Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

Ketika Cash Ditolak, Siapa yang Tertinggal?

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Ketika Cash Ditolak, Siapa yang Tertinggal?

Ketika Cash Ditolak, Siapa yang Tertinggal?

Beberapa bulan lalu viral:
seorang lansia ditolak bayar tunai di salah satu gerai Roti O.
Publik marah. Brand minta maaf. Kasus selesai.

Tapi buat saya, ini bukan sekadar salah paham di lapangan.
Ini sinyal besar soal konsekuensi digitalisasi yang sering kita pura-pura nggak lihat.

Kalau pakai kacamata innovation adoption (S-Curve), ceritanya cukup jelas:

  • Kota besar sudah di fase Late Majority
  • QRIS, e-wallet, cashless = “normal”
  • Cash pelan-pelan dianggap “pengecualian”

Masalahnya:
Laggards masih ada. Banyak. Dan nyata.
Lansia, masyarakat pinggiran, kelompok yang belum siap—bukan karena bandel, tapi karena tidak pernah benar-benar diajak transisi.

Di sinilah PR besar digitalisasi Indonesia:
bukan soal seberapa cepat teknologinya,
tapi seberapa manusiawi proses adopsinya.

Saya melihat ini sebagai sinyal lain:
👉 proyek Rupiah Digital (BI) kemungkinan akan makin digenjot.
Bukan cuma efisiensi sistem,
tapi untuk closing the gap antara yang sudah digital dan yang tertinggal.

Dan pola ini relevan di mana-mana.
Termasuk kesehatan:

  • Data pasien masih terfragmentasi
  • Faskes belum nyambung
  • Pasien bolak-balik isi ulang data yang sama

Kalau digitalisasi dilakukan tanpa desain transisi yang benar,
yang terjadi bukan inklusi—
tapi eksklusi versi baru.

Digitalisasi itu keniscayaan.
Tapi cara kita mengajak orang masuk ke dalamnya adalah pilihan.

Mudah-mudahan 2026 bukan cuma soal teknologi baru,
tapi soal desain kebijakan yang lebih empatik.
Dan semoga juga tidak lagi mentok di urusan anggaran yang bikin semuanya stuck.


🟡 Kalau kamu tertarik diskusi soal digitalisasi yang masuk akal (dan manusiawi),
Kita mikir bareng, bukan cuma ikut arus.

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

Digitalisasi Kesehatan: DTO Hilang Momentum
Digitalisasi Kesehatan

11 Feb2 mnt

Digitalisasi Kesehatan: DTO Hilang Momentum

Revolusi Mental Digitalisasi Kesehatan? PRANK! Dulu kita percaya “REVOLUSI MENTAL” bisa mengubah bangsa. Pemerintah bahkan bikin Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) lewat Inpres No.12 Tahun 2016. Tapi apa hasilnya?…

Obat Mahal dan Stok Kosong karena Data Silo
Digitalisasi Kesehatan

24 Jun2 mnt

Obat Mahal dan Stok Kosong karena Data Silo

Obat Mahal Itu Nyata. Dan Salah Satu Biangnya Adalah Data yang Tidak Pernah Disatukan. Beberapa waktu lalu, saya berobat pakai BPJS. Layanannya ya begitu deh. Dapet Resepnya. Tapi begitu ditebus di apotek RS, petugas…

Beberapa hari terakhir ini ramai banget di lini masa soal keluhan layanan faskes yang k…
Digitalisasi Kesehatan

9 Agu2 mnt

Beberapa hari terakhir ini ramai banget di lini masa soal keluhan layanan faskes yang k…

Beberapa hari terakhir ini ramai banget di lini masa soal keluhan layanan faskes yang kemudian dikaitkan dengan BPJS. Kalau saya melihatnya, ini the real fenomena gunung es. Terkesan sederhana ketika ada yang mencuit di…

Kita Sudah Masuk Fase Darurat Gula.
Digitalisasi Kesehatan

15 Apr2 mnt

Kita Sudah Masuk Fase Darurat Gula.

Kita Sudah Masuk Fase Darurat Gula. Dan ini bukan opini. Ini realita yang pelan-pelan jadi normal. Beberapa waktu lalu saya sempat bahas fenomena kopi kekinian. Minuman yang isinya bukan lagi kopi— tapi gula dengan…

Smart Claim BPJS dan Turunnya Dispute Klaim RS
Digitalisasi Kesehatan

5 Jun2 mnt

Smart Claim BPJS dan Turunnya Dispute Klaim RS

Smart Claim BPJS: Biang Kerok Pelayanan Buruk, Akhirnya Dibenerin Juga? Kemarin saya ketemu vendor software SIM-RS (Sistem Informasi Rumah Sakit) yang cerita pengalaman mereka soal implementasi Smart Claim BPJS. Ini…

← Semua tulisan