Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

BPJS Berbayar, Tapi Pasien Tetap Dipersulit

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
BPJS Berbayar, Tapi Pasien Tetap Dipersulit

BPJS Bukan Gratis, Tapi Kok Rasanya Diperlakukan Seperti Gratisan?

Kalau denger kata BPJS Kesehatan, apa yang langsung terlintas di kepala?

Antrian.”
Ribet.”

Dan sayangnya… ya memang begitu kenyataannya.

Saya pernah lihat sendiri:
Orang tua di lingkungan saya, Bu De namanya — usia sudah lanjut, harus menjalani terapi kaki rutin 3x seminggu ke rumah sakit.
Tiap pagi, jam 5 sudah berangkat. Ambil antrian dulu di klinik buat rujukan.
Selesai? Enggak langsung. Harus ke rumah sakit.
Dan jam pulangnya? Kadang menjelang Maghrib.

Kalau dihitung… seminggu waktunya habis di rumah sakit.
Bukan karena tindakan medisnya yang lama,
Tapi karena prosedurnya.

Mari kita bedah sedikit:

🏛 Apa sih sebenarnya BPJS itu?

Bukan BUMN. Bukan swasta.
Tapi lembaga publik yang dibentuk berdasarkan UU Jaminan Sosial, dengan mandat menjamin hak rakyat atas layanan kesehatan.
BPJS tidak boleh rugi terlalu dalam, tapi juga tidak boleh cari untung.

Dan uangnya?

  • Total iuran 2024: Rp164 triliun
  • Klaim: Rp174 triliun
  • Defisit: ~Rp10 triliun
  • Yang paling menarik: ~30% dari iuran itu adalah subsidi APBN untuk peserta miskin dan rentan.

Berarti?
Negara ini serius membiayai warganya untuk bisa berobat.
Tapi… kenapa di lapangan, kok begini amat?

Digital? Sudah. Tapi Masih Banyak Masalah.
Secara sistem:

  • Ada Mobile JKN.
  • Ada V-Claim.
  • Ada e-Referral.

Tapi percayalah, yang ribet bukan sistemnya… tapi ekosistemnya yang kurang ngobrol. Ini nih yang pernah saya bilang begitu defensif-nya sektor kesehatan ini.

Coba kita list akibat “Kurang Ngobrol”:

1. Rumah sakit & klinik sering mengeluh:

  • Klaim BPJS dipotong.
  • Dispute.
  • Pembayaran tertahan berbulan-bulan.

2. Pasien ikut jadi korban:

  • Pelayanan lambat.
  • Poli BPJS dibedakan.
  • Terasa diskriminatif.

3. Formularium obat BPJS:

  • Standar harga terlalu murah,
  • RS harus akali agar tetap survive.

4. Pemerintah pusing karena

  • Rasio klaim > iuran,
  • Dana cadangan makin terkikis.

Jadi, Solusinya?
Bukan sistem baru. Bukan aplikasi baru.
Tapi… duduk bareng dan ngobrol.

BPJS, rumah sakit, vendor, regulator, dan masyarakat — semua harus sinkron.
Karena kalau enggak?
Yaa seperti sekarang ini:
Sama-sama punya niat baik, tapi hasilnya… malah saling salah paham.

Health-Tech rada2 "alergi" klo udah ngomong BPJS

✅ Kalau mau ngobrol lebih dalam, atau kolaborasi soal reformasi layanan kesehatan:  
✅ Atau diskusi bareng komunitas anak tech & digital health:

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

Menelusuri Rantai Kesehatan dan PR Data Bersama
Digitalisasi Kesehatan

24 Agu2 mnt

Menelusuri Rantai Kesehatan dan PR Data Bersama

Sepenggal Cerita Dunia Kesehatan Hampir 1 tahun terakhir saya berjalan, bertemu, dan ngobrol dengan sebagian besar pelaku industri kesehatan — dari hulu sampai hilir. 1. Pharma (pabrikan obat) Baik lokal (PMDN) dan…

Margin Apotek Terlihat Besar, Tapi Banyak Boncos
Digitalisasi Kesehatan

14 Agu2 mnt

Margin Apotek Terlihat Besar, Tapi Banyak Boncos

Apotek: Bisnis yang Katanya Menggiurkan, Nyatanya Banyak yang Boncos Dulu, saya pernah tergiur buka apotek. Dari luar, kelihatannya ini bisnis “cuan” gila-gilaan. Margin antara HNA (Harga Nett Apotek) dan HET (Harga…

Gagal Bangun Startup Vitamin Preventif di 2019
Digitalisasi Kesehatan

12 Mei2 mnt

Gagal Bangun Startup Vitamin Preventif di 2019

Saya Pernah Bangun Startup Preventif Kesehatan. Dan Gagal Total. Tahun 2019, saya dan beberapa rekan, salah satunya Abi Dwiaji Wicahyo, kita FOMO. Kami melihat kesuksesan care/of di Amerika—startup vitamin personalisasi…

Data Publik Tersandera Vendor dan Proyek Aplikasi
Digitalisasi Kesehatan

22 Jun2 mnt

Data Publik Tersandera Vendor dan Proyek Aplikasi

Data Punya Rakyat. Tapi Tersandera Vendor. Saya baru saja diskusi dengan teman-teman dari Kementerian Kesehatan dan Bappenas. Kami sepakat: Lebih dari 1 dekade ini, kita latah bikin proyek digital — tapi hasilnya?…

AI Buat Rekam Medis? Sudah Bisa, Tinggal Dokternya Mau atau Nggak
Digitalisasi Kesehatan

19 Mei2 mnt

AI Suara untuk EMR: Tantangan Adopsi Dokter

AI Buat Rekam Medis? Sudah Bisa, Tinggal Dokternya Mau atau Nggak. Salah satu tantangan terbesar digitalisasi rekam medis di Indonesia adalah pembiasaan dokter. Banyak rumah sakit dan klinik sudah punya sistem…

← Semua tulisan