Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

SATUSEHAT dan Kekacauan Sistem di Puskesmas

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
SATUSEHAT dan Kekacauan Sistem di Puskesmas

Digitalisasi Puskesmas:
Kalau Semua Jalan Sendiri, Nakes & Pasien yang Kelelep.

Waktu COVID-19 menghantam, kita sadar betapa lemahnya data kita.
Puskesmas — garda terdepan kesehatan — justru minim sistem informasi yang bisa diandalkan.

📍Data pasien tercerai-berai
📍Tenaga kesehatan kewalahan
📍Aplikasi? Ratusan, beda-beda, dan gak saling ngobrol

Pasca pandemi, Kemenkes lewat DTO mencoba menyatukan arah dengan SATUSEHAT.

Tapi prosesnya nggak mudah.

Karena begini kenyataannya:
🔹 Kemenkes bikin blueprint SATUSEHAT
🔹 Dinas Kesehatan Daerah tetap pegang aplikasi warisan atau proyek vendor lokal. Dinkes dibawah kemendagri bukan kemenkes.
🔹 BPJS juga masuk digitalisasi faskes, tapi sistemnya sendiri

Tiga institusi, tiga sistem, tiga jalur.
Tapi yang bingung: petugas Puskesmas dan pasien.

Teman saya, seorang kepala Puskesmas, pernah bilang:
“Sekarang saya harus input data ke banyak sistem berbeda. Gak heran pelayanan ke pasien jadi keteteran.”

Belum lagi:

  • Di 745 Puskesmas, akses internet masih jadi masalah
  • Banyak data masih diinput manual lalu diketik ulang
  • Aplikasi terlalu administratif, bukan klinis
  • Training tenaga kesehatan pun belum seragam

Pertanyaannya: siapa arsitek utamanya?
Kemenkes? BPJS? Dinkes?
Kalau semua merasa punya domain, tapi gak bikin satu arsitektur data bersama,
digitalisasi hanya jadi beban tambahan — bukan solusi.

Kalau Kemenkes, Dinkes Daerah, dan BPJS jalan sendiri-sendiri,
tanpa arsitektur data bersama, maka digitalisasi hanya jadi beban tambahan.
Padahal niatnya: mempermudah.

Pak Menteri, Bu Dirjen, Kepala BPJS:
Yuk duduk bareng. Sepakat dulu arsitekturnya.
Biar nakes bisa fokus pada yang utama: melayani masyarakat.

Kalau kamu kerja di faskes, digital health, atau sedang bergelut dengan integrasi data layanan primer —
DM saja atau komen, kita ngobrol.
https://lnkd.in/gwVDP9rE

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

Margin Apotek Terlihat Besar, Tapi Banyak Boncos
Digitalisasi Kesehatan

14 Agu2 mnt

Margin Apotek Terlihat Besar, Tapi Banyak Boncos

Apotek: Bisnis yang Katanya Menggiurkan, Nyatanya Banyak yang Boncos Dulu, saya pernah tergiur buka apotek. Dari luar, kelihatannya ini bisnis “cuan” gila-gilaan. Margin antara HNA (Harga Nett Apotek) dan HET (Harga…

UU PDP: Risiko Rekam Medis Kertas di Faskes
Digitalisasi Kesehatan

9 Agu2 mnt

UU PDP: Risiko Rekam Medis Kertas di Faskes

Rekam Medis Jadi Bungkus Gorengan. Kedengarannya absurd. Tapi ini beneran kejadian di Thailand. Kertas rekam medis pasien dipakai buat bungkus gorengan. Rumah sakitnya? Kena denda ratusan juta rupiah. Sekarang bayangin…

KFA: Akhirnya Ada Standar Kode Obat Nasional
Digitalisasi Kesehatan

19 Mei2 mnt

KFA: Akhirnya Ada Standar Kode Obat Nasional

Tau nggak sih, selama puluhan tahun kita… nggak punya standar kode obat nasional? Yes, benar. Obat-obatan di Indonesia selama ini pakai kode masing-masing. Perusahaan farmasi bikin kode sendiri Distributor bikin versi…

AI Buat Rekam Medis? Sudah Bisa, Tinggal Dokternya Mau atau Nggak
Digitalisasi Kesehatan

19 Mei2 mnt

AI Suara untuk EMR: Tantangan Adopsi Dokter

AI Buat Rekam Medis? Sudah Bisa, Tinggal Dokternya Mau atau Nggak. Salah satu tantangan terbesar digitalisasi rekam medis di Indonesia adalah pembiasaan dokter. Banyak rumah sakit dan klinik sudah punya sistem…

satusehat-mandek-pasien-tetap-screening-ulang
Digitalisasi Kesehatan

2 Jun2 mnt

Satusehat Mandek, Pasien Tetap Screening Ulang

Digitalisasi Kesehatan: Masih Jalan di Tempat? Tahun lalu saya sempat pindah rumah sakit sampai 4 kali. Setiap pindah, saya harus screening ulang — ulang lagi isi form, ulang lagi cerita riwayat sakit, ulang lagi semua…

← Semua tulisan