Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

Harga Obat Mahal karena Data Farmasi Terpecah

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Harga Obat Mahal karena Data Farmasi Terpecah

Harga Obat Mahal Itu Bukan Takdir. Kadang Cuma Karena Data Kita Berantakan.

Bagi pelaku industri kesehatan, pasti tahu betul:
Biaya marketing produk farmasi bisa menyentuh 40% dari total revenue.

Kenapa bisa segede itu?

Karena kita hidup di pasar yang gelap.
Market visibility lemah.
Data terfragmentasi.
Prediksi demand? Banyak yang masih pakai ilmu LUKI — “Lu Kira-Kira”.

Coba kita bedah.
Distribusi produk farmasi itu sebenarnya end-to-end, dari:
L1: Pabrik ke distributor
L2: Distributor ke outlet (apotek/faskes)
L3: Outlet ke konsumen

Tapi ketiga cluster ini jalan sendiri-sendiri.
Data enggak nyambung.
Supply chain jadi enggak efisien.
Cost membengkak.
Harga obat? Ya naik.

Padahal kalau datanya nyambung...
Kita bisa:

  • Prediksi demand per daerah secara akurat
  • Tentuin campaign & distribusi lebih tepat
  • Potong biaya marketing yang sia-sia
  • Bikin harga obat lebih murah dan merata

Tapi saat ini?
Banyak data kesehatan rakyat masih terkunci di ruang server berdebu.
Banyak vendor nggak mau buka pintu.
Banyak stakeholder nggak sadar betapa berharga data itu.

Saya pernah ngalamin semua itu.
Dulu saya juga bagian dari inisiatif yang mau bikin standarisasi data.
Sekarang, saya dan tim sedang bergerak lagi —
ngumpulin puzzle yang tercerai-berai.

Menyambungkan data.
Bukan buat keren-kerenan.
Tapi supaya harga obat enggak harus selalu mahal.

Kalau kamu pelaku di dunia farmasi, apotek, rumah sakit, PBF, atau pemilik data kesehatan,
dan ngerasa capek banget karena data nggak bisa ngapa-ngapain…

Yuk, ngobrol.
Apa yang bisa kita bantu.

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Komentar

Masuk untuk ikut berkomentar

Masuk

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

← Semua tulisan