BPJS Bukan Gratis, Tapi Kok Rasanya Diperlakukan Seperti Gratisan?
Kalau denger kata BPJS Kesehatan, apa yang langsung terlintas di kepala?
“Antrian.”
“Ribet.”
Dan sayangnya… ya memang begitu kenyataannya.
Saya pernah lihat sendiri:
Orang tua di lingkungan saya, Bu De namanya — usia sudah lanjut, harus menjalani terapi kaki rutin 3x seminggu ke rumah sakit.
Tiap pagi, jam 5 sudah berangkat. Ambil antrian dulu di klinik buat rujukan.
Selesai? Enggak langsung. Harus ke rumah sakit.
Dan jam pulangnya? Kadang menjelang Maghrib.
Kalau dihitung… seminggu waktunya habis di rumah sakit.
Bukan karena tindakan medisnya yang lama,
Tapi karena prosedurnya.
Mari kita bedah sedikit:
🏛 Apa sih sebenarnya BPJS itu?
Bukan BUMN. Bukan swasta.
Tapi lembaga publik yang dibentuk berdasarkan UU Jaminan Sosial, dengan mandat menjamin hak rakyat atas layanan kesehatan.
BPJS tidak boleh rugi terlalu dalam, tapi juga tidak boleh cari untung.
Dan uangnya?
- Total iuran 2024: Rp164 triliun
- Klaim: Rp174 triliun
- Defisit: ~Rp10 triliun
- Yang paling menarik: ~30% dari iuran itu adalah subsidi APBN untuk peserta miskin dan rentan.
Berarti?
Negara ini serius membiayai warganya untuk bisa berobat.
Tapi… kenapa di lapangan, kok begini amat?
Digital? Sudah. Tapi Masih Banyak Masalah.
Secara sistem:
- Ada Mobile JKN.
- Ada V-Claim.
- Ada e-Referral.
Tapi percayalah, yang ribet bukan sistemnya… tapi ekosistemnya yang kurang ngobrol. Ini nih yang pernah saya bilang begitu defensif-nya sektor kesehatan ini.
Coba kita list akibat “Kurang Ngobrol”:
1. Rumah sakit & klinik sering mengeluh:
- Klaim BPJS dipotong.
- Dispute.
- Pembayaran tertahan berbulan-bulan.
2. Pasien ikut jadi korban:
- Pelayanan lambat.
- Poli BPJS dibedakan.
- Terasa diskriminatif.
3. Formularium obat BPJS:
- Standar harga terlalu murah,
- RS harus akali agar tetap survive.
4. Pemerintah pusing karena
- Rasio klaim > iuran,
- Dana cadangan makin terkikis.
Jadi, Solusinya?
Bukan sistem baru. Bukan aplikasi baru.
Tapi… duduk bareng dan ngobrol.
BPJS, rumah sakit, vendor, regulator, dan masyarakat — semua harus sinkron.
Karena kalau enggak?
Yaa seperti sekarang ini:
Sama-sama punya niat baik, tapi hasilnya… malah saling salah paham.
Health-Tech rada2 "alergi" klo udah ngomong BPJS
✅ Kalau mau ngobrol lebih dalam, atau kolaborasi soal reformasi layanan kesehatan:
✅ Atau diskusi bareng komunitas anak tech & digital health:





