Pak Budi Gunadi Bilang: “Sistem Kesehatan Kita Terlalu IT Banget.”
Dan Jujur, Saya Setuju.
Beberapa waktu lalu saya hadir di event CIO Healthcare.
Isinya orang-orang tech: CIO rumah sakit, vendor healthtech, engineer, dan konsultan.
Tapi justru yang bikin saya terdiam adalah pidato dari Pak Budi Gunadi Sadikin.
Beliau bilang, dengan nada yang cukup tajam:
“Sistem kesehatan kita ini terlalu IT banget.”
“Coba liat aplikasi Satusehat. Yang pakai berapa?”
“Pasien-centric dong, bukan IT-centric.”
Sebagai anak tech, saya langsung… ngeh.
Kalimat itu bukan cuma kritik.
Tapi tamparan yang penuh empati.
Karena ini bukan soal fitur.
Bukan soal stack.
Bukan soal UI modern dan API lengkap.
Tapi soal siapa yang benar-benar kita layani.
Saya flashback ke 10–20 tahun lalu,
saat jadi engineer dan ngerasa:
“Kita ini pusat gravitasi dari perusahaan.
Tanpa kita, sistem gak jalan.”
Dan dari situ muncul bias-bias kecil yang terus tumbuh:
- Sulit percaya sama tim non-tech
- Nganggap divisi lain ‘gak ngerti’
- Komentar user dianggap cerewet
- Feedback dianggap rewelnya klien
Dan tanpa sadar, yang dikorbankan adalah customer.
Saya pernah ngalamin:
Drama antara engineer vs QA
vs PM
vs Product
vs Marketing
vs Komersial
Ujung-ujungnya?
Aplikasi jadi rumit, gak dipakai, dan akhirnya dibuang.
Karena terlalu sibuk benerin ego masing-masing —
gak ada yang benerin arah.
Itu kenapa pidato Pak Budi tadi menurut saya penting banget.
Apalagi dia ngomong itu di forum yang isinya orang tech semua.
Dan dia juga kritik tim-nya sendiri:
“Satusehat yang kita bangun pun... terlalu anak tech banget.”
Saya belajar:
Kita, anak-anak tech, harus belajar pakai topi user.
Kalau kita bisa ngoding 10 layer logika,
mestinya kita juga bisa pakai empati dan komunikasi sebagai skill.
Jangan cuma tanya:
“Apa requirement-nya?”
Tapi mulai pikir:
“Kenapa requirement ini penting buat user?”
Kalau sudah mengerti ini jadi sadar,
kenapa dulu sering dibilang “kaku”, “geek”, “terlalu ribet”.
Karena terlalu banyak mikir solusi,
sampai lupa dengerin masalah.
🟡 Banyak yang tanya **gimana saya bisa mulai nulis di LinkedIn** dan konsisten sampai sekarang.
Jawabannya sedang saya siapkan bareng AI, **langsung aja join Batch 1**-nya di sini: https://lnkd.in/gcPxaRkn





