Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

Silo Mentality Bukan Anomali.

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Silo Mentality Bukan Anomali.

Silo Mentality Bukan Anomali.
Itu Cara Bernegara Kita.

Minggu lalu DPR emosi soal e-KTP.

Salah satu yang paling nyentil datang dari Deddy Sitorus:
pembuatan data pada sejumlah lembaga menyebabkan pemborosan anggaran.”

Dan menurut saya, ini bukan cuma soal e-KTP.

Ini symptom dari masalah yang jauh lebih besar:
kita hidup di negara yang penuh silo.

Kemendagri punya silo data sendiri.
Kemenkes punya silo sendiri.
Kemendikbud punya silo sendiri.

BUMN juga sama.

Perbankan jalan sendiri-sendiri.
Telekomunikasi jaga wilayah masing-masing.
BPJS Kesehatan punya data kesehatan terbesar di Indonesia, tapi pemanfaatannya masih bingung arahnya ke mana.

Bahkan regulator pun sering tidak sinkron.

BI beda arah.
OJK beda arah.
Kementerian beda aturan lagi.

Akhirnya apa?

Rakyat harus isi data berulang kali.
Infrastruktur dobel-dobel.
Anggaran habis untuk bikin sistem yang mirip-mirip.

Dan ironisnya, semua merasa sedang “transformasi digital”.

Padahal yang terjadi sering cuma:
digitalisasi silo.

Ini kenapa banyak proyek digital mahal tapi impact-nya kecil.

Karena problem utamanya bukan teknologi.

Tapi mindset:
data dianggap power,
bukan shared infrastructure.

Dan selama setiap institusi masih sibuk menjaga “wilayah”-nya masing-masing,
kita akan terus jadi negara yang:

  • lambat
  • mahal
  • tidak efisien

Masalah e-KTP kemarin cuma puncak gunung es.

Di bawahnya, ada problem struktural yang jauh lebih besar.

Kalau kita serius mau bicara AI, digitalisasi, atau efisiensi negara —
maka pertanyaan paling penting sebenarnya sederhana:

kapan kita berani membongkar silo ini?

Kalau kamu lagi bergelut di transformasi digital, integrasi sistem, AI, healthcare, atau problem lintas institusi seperti ini — ngobrol yuk.

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

Digitalisasi Kesehatan: DTO Hilang Momentum
Digitalisasi Kesehatan

11 Feb2 mnt

Digitalisasi Kesehatan: DTO Hilang Momentum

Revolusi Mental Digitalisasi Kesehatan? PRANK! Dulu kita percaya “REVOLUSI MENTAL” bisa mengubah bangsa. Pemerintah bahkan bikin Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) lewat Inpres No.12 Tahun 2016. Tapi apa hasilnya?…

satusehat-mandek-pasien-tetap-screening-ulang
Digitalisasi Kesehatan

2 Jun2 mnt

Satusehat Mandek, Pasien Tetap Screening Ulang

Digitalisasi Kesehatan: Masih Jalan di Tempat? Tahun lalu saya sempat pindah rumah sakit sampai 4 kali. Setiap pindah, saya harus screening ulang — ulang lagi isi form, ulang lagi cerita riwayat sakit, ulang lagi semua…

Minggu lalu saya berobat ke Siloam.
Digitalisasi Kesehatan

18 Jul2 mnt

Minggu lalu saya berobat ke Siloam.

Minggu lalu saya berobat ke Siloam. Dan saya senyum sendiri. Bukan karena obatnya... Tapi karena akhirnya saya melihat digital transformation yang benar-benar terasa. Begitu datang... Ambil nomor di kiosk. Lihat…

Pedulilindungi Jadi Judol: Gagal Governance Digital
Digitalisasi Kesehatan

31 Mei2 mnt

Pedulilindungi Jadi Judol: Gagal Governance Digital

Judol, Judol, Judol… Pedulilindungi Gagal Dimaintain! Beberapa hari lalu, ramai lagi soal situs Pedulilindungi yang malah menampilkan JUDOL alias judi online. Padahal saya masih ingat betul masa-masa COVID-19 dulu…

Rekam Medis Hak Pasien dan Silo Rumah Sakit
Digitalisasi Kesehatan

21 Jun2 mnt

Rekam Medis Hak Pasien dan Silo Rumah Sakit

Rekam Medis Itu Milik Pasien. Bukan Milik Rumah Sakit. Pernah ngalamin ini? Saya, pribadi. Dalam beberapa bulan terakhir pindah ke 3 rumah sakit berbeda. Setiap pindah? Bawa hasil lab sendiri. Bawa rontgen. Bawa hasil…

← Semua tulisan