Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

Dari Hospital-Oriented ke Patient-Oriented

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Dari Hospital-Oriented ke Patient-Oriented

Pelayanan Kesehatan Kita Masih Terlalu Berorientasi ke Rumah Sakit. Bukan ke Pasien.
Beberapa waktu lalu saya diundang ke sebuah forum baru:
CIO Healthcare.

Isinya?
Para pemimpin teknologi dari rumah sakit-rumah sakit besar di Indonesia.
Dan salah satu topik yang mencuat:
Kita ini masih terlalu hospital-oriented.
Bukan patient-oriented.”

Kalau kamu pernah sakit dan berobat ke RS, coba jujur jawab ini:

  • Siapa yang lebih berkuasa? Pasien atau sistem rumah sakit?
  • Siapa yang lebih repot? Yang sakit atau yang ngurus sistem?

Mulai dari parkir, registrasi, antrian, rujukan, pengambilan obat…
Semua seolah bilang:
Yang butuh kamu, bukan kami.”

Padahal kalau kita mundur sedikit…
Profesi tenaga kesehatan dulu sangat sakral.

  • Sumpah Dokter
  • Pengabdian pada kemanusiaan
  • Mengutamakan keselamatan pasien
  • Bebas dari diskriminasi
  • Tulus membantu tanpa pamrih

Tapi kenyataannya sekarang?
Karena ketidakseimbangan supply & demand —
hukum ekonomi pun berlaku:

  • Mau layanan cepat? Bayar mahal.
  • Mau dokter senior? Bayar mahal.
  • Mau obat paten? Bayar mahal.
  • Mau ga antri? Bayar mahal.

Bahkan…
Mau jadi dokter? Ya harus bayar mahal dulu.

Dan jangan heran, kenapa sekarang bisnis rumah sakit makin menjamur.

Perhatikan saja:
Setiap pengembang properti besar pasti bangun rumah sakit dulu.
Kenapa? Karena RS bukan lagi lembaga sosial.
RS sudah menjadi bisnis.

Makanya, forum CIO Healthcare ini menurut saya penting.
Karena di sinilah “orang-orang teknologi” mulai bersuara:
Bagaimana kalau kita ubah orientasinya?”
Bagaimana kalau kita mulai dari pasien?”
Bagaimana kalau teknologi bukan hanya untuk efisiensi rumah sakit
tapi juga untuk kenyamanan pasien?”

Pasien bukan customer yang harus tunduk.
Pasien adalah manusia yang perlu dipermudah urusannya.
Dan teknologi bisa jadi alat yang sangat efektif untuk itu.

Kalau sistem RS bisa:

  • Paperless
  • Terintegrasi
  • Real-time data
  • Pengingat dosis
  • Monitoring post-care

…maka pengalaman pasien akan jauh lebih manusiawi.

Kalau semua rumah sakit mulai dari sini —
taruhan saya, kita bisa bersaing dengan layanan di Penang.

Bukan karena kita punya alat tercanggih.
Tapi karena kita punya niat untuk berubah.

Dan semuanya dimulai dari satu pertanyaan sederhana:
"Apakah kita benar-benar menempatkan pasien di pusat layanan?"

Kalau kamu CTO, CIO, atau pengambil keputusan di dunia healthcare  
Yuk diskusi & kolaborasi.

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

AdMedika Dijual dan Rumitnya Sistem TPA Asuransi
Digitalisasi Kesehatan

6 Jun2 mnt

AdMedika Dijual dan Rumitnya Sistem TPA Asuransi

AdMedika Dijual? TPA Itu Sebenarnya Apa Sih? Bloomberg sempat rilis kabar panas: Telkom katanya mau jual AdMedika senilai USD 100 juta (Rp1,6 triliun). Sebagai orang yang pernah bikin healthtech, saya langsung mikir…

Harga Obat Mahal karena Data Farmasi Terpecah
Digitalisasi Kesehatan

31 Jul2 mnt

Harga Obat Mahal karena Data Farmasi Terpecah

Harga Obat Mahal Itu Bukan Takdir. Kadang Cuma Karena Data Kita Berantakan. Bagi pelaku industri kesehatan, pasti tahu betul: Biaya marketing produk farmasi bisa menyentuh 40% dari total revenue. Kenapa bisa segede itu?…

Rupiah Digital: Akhirnya Datang Juga “Proyek Garuda” dari Bank Indonesia
Digitalisasi Kesehatan

3 Nov2 mnt

Rupiah Digital: Akhirnya Datang Juga “Proyek Garuda” dari Bank Indonesia

Rupiah Digital: Akhirnya Datang Juga “Proyek Garuda” dari Bank Indonesia Kalau bicara soal digitalisasi sistem pembayaran, Indonesia ini keren banget. Kita udah bukan sekadar ngomongin QRIS, dompet digital, atau…

Dari “PeduliLindungi” ke “SatuSehat”: Saatnya Digitalisasi Kesehatan Punya Nahkoda yang…
Digitalisasi Kesehatan

8 Nov2 mnt

Dari “PeduliLindungi” ke “SatuSehat”: Saatnya Digitalisasi Kesehatan Punya Nahkoda yang…

Dari “PeduliLindungi” ke “SatuSehat”: Saatnya Digitalisasi Kesehatan Punya Nahkoda yang Tepat. Coba kita tarik mundur 4–5 tahun lalu, saat dunia seakan berhenti berputar karena COVID-19. Di masa itu, kesehatan publik…

BPJS, Rumah Sakit, dan Kekacauan Integrasi Data
Digitalisasi Kesehatan

19 Jul2 mnt

BPJS, Rumah Sakit, dan Kekacauan Integrasi Data

BPJS Kesehatan vs Rumah Sakit. Atau mungkin… vs Everybody? Saya sering lihat di sosial media: Pasien BPJS marah-marah ke petugas rumah sakit. Padahal yang dimarahi cuma menjalankan sistem. Tapi akarnya lebih dalam dari…

← Semua tulisan