Musim Dingin Teknologi. Pemerintah Kita? Masih Sibuk Bikin Rapat.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, bilang:
“Musim dingin teknologi (tech winter) tengah terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia.”
Ya, benar sekali. Tapi yang menarik bukan soal musim dinginnya,
melainkan bagaimana kita — terutama pemerintah —
terbiasa hangat di wacana, dingin di aksi.
Layoff demi layoff bergulir.
Dari yang seharusnya sudah bukan disebut startup lagi seperti GoTo, Bukalapak, Traveloka,
sampai startup kecil yang baru mulai tumbuh.
Ribuan orang kehilangan pekerjaan, investor mulai hati-hati, dan pasar terasa beku.
Pemerintah sadar — tapi ya itu, masih seperti biasa:
dihadapi dengan acara, rapat, forum investasi, networking session, dan “pembentukan tim lintas kementerian”.
Kita tahu arahnya ke mana: banyak pemimpin, tapi sedikit yang betul-betul kerja.
Saya ingat sekali ucapan teman saya yang pas banget menggambarkan ini:
“Another day, another task force.
No one working on the task.
Everybody is leading.
No one is working.”
Padahal akar masalahnya jelas:
tata kelola startup kita lemah, terlalu fokus ke pertumbuhan dan valuasi,
bukan ke keberlanjutan dan transparansi.
Akhirnya ya begini — dari Investree sampai eFishery, masalahnya bukan ide, tapi integritas.
Jadi, buat kita yang di lapangan, jangan berharap banyak dari atas.
Berjuang sendiri dulu.
Naikkan kemampuan, pelajari skill baru, dan mulai manfaatkan AI tools
biar bisa tetap relevan dan produktif.
Saya tanggal 5 November 2025 pukul 19.30 WIB bakal adain sesi singkat online:
AI for Real Work – Belajar Pakai AI Tools untuk Kerja Sehari-Hari.
Kita bahas cara pakai ChatGPT, Gemini, Perplexity, Gamma.app, dan SORA/VEO
buat bantu kerjaan 2–3x lebih cepat dan efisien.
📍 Live via Zoom (60–90 menit)
🎟️ Join di sini: https://lnkd.in/gfmjrTrf
Karena kalau pemerintah masih sibuk bikin rapat,
ya setidaknya kita sibuk bikin kemampuan baru.





