Ketika Cash Ditolak, Siapa yang Tertinggal?
Beberapa bulan lalu viral:
seorang lansia ditolak bayar tunai di salah satu gerai Roti O.
Publik marah. Brand minta maaf. Kasus selesai.
Tapi buat saya, ini bukan sekadar salah paham di lapangan.
Ini sinyal besar soal konsekuensi digitalisasi yang sering kita pura-pura nggak lihat.
Kalau pakai kacamata innovation adoption (S-Curve), ceritanya cukup jelas:
- Kota besar sudah di fase Late Majority
- QRIS, e-wallet, cashless = “normal”
- Cash pelan-pelan dianggap “pengecualian”
Masalahnya:
Laggards masih ada. Banyak. Dan nyata.
Lansia, masyarakat pinggiran, kelompok yang belum siap—bukan karena bandel, tapi karena tidak pernah benar-benar diajak transisi.
Di sinilah PR besar digitalisasi Indonesia:
bukan soal seberapa cepat teknologinya,
tapi seberapa manusiawi proses adopsinya.
Saya melihat ini sebagai sinyal lain:
👉 proyek Rupiah Digital (BI) kemungkinan akan makin digenjot.
Bukan cuma efisiensi sistem,
tapi untuk closing the gap antara yang sudah digital dan yang tertinggal.
Dan pola ini relevan di mana-mana.
Termasuk kesehatan:
- Data pasien masih terfragmentasi
- Faskes belum nyambung
- Pasien bolak-balik isi ulang data yang sama
Kalau digitalisasi dilakukan tanpa desain transisi yang benar,
yang terjadi bukan inklusi—
tapi eksklusi versi baru.
Digitalisasi itu keniscayaan.
Tapi cara kita mengajak orang masuk ke dalamnya adalah pilihan.
Mudah-mudahan 2026 bukan cuma soal teknologi baru,
tapi soal desain kebijakan yang lebih empatik.
Dan semoga juga tidak lagi mentok di urusan anggaran yang bikin semuanya stuck.
🟡 Kalau kamu tertarik diskusi soal digitalisasi yang masuk akal (dan manusiawi),
Kita mikir bareng, bukan cuma ikut arus.





