Beberapa hari terakhir ini ramai banget di lini masa soal keluhan layanan faskes yang kemudian dikaitkan dengan BPJS.
Kalau saya melihatnya, ini the real fenomena gunung es.
Terkesan sederhana ketika ada yang mencuit di Threads, harus menunggu sampai 8 jam untuk mendapatkan pelayanan yang kemudian dikaitkan dengan rumah sakit dan BPJS.
Tapi kalau kita lihat lebih dalam, problemnya jauh lebih besar.
Di lapangan, rasanya semua stakeholder sudah sama-sama lelah.
Dokter lelah.
Nakes lelah.
Pasien juga lelah.
Domain kebijakan — Kemenkes.
Domain penjamin — BPJS Kesehatan.
Domain pelaksana — fasilitas kesehatan.
Semuanya terus ditarik ke kondisi yang semakin ekstrem.
Dan kalau sudah terlalu lama seperti ini, tinggal menunggu kapan akhirnya boom.
Kasus kemarin yang pelayanan tidak berjalan sebagaimana mestinya sampai berujung pada meninggalnya pasien adalah salah satu bentuk paling ekstrem dari problem yang sebenarnya sudah lama ada.
Menurut saya kita sudah masuk fase stuck & status quo.
Semua tahu ada masalah.
Semua tahu sistemnya tidak ideal.
Tapi solusi yang benar-benar memecahkan kebuntuan belum juga muncul.
Dan di titik seperti ini, kita butuh penyegaran, evaluasi, dan inovasi.
Saya jadi teringat sekitar 5 tahun lalu, ketika beberapa kali hadir melihat inovasi anak-anak negeri lulusan Apple Developer Academy.
Salah satunya mereka membuat platform untuk melihat ketersediaan kamar dan layanan rumah sakit.
Waktu itu respons pertama saya justru defensif.
Saya langsung berpikir:
"Bagus sih idenya. Tapi realitanya di dunia faskes kita? Susah banget."
Padahal ketika anak-anak muda itu menjelaskan idenya, mereka begitu sederhana melihatnya.
Pasien bisa tahu.
Informasi lebih transparan.
Tidak perlu muter-muter.
Layanan menjadi lebih jelas.
Dan mereka begitu yakin teknologi itu bisa membantu meningkatkan pelayanan kesehatan.
Begitu lempeng.
Begitu lurus.
Sementara saya yang sudah melihat dunia pelayanan kesehatan selama puluhan tahun malah langsung melihat temboknya.
Dan akhirnya saya sadar...
Ini bukan masalah teknologi.
Ini masalah people.
Masalah budaya.
Masalah proses.
Masalah kepentingan.
Masalah kebiasaan yang sudah mendarah daging puluhan tahun.
Makanya transformasi kesehatan memang tidak akan pernah cukup hanya dengan membeli sistem baru, membuat aplikasi baru, atau mengganti platform.
Butuh orang-orang yang berani membuka jalur yang selama ini dianggap terlalu rumit untuk disentuh.
Yaa...
Kita cuma bisa berharap.
Kalau mulai merasa lelah, overwhelmed, atau nggak baik-baik saja, jangan tunggu sampai makin berat.
Coba self-test gratis → serana.id/screening-gratis





