Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

Obat Mahal dan Stok Kosong karena Data Silo

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Obat Mahal dan Stok Kosong karena Data Silo

Obat Mahal Itu Nyata. Dan Salah Satu Biangnya Adalah Data yang Tidak Pernah Disatukan.

Beberapa waktu lalu, saya berobat pakai BPJS.
Layanannya ya begitu deh. Dapet Resepnya.

Tapi begitu ditebus di apotek RS,
petugas bilang: “Obatnya kosong, Pak.”

Terpaksa cari ke apotek luar.
Ketemu obatnya. Tapi harganya… dua kali lipat.

Saya pikir cuma saya yang ngalamin.
Ternyata setelah ngobrol, banyak banget yang ngalamin hal yang sama.

Dan yang non-BPJS?
Jangan coba-coba kalau gak mau geleng-geleng liat harga obat.

Selama ini kita sering denger alasan harga obat mahal karena:
195% bahan baku masih impor
(Yes, ini serius. Dan belum ada solusi jelasnya.)
2Distribusi panjang & biaya tinggi
(Benar juga.)

Tapi ada satu lagi penyebab yang jarang dibahas:
Data silo di industri obat.

Kalau kamu lihat pemain-pemain besar farmasi di Indonesia,
semuanya bangun kerajaan sendiri-sendiri:

  • Kalbe: dari pabrik → distribusi → rumah sakit → apotek
  • Kimia Farma: pabrik → distribusi → apotek
  • Dan pemain lain juga punya jalur & jaringan masing-masing

Tak ada yang saling ngobrol.
Akibatnya?
Kita gak pernah tahu secara utuh:
📍 Di daerah mana stok obat selalu kosong
📍 Kebutuhan real-time masyarakat per jenis obat
📍 Pergerakan supply & demand dari hulu ke hilir
Padahal data ini penting banget untuk efisiensi logistik & distribusi.

Yang terjadi justru sebaliknya:

  • Obat dikirim ke tempat yang tidak perlu (ujungnya ada istilah "buang barang")
  • Distribusi jadi mahal
  • Pasien menunggu
  • Harga makin mahal

Semua ini karena data tidak pernah disatukan.

Bayangkan kalau ada model data agregat:

  • Tidak mengumbar data sensitif
  • Tapi bisa saling melihat tren kebutuhan
  • Membantu pabrik, distributor, apotek untuk efisien

Efeknya?
Harga bisa ditekan. Pasien bisa lebih tenang.

Tapi tentu ini gak gampang.
Yang dibutuhkan:
1. Niat baik
2. Inisiasi ekosistem
3. Pihak netral
4. Dan teknologi yang aman & terukur

Saya lagi coba figure out model seperti ini.
Mungkin bisa mulai dari data open insight atau kontribusi dari beberapa pabrikan yang progresif.
Siapa tahu bisa jadi gerakan.

Kalau kamu tertarik — dari sektor farmasi, apotek, atau data —
let’s talk.

🟡 DM saya untuk ngobrol

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

Ketika Sistem Kesehatan Terlalu IT-Centric
Digitalisasi Kesehatan

1 Jul2 mnt

Ketika Sistem Kesehatan Terlalu IT-Centric

Pak Budi Gunadi Bilang: “Sistem Kesehatan Kita Terlalu IT Banget.” Dan Jujur, Saya Setuju. Beberapa waktu lalu saya hadir di event CIO Healthcare. Isinya orang-orang tech: CIO rumah sakit, vendor healthtech, engineer…

BPJS Kesehatan: Saatnya Ganti Haluan, Bukan Sekadar Ganti Kalender.
Digitalisasi Kesehatan

6 Nov2 mnt

BPJS Kesehatan: Saatnya Ganti Haluan, Bukan Sekadar Ganti Kalender.

BPJS Kesehatan: Saatnya Ganti Haluan, Bukan Sekadar Ganti Kalender. Lagi dan lagi, BPJS Kesehatan kembali jadi sorotan. Setelah ramai soal pemutihan iuran senilai Rp20 triliun, publik akhirnya tahu — ini bukan sekadar…

Kita Bukan Cuma Market AI. Tapi Kita Tidak Punya Apa-Apa.
Digitalisasi Kesehatan

17 Apr2 mnt

Kita Bukan Cuma Market AI. Tapi Kita Tidak Punya Apa-Apa.

Kita Bukan Cuma Market AI. Tapi Kita Tidak Punya Apa-Apa. Banyak yang bilang Indonesia cuma jadi market AI. Menurut saya, masalahnya lebih dalam dari itu. Kita bukan hanya pengguna. Kita ikut menciptakan value. Tapi…

Regulatory Sandbox: Konsep Keren, Tapi Jangan Jadi Taman Bermain Administrasi
Digitalisasi Kesehatan

13 Jan2 mnt

Regulatory Sandbox: Konsep Keren, Tapi Jangan Jadi Taman Bermain Administrasi

Regulatory Sandbox: Konsep Keren, Tapi Jangan Jadi Taman Bermain Administrasi Beberapa waktu lalu saya hadir di sidang terbuka promosi doktoral (S3) di Fakultas Hukum UI. Yang menarik, bukan cuma karena lokasinya—tapi…

Jangan Lompat ke Aplikasi: Digitalisasi Bertahap
Digitalisasi Kesehatan

5 Sep2 mnt

Jangan Lompat ke Aplikasi: Digitalisasi Bertahap

Digitalisasi di Indonesia: Lompat → Jatuh Kita sering dengar jargon “transformasi digital”. Tapi kenyataannya? Lebih sering jadi “bikin aplikasi, nambah kerjaan baru”. Digitalisasi di Indonesia banyak yang gagal karena…

← Semua tulisan