Ini salah satu perubahan terbesar di dunia kesehatan Indonesia.
Dan menurut saya...
Masih banyak yang belum sadar.
Selama ini rumah sakit dinilai dari banyak hal.
Dokumen.
SOP.
Administrasi.
Akreditasi.
Tapi pelan-pelan arah itu berubah.
Sekarang yang akan dinilai adalah hasilnya.
Atau yang dikenal sebagai Clinical Outcome.
Contohnya seperti:
- Survival Rate (angka kesembuhan)
- Tingkat komplikasi & kegagalan tindakan medis
- Indikator Nasional Mutu (INM) & Insiden Keselamatan Pasien (IKP)
- Patient Experience Score (pengalaman pasien)
Kalau teman-teman startup familiar dengan OKR (Objective & Key Results)...
Sebenarnya konsepnya sama.
Yang diukur bukan lagi output.
Tetapi outcome.
Bukan lagi...
"Berapa banyak pekerjaan yang sudah dilakukan?"
Tetapi...
"Apa dampaknya bagi pasien?"
Menurut saya...
Ini arah yang benar.
Karena pada akhirnya...
Yang paling penting bukan rumah sakit punya SOP setebal 500 halaman.
Tetapi...
Apakah pasien lebih cepat sembuh?
Apakah komplikasi turun?
Apakah pengalaman pasien semakin baik?
Tentu membangun sistem seperti ini tidak mudah.
Dibutuhkan SDM dan Sistem yang matang.
Rekam Medis Elektronik (RME) yang standar.
Integrasi dengan SatuSehat.
Dan kualitas data yang benar-benar bisa dipercaya agar indikator clinical outcome dapat dipantau secara berkelanjutan.
Jadi buat teman-teman yang bergerak di dunia SIMRS, Electronic Medical Record (EMR/RME), maupun digital health...
Menurut saya ini momentum baru.
Saatnya gas lagi.
Karena ke depan...
Software rumah sakit bukan lagi sekadar tempat input data.
Tetapi menjadi fondasi untuk mengukur kualitas pelayanan kesehatan Indonesia.
💬 Kalau teman-teman sedang membangun atau mengembangkan sistem kesehatan—mulai dari SIMRS, EMR/RME, integrasi SatuSehat, hingga transformasi digital klinik dan rumah sakit—boleh banget ngobrol.





