Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

Ini salah satu perubahan terbesar di dunia kesehatan Indonesia.

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Ini salah satu perubahan terbesar di dunia kesehatan Indonesia.

Ini salah satu perubahan terbesar di dunia kesehatan Indonesia.

Dan menurut saya...

Masih banyak yang belum sadar.

Selama ini rumah sakit dinilai dari banyak hal.
Dokumen.
SOP.
Administrasi.
Akreditasi.

Tapi pelan-pelan arah itu berubah.

Sekarang yang akan dinilai adalah hasilnya.

Atau yang dikenal sebagai Clinical Outcome.
Contohnya seperti:

  • Survival Rate (angka kesembuhan)
  • Tingkat komplikasi & kegagalan tindakan medis
  • Indikator Nasional Mutu (INM) & Insiden Keselamatan Pasien (IKP)
  • Patient Experience Score (pengalaman pasien)

Kalau teman-teman startup familiar dengan OKR (Objective & Key Results)...

Sebenarnya konsepnya sama.

Yang diukur bukan lagi output.
Tetapi outcome.

Bukan lagi...
"Berapa banyak pekerjaan yang sudah dilakukan?"
Tetapi...
"Apa dampaknya bagi pasien?"

Menurut saya...
Ini arah yang benar.
Karena pada akhirnya...

Yang paling penting bukan rumah sakit punya SOP setebal 500 halaman.

Tetapi...

Apakah pasien lebih cepat sembuh?
Apakah komplikasi turun?
Apakah pengalaman pasien semakin baik?

Tentu membangun sistem seperti ini tidak mudah.

Dibutuhkan SDM dan Sistem yang matang.

Rekam Medis Elektronik (RME) yang standar.

Integrasi dengan SatuSehat.

Dan kualitas data yang benar-benar bisa dipercaya agar indikator clinical outcome dapat dipantau secara berkelanjutan.

Jadi buat teman-teman yang bergerak di dunia SIMRS, Electronic Medical Record (EMR/RME), maupun digital health...

Menurut saya ini momentum baru.
Saatnya gas lagi.
Karena ke depan...
Software rumah sakit bukan lagi sekadar tempat input data.

Tetapi menjadi fondasi untuk mengukur kualitas pelayanan kesehatan Indonesia.

💬 Kalau teman-teman sedang membangun atau mengembangkan sistem kesehatan—mulai dari SIMRS, EMR/RME, integrasi SatuSehat, hingga transformasi digital klinik dan rumah sakit—boleh banget ngobrol.

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

Kesan Baik dan Networking yang Kembali Berbuah
Digitalisasi Kesehatan

22 Okt2 mnt

Seleksi Pimpinan Baru BPJS dan Harapan Publik

BPJS Kesehatan Cari Nahkoda Baru — Momen Menentukan Arah Layanan Kesehatan Kita Pemerintah saat ini sedang membuka proses seleksi untuk mencari Direksi dan Dewan Pengawas baru BPJS Kesehatan. Prosesnya bisa dilihat…

Duri Regulasi di Balik Healthtech Indonesia
Digitalisasi Kesehatan

2 Mei2 mnt

Duri Regulasi di Balik Healthtech Indonesia

Dari Luar Terlihat Mudah, Dari Dalam Penuh Duri: Realita Ekosistem Healthtech Indonesia “Pak, saya pernah pakai Halodoc. Cepat banget. Kenapa dibilang ekosistemnya tertutup?” Pertanyaan ini muncul setelah tulisan saya…

Data Publik Tersandera Vendor dan Proyek Aplikasi
Digitalisasi Kesehatan

22 Jun2 mnt

Data Publik Tersandera Vendor dan Proyek Aplikasi

Data Punya Rakyat. Tapi Tersandera Vendor. Saya baru saja diskusi dengan teman-teman dari Kementerian Kesehatan dan Bappenas. Kami sepakat: Lebih dari 1 dekade ini, kita latah bikin proyek digital — tapi hasilnya?…

Beberapa hari lalu, saya ada di satu group chat kecil.
Digitalisasi Kesehatan

15 Des2 mnt

Beberapa hari lalu, saya ada di satu group chat kecil.

Beberapa hari lalu, saya ada di satu group chat kecil. Isinya founder-fouder yang lagi niat bangun startup—kebetulan di sektor kesehatan. Obrolannya singkat. Tapi cukup bikin dada agak sesak. Investor : "Indonesia saat…

Kesehatan Masih Tertutup, Interoperabilitas Mandek
Digitalisasi Kesehatan

29 Apr2 mnt

Kesehatan Masih Tertutup, Interoperabilitas Mandek

Sektor Keuangan Bisa Terbuka, Kenapa Sektor Kesehatan Masih Seperti Ini? Kalau kita mundur 20 tahun lalu, bank-bank besar di Indonesia seperti BCA dan Mandiri pernah sangat tertutup. Pakai kartu ATM beda bank? Jangan…

← Semua tulisan