AI Buat Rekam Medis? Sudah Bisa, Tinggal Dokternya Mau atau Nggak.
Salah satu tantangan terbesar digitalisasi rekam medis di Indonesia adalah pembiasaan dokter.
Banyak rumah sakit dan klinik sudah punya sistem komputerisasi, tapi kenyataannya:
- Dokter masih nulis di kertas
- Atau diketik nanti setelah jam praktik selesai
- Bahkan ada yang minta perawat / admin input belakangan
Ini wajar, terutama untuk dokter senior.
Digitalisasi bukan cuma soal sistem — tapi juga soal kenyamanan & kebiasaan.
Makanya waktu saya ngobrol dengan dr. Yosilia Nursakina, MPH, DIC, founder dari Serenic.AI, saya langsung semangat.
📌 Serenic adalah healthtech lokal yang bikin asisten AI untuk EMR berbasis suara.
Selama konsultasi, sistemnya merekam & menyimpulkan percakapan menjadi EMR digital, bahkan dalam standar FHIR.
Tidak perlu ketik. Tidak perlu klik-klik. Cukup bicara, AI yang bekerja.
Begitu juga dengan Nexmedis, startup lain yang sudah lebih dulu berjalan dan punya fitur serupa untuk mengubah konsultasi dokter menjadi rekam medis digital.
Kalau dipikir-pikir…
Solusinya sudah ada.
Teknologinya sudah canggih.
Tinggal satu pertanyaan:
Adopsinya mau nggak?
Kita selalu bilang digitalisasi kesehatan susah.
Tapi kalau mentalitasnya nggak berubah, mau semudah apa pun juga, tetap mentok.
Karena prinsip transformasi digital itu tetap sama:
1. People
2. Process
3. Technology
4. (Baru sekarang kita tambah) → AI
Jadi kalau kamu pelaku healthtech, founder AI, atau stakeholder rumah sakit,
dan pengen ngobrol tentang adopsi real AI di dunia kesehatan Indonesia,
let’s talk. Karena ini bukan soal hype. Ini soal masa depan data pasien kita semua.
✅ Mau ngobrol atau kolaborasi soal EMR, healthtech, atau AI di dunia medis?
✅ Gabung Tech Voice Indonesia: Komunitas anak tech yang peduli dampak dan realitas industri





