5 Tahun Setelah COVID, Sistem Digital Kesehatan Kita Masih Rapuh
Saya masih ingat jelas, awal-awal COVID 2020.
Mencari obat saja terasa seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
Tiga bulan pertama, pemerintah gelap total. Tidak ada data real-time stok obat. Tidak ada visibilitas apakah Avigan, Azithromycin, atau obat-obat COVID lain tersedia di RS atau apotek.
Padahal dari hulu ke hilir — pharma (pabrik obat), PBF distributor, hingga apotek — semuanya punya datanya. Tapi ya tersimpan di silo masing-masing.
Gelap. Rapuh. Fragmented.
Di tengah gentingnya situasi, Kemenkes buru-buru bikin sistem darurat bernama Farmaplus (https://lnkd.in/gUjWUxty)
Sebuah platform cepat, yang saat itu hanya dipakai untuk update stok obat COVID.
Kami para pelaku industri farmasi dikumpulkan online, diberi arahan untuk update stok via API.
Sekilas sistem itu sederhana. Tapi justru di saat paling genting, sistem kecil itu menyelamatkan banyak nyawa.
Kita bisa tahu: obat ini ada di mana, di RS mana, atau apotek mana.
Banyak teman dan rekan yang akhirnya terbantu menemukan obat untuk keluarganya lewat data Farmaplus.
Lima tahun sudah berlalu.
Harusnya pengalaman pahit itu jadi momentum membangun sistem yang kuat, terintegrasi, siap menghadapi krisis kesehatan berikutnya.
Tapi kenyataannya?
Satusehat yang digadang-gadang jadi platform integrasi nasional malah melempem, tergerus kepentingan pejabat dan ambisi politik.
Padahal, kuncinya sederhana:
- Data obat dan pasien yang real-time
- Sistem yang terbuka & terhubung lintas lembaga
- Kolaborasi dengan sektor swasta, bukan monopoli
Karena dengan data dan sistem yang sehat, keputusan pemerintah bisa lebih cepat, lebih tepat, dan lebih menyelamatkan.
Sayangnya, pelajaran COVID seperti hilang ditelan waktu.
Kalau kita tidak belajar dari krisis kemarin, kita sedang menunggu bencana berikutnya dengan tangan kosong.
🔹 **Butuh mentoring 1**:**1 soal karir di tech**? → https://lnkd.in/gGbCrsfX





