
kita harus mulai dari sadar. Dari literasi.
Bukan cuma literasi baca tulis. Tapi literasi hidup sehat.
Kesehatan itu keputusan harian — dari isi piring sampai aktivitas tubuh.
Dan keputusan itu perlu pengetahuan yang benar.
Saya terbuka untuk ngobrol, diskusi, bahkan mentoring:
💬 Soal tantangan literasi kesehatan
🧠 Pengembangan startup healthtech
🤖 Peluang AI dalam pencegahan & edukasi masyarakat
Kalau kamu juga sedang bangun sesuatu di sektor ini — yuk connect.





