Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

AI Suara untuk EMR: Tantangan Adopsi Dokter

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
AI Buat Rekam Medis? Sudah Bisa, Tinggal Dokternya Mau atau Nggak

AI Buat Rekam Medis? Sudah Bisa, Tinggal Dokternya Mau atau Nggak.

Salah satu tantangan terbesar digitalisasi rekam medis di Indonesia adalah pembiasaan dokter.

Banyak rumah sakit dan klinik sudah punya sistem komputerisasi, tapi kenyataannya:

  • Dokter masih nulis di kertas
  • Atau diketik nanti setelah jam praktik selesai
  • Bahkan ada yang minta perawat / admin input belakangan

Ini wajar, terutama untuk dokter senior.
Digitalisasi bukan cuma soal sistem — tapi juga soal kenyamanan & kebiasaan.

Makanya waktu saya ngobrol dengan dr. Yosilia Nursakina, MPH, DIC, founder dari Serenic.AI, saya langsung semangat.
📌 Serenic adalah healthtech lokal yang bikin asisten AI untuk EMR berbasis suara.
Selama konsultasi, sistemnya merekam & menyimpulkan percakapan menjadi EMR digital, bahkan dalam standar FHIR.
Tidak perlu ketik. Tidak perlu klik-klik. Cukup bicara, AI yang bekerja.

Begitu juga dengan Nexmedis, startup lain yang sudah lebih dulu berjalan dan punya fitur serupa untuk mengubah konsultasi dokter menjadi rekam medis digital.
Kalau dipikir-pikir…
Solusinya sudah ada.
Teknologinya sudah canggih.
Tinggal satu pertanyaan:
Adopsinya mau nggak?

Kita selalu bilang digitalisasi kesehatan susah.
Tapi kalau mentalitasnya nggak berubah, mau semudah apa pun juga, tetap mentok.

Karena prinsip transformasi digital itu tetap sama:
1. People
2. Process
3. Technology
4. (Baru sekarang kita tambah) → AI

Jadi kalau kamu pelaku healthtech, founder AI, atau stakeholder rumah sakit,
dan pengen ngobrol tentang adopsi real AI di dunia kesehatan Indonesia,
lets talk. Karena ini bukan soal hype. Ini soal masa depan data pasien kita semua.

✅ Mau ngobrol atau kolaborasi soal EMR, healthtech, atau AI di dunia medis?

✅ Gabung Tech Voice Indonesia: Komunitas anak tech yang peduli dampak dan realitas industri

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

Obat Mahal dan Stok Kosong karena Data Silo
Digitalisasi Kesehatan

24 Jun2 mnt

Obat Mahal dan Stok Kosong karena Data Silo

Obat Mahal Itu Nyata. Dan Salah Satu Biangnya Adalah Data yang Tidak Pernah Disatukan. Beberapa waktu lalu, saya berobat pakai BPJS. Layanannya ya begitu deh. Dapet Resepnya. Tapi begitu ditebus di apotek RS, petugas…

Regulatory Sandbox: Konsep Keren, Tapi Jangan Jadi Taman Bermain Administrasi
Digitalisasi Kesehatan

13 Jan2 mnt

Regulatory Sandbox: Konsep Keren, Tapi Jangan Jadi Taman Bermain Administrasi

Regulatory Sandbox: Konsep Keren, Tapi Jangan Jadi Taman Bermain Administrasi Beberapa waktu lalu saya hadir di sidang terbuka promosi doktoral (S3) di Fakultas Hukum UI. Yang menarik, bukan cuma karena lokasinya—tapi…

Minggu lalu saya berobat ke Siloam.
Digitalisasi Kesehatan

18 Jul2 mnt

Minggu lalu saya berobat ke Siloam.

Minggu lalu saya berobat ke Siloam. Dan saya senyum sendiri. Bukan karena obatnya... Tapi karena akhirnya saya melihat digital transformation yang benar-benar terasa. Begitu datang... Ambil nomor di kiosk. Lihat…

Hasil Skrining: 30% Depresi, 10% Berat di RI
Digitalisasi Kesehatan

17 Sep2 mnt

Hasil Skrining: 30% Depresi, 10% Berat di RI

1 dari 5 Orang Indonesia Punya Masalah Mental Angkanya bikin merinding: 1 dari 5 orang Indonesia punya masalah kesehatan mental. Artinya? Bisa jadi teman, keluarga, bahkan kita sendiri termasuk di dalamnya. Awalnya…

Kenapa Banyak Pasien RI Berobat ke Penang?
Digitalisasi Kesehatan

10 Jun2 mnt

Kenapa Banyak Pasien RI Berobat ke Penang?

Tantowi Yahya, mantan Dubes RI di berbagai negara, baru-baru ini share pengalaman medical check-up di Penang. Beliau cerita, 80% pasien di Penang ternyata dari Indonesia. Kenapa bisa begini? Kenapa orang Indonesia lebih…

← Semua tulisan