Kenapa Startup Health-Tech Susah Survive di Indonesia?
Lihatlah teknologi yang lagi digarap di luar sana:
- Alat deteksi hipertensi berbasis AI, bisa melacak akar masalah sampai tuntas.
- Device dan software untuk HIV, Hepatitis, Malaria, Dengue.
- AI analisis X-Ray dengan akurasi tinggi, gold standard untuk dokter.
Semua ini sudah proven, sudah ada investornya, bahkan ada yang sudah dipakai di negara lain.
Tapi ketika masuk ke Indonesia?
Temboknya selalu sama: birokrasi yang tinggi, procurement penuh kepentingan, dan mindset transaksional yang menyedihkan.
Beberapa waktu lalu saya ketemu orang2 yang lagi mengembangkan teknologi kesehatan berbasis device dan AI. Mereka semangatnya luar biasa, validasi pasarnya juga jelas.
Tapi begitu bicara soal adopsi di Indonesia, mereka semua bilang hal yang sama:
“Mas, temboknya tinggi banget. Rasanya kok lebih gampang jual ke luar negeri daripada ke rumah sakit di sini.”
Dan saya hanya bisa mengangguk. Karena ini realita.
Kalau keputusan layanan kesehatan selalu ditarik ke ekstrim kepentingan masing-masing — “ini area saya, ikuti aturan saya, bayar saya” — ya status quo akan terus berlanjut. Ujungnya? Pelayanan makin kaku, inovasi mandek, pasien jadi korban.
Padahal kalau decision maker di RS, Dinkes, Kemenkes, BPJS mau sedikit turunkan ego, pasti ada jalan tengah.
Jangan melulu hitungannya “wani piro”.
Harusnya pertanyaan besarnya: “apa dampak nyata untuk pasien?”
Jangan kaget kalau investor akhirnya lebih percaya ke market luar negeri. Kita kehilangan peluang emas, bukan karena kurang teknologi, tapi karena mentalitas kita sendiri.
🟡 Mau mulai belajar gimana memaksimalkan AI tools kayak ChatGPT, Gemini, Gamma? 👉 bit.ly/3KoUozr
🟡 Buat software engineer, ikuti sesi gratis AI for Engineers bit.ly/4nRpi1A





