Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

Beberapa hari terakhir ini ramai banget di lini masa soal keluhan layanan faskes yang k…

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Beberapa hari terakhir ini ramai banget di lini masa soal keluhan layanan faskes yang k…

Beberapa hari terakhir ini ramai banget di lini masa soal keluhan layanan faskes yang kemudian dikaitkan dengan BPJS.

Kalau saya melihatnya, ini the real fenomena gunung es.

Terkesan sederhana ketika ada yang mencuit di Threads, harus menunggu sampai 8 jam untuk mendapatkan pelayanan yang kemudian dikaitkan dengan rumah sakit dan BPJS.

Tapi kalau kita lihat lebih dalam, problemnya jauh lebih besar.

Di lapangan, rasanya semua stakeholder sudah sama-sama lelah.

Dokter lelah.
Nakes lelah.
Pasien juga lelah.

Domain kebijakan — Kemenkes.
Domain penjamin — BPJS Kesehatan.
Domain pelaksana — fasilitas kesehatan.

Semuanya terus ditarik ke kondisi yang semakin ekstrem.
Dan kalau sudah terlalu lama seperti ini, tinggal menunggu kapan akhirnya boom.

Kasus kemarin yang pelayanan tidak berjalan sebagaimana mestinya sampai berujung pada meninggalnya pasien adalah salah satu bentuk paling ekstrem dari problem yang sebenarnya sudah lama ada.

Menurut saya kita sudah masuk fase stuck & status quo.
Semua tahu ada masalah.
Semua tahu sistemnya tidak ideal.

Tapi solusi yang benar-benar memecahkan kebuntuan belum juga muncul.
Dan di titik seperti ini, kita butuh penyegaran, evaluasi, dan inovasi.

Saya jadi teringat sekitar 5 tahun lalu, ketika beberapa kali hadir melihat inovasi anak-anak negeri lulusan Apple Developer Academy.

Salah satunya mereka membuat platform untuk melihat ketersediaan kamar dan layanan rumah sakit.

Waktu itu respons pertama saya justru defensif.
Saya langsung berpikir:
"Bagus sih idenya. Tapi realitanya di dunia faskes kita? Susah banget."

Padahal ketika anak-anak muda itu menjelaskan idenya, mereka begitu sederhana melihatnya.
Pasien bisa tahu.
Informasi lebih transparan.
Tidak perlu muter-muter.
Layanan menjadi lebih jelas.

Dan mereka begitu yakin teknologi itu bisa membantu meningkatkan pelayanan kesehatan.

Begitu lempeng.
Begitu lurus.

Sementara saya yang sudah melihat dunia pelayanan kesehatan selama puluhan tahun malah langsung melihat temboknya.

Dan akhirnya saya sadar...

Ini bukan masalah teknologi.

Ini masalah people.
Masalah budaya.
Masalah proses.
Masalah kepentingan.
Masalah kebiasaan yang sudah mendarah daging puluhan tahun.

Makanya transformasi kesehatan memang tidak akan pernah cukup hanya dengan membeli sistem baru, membuat aplikasi baru, atau mengganti platform.

Butuh orang-orang yang berani membuka jalur yang selama ini dianggap terlalu rumit untuk disentuh.

Yaa...
Kita cuma bisa berharap.

Kalau mulai merasa lelah, overwhelmed, atau nggak baik-baik saja, jangan tunggu sampai makin berat.

Coba self-test gratis → serana.id/screening-gratis

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

Ketika Cash Ditolak, Siapa yang Tertinggal?
Digitalisasi Kesehatan

21 Jan2 mnt

Ketika Cash Ditolak, Siapa yang Tertinggal?

Ketika Cash Ditolak, Siapa yang Tertinggal? Beberapa bulan lalu viral: seorang lansia ditolak bayar tunai di salah satu gerai Roti O. Publik marah. Brand minta maaf. Kasus selesai. Tapi buat saya, ini bukan sekadar…

Regulatory Sandbox: Konsep Keren, Tapi Jangan Jadi Taman Bermain Administrasi
Digitalisasi Kesehatan

13 Jan2 mnt

Regulatory Sandbox: Konsep Keren, Tapi Jangan Jadi Taman Bermain Administrasi

Regulatory Sandbox: Konsep Keren, Tapi Jangan Jadi Taman Bermain Administrasi Beberapa waktu lalu saya hadir di sidang terbuka promosi doktoral (S3) di Fakultas Hukum UI. Yang menarik, bukan cuma karena lokasinya—tapi…

Healthtech Gagal Karena Kekuasaan dan Regulasi
Digitalisasi Kesehatan

30 Apr2 mnt

Healthtech Gagal Karena Kekuasaan dan Regulasi

Saya pernah membangun startup healthtech. Tapi kami gagal. Bukan karena timnya lemah. Bukan karena teknologinya jelek. Dan bukan karena idenya tidak dibutuhkan. Kami gagal karena satu hal yang jarang dibahas secara…

KFA: Akhirnya Ada Standar Kode Obat Nasional
Digitalisasi Kesehatan

19 Mei2 mnt

KFA: Akhirnya Ada Standar Kode Obat Nasional

Tau nggak sih, selama puluhan tahun kita… nggak punya standar kode obat nasional? Yes, benar. Obat-obatan di Indonesia selama ini pakai kode masing-masing. Perusahaan farmasi bikin kode sendiri Distributor bikin versi…

BPJS Pegang Data JKN, Tapi Tak Pimpin Standar RME
Digitalisasi Kesehatan

15 Mei2 mnt

BPJS Pegang Data JKN, Tapi Tak Pimpin Standar RME

BPJS Punya Data Terbanyak, Tapi Kenapa Bukan Mereka yang Buat Standar RME? Kemarin saya ngobrol dengan beberapa teman yang pernah terlibat langsung dalam proses digitalisasi sistem kesehatan nasional. Obrolannya…

← Semua tulisan