Saya pernah membangun startup healthtech. Tapi kami gagal.
Bukan karena timnya lemah.
Bukan karena teknologinya jelek.
Dan bukan karena idenya tidak dibutuhkan.
Kami gagal karena satu hal yang jarang dibahas secara jujur:
Healthtech itu bukan soal teknologi. Tapi soal kekuasaan.
Contohnya bisa kita lihat juga dari dua raksasa healthtech Indonesia:
Halodoc dan Alodokter.
Keduanya punya resource besar, user base kuat, bahkan pendanaan besar.
Tapi tetap… struggling.
Kenapa?
Karena mereka — seperti kami waktu itu — mencoba masuk ke sistem yang sudah dikunci rapat.
Framework ini pertama kali saya diskusikan bareng rekan saya Abi Dwiaji Wicahyo (ex-cofounder & direktur komersil Lifepack).
Beliau menggambarkan struktur ekosistem kesehatan dalam bentuk segitiga:
🔼 Pasien di atas, tapi tidak punya kuasa
🔽 Di bawahnya:
🏥 Fasyankes – rumah sakit & klinik, mengatur obat & tindakan
🩺 Dokter – mengatur diagnosis & resep
💊 Pabrikan & distributor – mengatur pasokan dan pengadaan
Semua terhubung erat — dengan satu lagi lapisan kuat: regulasi.
Industri kesehatan di Indonesia sangat diatur ketat.
📄 Kemenkes, BPOM, bahkan asosiasi profesi seperti IDI dan IAI —
semuanya punya aturan dan protokol sendiri yang sangat rigid.
Startup tech yang terbiasa bergerak cepat dan agile,
tiba-tiba seperti masuk hutan birokrasi yang tak ada ujungnya.
Berikut 5 pelajaran terbesar yang saya pelajari dari lapangan:
1. Ekosistem terlalu tertutup dan hierarkis
Pasien terlihat di atas, tapi semua keputusan dikendalikan dari bawah — oleh dokter dan fasyankes.
2. Aliansi pemain lama terlalu kuat
Dokter, RS, pabrik obat, dan distributor terhubung lewat asosiasi dan jalur distribusi yang sudah solid puluhan tahun.
3. Startup datang sendirian, tanpa koalisi
Produk bagus tidak cukup. Tanpa dukungan atau “izin masuk”, semua akses bisa ditutup.
4. Model ‘disruption’ tidak relevan di sektor ini
Healthtech bukan soal membakar pasar. Tapi integrasi pelan-pelan ke sistem lama.
5. Pasien tidak punya bargaining power
Ini bukan e-commerce. Pasien tidak bisa dengan mudah "cari alternatif". Semuanya harus lewat sistem.
Jadi, kalau kamu bertanya kenapa banyak healthtech megap-megap,
bukan karena mereka kurang pintar.
Tapi karena mereka melawan sistem yang tidak ingin berubah —
dan dilindungi oleh regulasi yang sangat kompleks.
Kalau kamu sedang membangun solusi di sektor kesehatan,
atau pernah menghadapi tembok yang sama,
share donk ceritanya.
📩 Atau **kalau kamu ingin ngobrol langsung**,
bisa DM saya — kita bisa diskusi bareng.
🟡 Atau **join komunitas Tech Voice Indonesia**
Tempat anak-anak tech saling support & mikir bareng solusi.
→ https://lnkd.in/gR4hdQhf





