Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

Startup Kesehatan Laki-Laki & Perempuan: Ternyata yang Niche Justru Bertahan

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Startup Kesehatan Laki-Laki & Perempuan: Ternyata yang Niche Justru Bertahan

Startup Kesehatan Laki-Laki & Perempuan: Ternyata yang Niche Justru Bertahan

Sekitar 2019, waktu kami membangun startup kesehatan, saya sempat melirik model di US: Hims & Hers Health, Inc..

Waktu itu menurut banyak orang, model seperti Hims (untuk pria) dan Hers (untuk wanita) terlalu niche.
Investor lebih suka cerita besar: TAM, SAM, SOM.
Harus luas. Harus general. Harus “super app”.

Di Indonesia yang naik justru yang generalis seperti Halodoc dan Alodokter — semua spesialisasi, semua kebutuhan.

Model spesifik seperti kesehatan pria atau wanita?
Terlalu kecil, katanya.

Hari ini, Hims & Hers masih berdiri kokoh.
Sudah IPO di NYSE sejak 2021.
Market cap di kisaran USD 3–4 miliar (~Rp 60 trilliun).
Pendapatannya bahkan tembus USD 1.48 miliar di 2024 dan terus tumbuh agresif .

Ternyata “terlalu niche” bukan berarti kecil.
Justru fokus membuat mereka kuat secara brand dan positioning.

--
Di Indonesia, kita sempat dengar nama-nama seperti:

  • Norm
  • Diri Care
  • Sirka

Beberapa masih jalan, beberapa pivot, beberapa menghilang.
Masalahnya bukan cuma market. Tapi regulasi, edukasi konsumen, dan funding winter yang keras sekali.

Belum lagi realita lokal:

  • Pil biru KW bertebaran
  • Jamu dan suplemen herbal agresif di marketplace
  • Sensitivitas harga tinggi

Main di kategori kesehatan pria, apalagi obat “kuat”, itu bukan cuma soal marketing.
Harus ada dokter. Harus ada izin. Harus patuh BPOM.

Beberapa bulan lalu saya ngobrol dengan founder yang fokus ke kesehatan pria.
Modelnya modern.
Libatkan dokter andrologi.
Positioning rapi.
Dan ternyata diminati — terutama segmen menengah atas yang mau bayar mahal untuk solusi yang aman dan legitimate.

Viagra satu tablet bisa 150–200 ribu.
Pil weekend bisa 200–250 ribu.
Market-nya ada. Besar. Tapi sensitif.

Dan di sinilah saya belajar ulang satu hal:
Kadang yang terlihat kecil di awal,
justru lebih sustainable daripada yang terlalu luas tanpa diferensiasi.


Kalau kamu pria yang sudah mulai kepala 4 dan merasa isu ini relevan,
silakan cek karya anak bangsa: houp.co 🙂 https://houp.co/

💬 Hayoo silahkan yang punya komentar..

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

Gagal Bangun Startup Vitamin Preventif di 2019
Digitalisasi Kesehatan

12 Mei2 mnt

Gagal Bangun Startup Vitamin Preventif di 2019

Saya Pernah Bangun Startup Preventif Kesehatan. Dan Gagal Total. Tahun 2019, saya dan beberapa rekan, salah satunya Abi Dwiaji Wicahyo, kita FOMO. Kami melihat kesuksesan care/of di Amerika—startup vitamin personalisasi…

Kenapa Klaim Asuransi Kesehatan Masih Lambat
Digitalisasi Kesehatan

6 Mei2 mnt

Kenapa Klaim Asuransi Kesehatan Masih Lambat

Asuransi Kesehatan: Kenapa Masih Seribet Ini? Punya asuransi kesehatan harusnya bikin tenang. Tapi coba deh tanya mereka yang pernah rawat inap dan harus operasi… Approval bisa 3 hari. Keluar rumah sakit? Tunggu dulu, 6…

KFA: Akhirnya Ada Standar Kode Obat Nasional
Digitalisasi Kesehatan

19 Mei2 mnt

KFA: Akhirnya Ada Standar Kode Obat Nasional

Tau nggak sih, selama puluhan tahun kita… nggak punya standar kode obat nasional? Yes, benar. Obat-obatan di Indonesia selama ini pakai kode masing-masing. Perusahaan farmasi bikin kode sendiri Distributor bikin versi…

Data Publik Tersandera Vendor dan Proyek Aplikasi
Digitalisasi Kesehatan

22 Jun2 mnt

Data Publik Tersandera Vendor dan Proyek Aplikasi

Data Punya Rakyat. Tapi Tersandera Vendor. Saya baru saja diskusi dengan teman-teman dari Kementerian Kesehatan dan Bappenas. Kami sepakat: Lebih dari 1 dekade ini, kita latah bikin proyek digital — tapi hasilnya?…

Mengapa Tunggu Obat RS Masih 30–60 Menit
Digitalisasi Kesehatan

22 Jul2 mnt

Mengapa Tunggu Obat RS Masih 30–60 Menit

Sudah 20 Tahun, Tapi Kita Masih Tunggu Obat 60 Menit. Sampai hari ini, waktu tunggu pengambilan obat di farmasi RS masih diatur lewat Kepmenkes No. 129 Tahun 2008. Obat jadi: max 30 menit Obat racik: max 60 menit Ya…

← Semua tulisan