Pelayanan Kesehatan Kita Masih Terlalu Berorientasi ke Rumah Sakit. Bukan ke Pasien.
Beberapa waktu lalu saya diundang ke sebuah forum baru:
CIO Healthcare.
Isinya?
Para pemimpin teknologi dari rumah sakit-rumah sakit besar di Indonesia.
Dan salah satu topik yang mencuat:
“Kita ini masih terlalu hospital-oriented.
Bukan patient-oriented.”
Kalau kamu pernah sakit dan berobat ke RS, coba jujur jawab ini:
- Siapa yang lebih berkuasa? Pasien atau sistem rumah sakit?
- Siapa yang lebih repot? Yang sakit atau yang ngurus sistem?
Mulai dari parkir, registrasi, antrian, rujukan, pengambilan obat…
Semua seolah bilang:
“Yang butuh kamu, bukan kami.”
Padahal kalau kita mundur sedikit…
Profesi tenaga kesehatan dulu sangat sakral.
- Sumpah Dokter
- Pengabdian pada kemanusiaan
- Mengutamakan keselamatan pasien
- Bebas dari diskriminasi
- Tulus membantu tanpa pamrih
Tapi kenyataannya sekarang?
Karena ketidakseimbangan supply & demand —
hukum ekonomi pun berlaku:
- Mau layanan cepat? Bayar mahal.
- Mau dokter senior? Bayar mahal.
- Mau obat paten? Bayar mahal.
- Mau ga antri? Bayar mahal.
Bahkan…
Mau jadi dokter? Ya harus bayar mahal dulu.
Dan jangan heran, kenapa sekarang bisnis rumah sakit makin menjamur.
Perhatikan saja:
Setiap pengembang properti besar pasti bangun rumah sakit dulu.
Kenapa? Karena RS bukan lagi lembaga sosial.
RS sudah menjadi bisnis.
Makanya, forum CIO Healthcare ini menurut saya penting.
Karena di sinilah “orang-orang teknologi” mulai bersuara:
“Bagaimana kalau kita ubah orientasinya?”
“Bagaimana kalau kita mulai dari pasien?”
“Bagaimana kalau teknologi bukan hanya untuk efisiensi rumah sakit —
tapi juga untuk kenyamanan pasien?”
Pasien bukan customer yang harus tunduk.
Pasien adalah manusia yang perlu dipermudah urusannya.
Dan teknologi bisa jadi alat yang sangat efektif untuk itu.
Kalau sistem RS bisa:
- Paperless
- Terintegrasi
- Real-time data
- Pengingat dosis
- Monitoring post-care
…maka pengalaman pasien akan jauh lebih manusiawi.
Kalau semua rumah sakit mulai dari sini —
taruhan saya, kita bisa bersaing dengan layanan di Penang.
Bukan karena kita punya alat tercanggih.
Tapi karena kita punya niat untuk berubah.
Dan semuanya dimulai dari satu pertanyaan sederhana:
"Apakah kita benar-benar menempatkan pasien di pusat layanan?"
Kalau kamu CTO, CIO, atau pengambil keputusan di dunia healthcare
Yuk diskusi & kolaborasi.





