Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

Birokrasi dan Mindset Hambat Startup Health-Tech

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Birokrasi dan Mindset Hambat Startup Health-Tech

Kenapa Startup Health-Tech Susah Survive di Indonesia?

Lihatlah teknologi yang lagi digarap di luar sana:

  • Alat deteksi hipertensi berbasis AI, bisa melacak akar masalah sampai tuntas.
  • Device dan software untuk HIV, Hepatitis, Malaria, Dengue.
  • AI analisis X-Ray dengan akurasi tinggi, gold standard untuk dokter.

Semua ini sudah proven, sudah ada investornya, bahkan ada yang sudah dipakai di negara lain.
Tapi ketika masuk ke Indonesia?
Temboknya selalu sama: birokrasi yang tinggi, procurement penuh kepentingan, dan mindset transaksional yang menyedihkan.

Beberapa waktu lalu saya ketemu orang2 yang lagi mengembangkan teknologi kesehatan berbasis device dan AI. Mereka semangatnya luar biasa, validasi pasarnya juga jelas.
Tapi begitu bicara soal adopsi di Indonesia, mereka semua bilang hal yang sama:
Mas, temboknya tinggi banget. Rasanya kok lebih gampang jual ke luar negeri daripada ke rumah sakit di sini.”

Dan saya hanya bisa mengangguk. Karena ini realita.
Kalau keputusan layanan kesehatan selalu ditarik ke ekstrim kepentingan masing-masing — “ini area saya, ikuti aturan saya, bayar saya” — ya status quo akan terus berlanjut. Ujungnya? Pelayanan makin kaku, inovasi mandek, pasien jadi korban.

Padahal kalau decision maker di RS, Dinkes, Kemenkes, BPJS mau sedikit turunkan ego, pasti ada jalan tengah.
Jangan melulu hitungannya “wani piro”.
Harusnya pertanyaan besarnya: “apa dampak nyata untuk pasien?”

Jangan kaget kalau investor akhirnya lebih percaya ke market luar negeri. Kita kehilangan peluang emas, bukan karena kurang teknologi, tapi karena mentalitas kita sendiri.

🟡 Mau mulai belajar gimana memaksimalkan AI tools kayak ChatGPT, Gemini, Gamma? 👉 bit.ly/3KoUozr  
🟡 Buat software engineer, ikuti sesi gratis AI for Engineers bit.ly/4nRpi1A

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

Sebelum tanya:
Digitalisasi Kesehatan

16 Mei2 mnt

Sebelum tanya:

Sebelum tanya: “bagaimana cara mulai pakai AI di perusahaan kita?” ada dua pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting. Dan jujur, banyak organisasi belum siap menjawabnya. Saya sudah lebih dari 20 tahun masuk ke…

Duri Regulasi di Balik Healthtech Indonesia
Digitalisasi Kesehatan

2 Mei2 mnt

Duri Regulasi di Balik Healthtech Indonesia

Dari Luar Terlihat Mudah, Dari Dalam Penuh Duri: Realita Ekosistem Healthtech Indonesia “Pak, saya pernah pakai Halodoc. Cepat banget. Kenapa dibilang ekosistemnya tertutup?” Pertanyaan ini muncul setelah tulisan saya…

Reformasi Kesehatan dan Perlawanan Sistem Tertutup
Digitalisasi Kesehatan

23 Mei2 mnt

Reformasi Kesehatan dan Perlawanan Sistem Tertutup

Kenapa Kalau Bicara Reformasi Kesehatan, Reaksinya Selalu Seheboh Ini? Sudah berkali-kali saya tulis: Ekosistem kesehatan kita itu tertutup. Terlalu banyak keputusan penting — diatur oleh segelintir elite yang tidak…

Dari “PeduliLindungi” ke “SatuSehat”: Saatnya Digitalisasi Kesehatan Punya Nahkoda yang…
Digitalisasi Kesehatan

8 Nov2 mnt

Dari “PeduliLindungi” ke “SatuSehat”: Saatnya Digitalisasi Kesehatan Punya Nahkoda yang…

Dari “PeduliLindungi” ke “SatuSehat”: Saatnya Digitalisasi Kesehatan Punya Nahkoda yang Tepat. Coba kita tarik mundur 4–5 tahun lalu, saat dunia seakan berhenti berputar karena COVID-19. Di masa itu, kesehatan publik…

Startup Kesehatan Laki-Laki & Perempuan: Ternyata yang Niche Justru Bertahan
Digitalisasi Kesehatan

12 Feb2 mnt

Startup Kesehatan Laki-Laki & Perempuan: Ternyata yang Niche Justru Bertahan

Startup Kesehatan Laki-Laki & Perempuan: Ternyata yang Niche Justru Bertahan Sekitar 2019, waktu kami membangun startup kesehatan, saya sempat melirik model di US: Hims & Hers Health, Inc.. Waktu itu menurut banyak…

← Semua tulisan