Beberapa hari lalu, saya ada di satu group chat kecil.
Isinya founder-fouder yang lagi niat bangun startup—kebetulan di sektor kesehatan.
Obrolannya singkat.
Tapi cukup bikin dada agak sesak.
Investor : "Indonesia saat ini dipandang sebagai market dengan downside risk yang besar."
Investor : "Bahkan sampai level CFO group, exposure ke Indonesia jadi headache tersendiri.”
Investor : “Annual report perlu disclosure khusus karena kerugiannya.”
Saya: “Jadi…?”
Investor: “Honestly? Udah males ke Indonesia.”
Kalimat-kalimat itu bukan headline media.
Bukan gosip Twitter.
Itu obrolan off the record dari orang-orang yang pernah percaya, pernah menaruh uang, dan pernah berharap pada ekosistem startup Indonesia.
Dan jujur saja, kalau kita tarik ke belakang, ini bukan datang tiba-tiba.
- Kasus fraud founder
- Drama keuangan yang disembunyikan
- IPO unicorn yang jauh dari ekspektasi
- Valuasi tinggi, tapi fundamental rapuh
Sepuluh tahun terakhir, investasi startup kita seperti pesta panjang yang akhirnya harus bayar tagihan mahal.
Makanya hari ini, investor besar hampir semuanya ngerem.
Bukan cuma asing—lokal juga sama.
Tapi ada satu pergeseran menarik yang saya lihat.
Banyak investor sekarang tidak mau main besar, tapi masih mau main kecil.
Masuk di pre-seed dan seed stage saja.
Nama-nama seperti Antler, Athena.vc, Iterative, dan beberapa lainnya, tetap buka pintu.
Bukan untuk mengejar unicorn cepat, tapi untuk mencari founder yang waras, problem yang nyata, dan market fit yang masuk akal—terutama di industri lokal.
Ekspektasinya jelas:
dari 20–30 percobaan, mungkin 1 atau 2 yang benar-benar lolos.
Tapi yang lolos itu, akan lahir dengan lesson learned yang jauh lebih matang dibanding generasi sebelumnya.
Saya sendiri?
Jujur, masih pesimis.
Tapi saya berusaha tidak apatis.
Karena selama masih ada orang yang mau bangun bisnis bukan cuma buat exit pribadi—
tapi buat buka lapangan kerja,
buat ngedorong ekonomi lokal,
buat nyelesain problem nyata
selama itu juga, harapan belum benar-benar mati.
Ekosistem ini mungkin lagi jatuh ke titik terendahnya.
Tapi justru dari titik terendah itulah, model baru biasanya lahir.
Pelan.
Lebih waras.
Lebih relevan.
Dan semoga, lebih tahan banting.
🟡 Join Tech Voice Indonesia
Tempat founder, builder, dan praktisi tech ngobrol jujur—tanpa hype berlebihan, tapi tetap dengan harapan https://lnkd.in/gR4hdQhf





