Masuk

Ekosistem Tech Indonesia2 menit baca

Saat Trust Jadi Produk, Pertamina Tertinggal

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Saat Trust Jadi Produk, Pertamina Tertinggal

Trust Is The Product — Tapi Pertamina Nggak Paham Konsep Itu

Pertamina ini perusahaan besar, tua, dan punya aset negara yang luar biasa.
Tapi jujur aja… kok kelakuannya sering kayak startup receh yang belum ngerti arti trust.

Kasus demi kasus.
Kebakaran, bocor, skandal procurement, markup sana-sini — udah kayak agenda tahunan.
Dan yang bikin miris, kayak nggak pernah ada perbaikan yang bener-bener terasa.

Padahal, trust itu bukan cuma jargon.
Buat perusahaan besar—apalagi yang main di energi dan minyak—trust adalah produknya.
Begitu hilang kepercayaan publik, selesai sudah.


Sekarang coba liat perbandingannya di lapangan 👇

Masuk ke SPBU Pertamina:
Kumuh. Jorok. Pegawai cuek. Kadang isi bensin kayak transaksi di pasar malam.
Aplikasi MyPertamina? Ya cuman QR buat beli Pertalite. Experience-nya? Ya gitu-gitu aja.

Masuk ke SPBU Shell, BP, atau Vivo:
Bersih. Kinclong. Disapa ramah. Kadang ditawarin lap kaca depan.
Toilet bersih, bonus kopi, ada program loyalty card yang beneran rewarding.
Bahkan SPBU BP aja kerja sama sama Kopi Tuku 🤘, biar lo beli kopi tetangga tapi tetep isi bensin di situ.
Cerdas.

Dan sekarang?
Pasar beralih.
Orang rela bayar sedikit lebih mahal demi produk & pelayanan yang bisa dipercaya.
Karena ya itu tadi: trust is the product.

Ironisnya, infrastruktur IT Pertamina sebenernya udah mumpuni banget.
Kolaborasi dengan Telkom, proyek digitalnya gila-gilaan nilainya sekitar 3,6 triliun rupiah.
Tapi sayangnya, sistem sebesar itu nggak menyentuh hal yang paling penting:
membangun kepercayaan publik.

Padahal trust itu bisa jadi competitive edge luar biasa.
Kalau aja mereka ngerti konsep “zero-incident” kayak di industri tambang atau oil & gas global,
mungkin hari ini SPBU Pertamina nggak kalah pamor sama Shell.

💬 Kamu sendiri, lebih percaya isi bensin di mana? Pertamina atau Shell?
Komen di bawah, pengen tau juga pandangan kamu.

1️⃣ Join webinar gratis buat softwa re engineer biar bisa efisien pakai AI tools – daftar di sini https://bit.ly/4nRpi1A

2️⃣ Ikut kolaborasi Personal Branding 14 Hari Batch 2, biar bisa konsisten bikin konten yang berdampak https://bit.ly/4mTQxHP

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Ekosistem Tech Indonesia

Warisan 27 Ribu Aplikasi dan Kekacauan Data
Ekosistem Tech Indonesia

19 Jun2 mnt

Warisan 27 Ribu Aplikasi dan Kekacauan Data

Warisan 27 Ribu Aplikasi: Saatnya Bereskan Kekacauan Data Nasional?” Kalau kamu sekarang lagi frustrasi cari data valid, tenang… kamu nggak sendirian. Saya sudah sering banget ngobrol sama teman-teman di pemerintahan…

baby unicorn
Ekosistem Tech Indonesia

24 Jan2 mnt

Bubble Unicorn Meletus: Layoff dan Cara Bertahan

Unicorn Madness: Ketika Bubble Startup Akhirnya Meletus Kerja di unicorn itu impian semua anak zaman now. Kantor keren, budaya kerja kekinian, dan eksis di LinkedIn—siapa yang nggak mau? Tapi sekarang, impian itu…

Ketika 3 Provinsi Tenggelam, Kita Seperti Negara Tanpa Komando
Ekosistem Tech Indonesia

2 Des2 mnt

Ketika 3 Provinsi Tenggelam, Kita Seperti Negara Tanpa Komando

Ketika 3 Provinsi Tenggelam, Kita Seperti Negara Tanpa Komando Sudah lebih dari seminggu, Aceh–Sumut–Sumbar porak-poranda. Curah hujan ekstrem dari Siklon Tropis Senyar membuat tanah jenuh, bukit runtuh, dan banjir…

Kebocoran Data 5 Tahun Terakhir dan UU PDP
Ekosistem Tech Indonesia

21 Agu2 mnt

Kebocoran Data 5 Tahun Terakhir dan UU PDP

Data Bocor: Fakta 5 Tahun Terakhir Kalau kita lihat ke belakang, kasus kebocoran data di Indonesia bukan sekali-dua kali. Dalam 5 tahun terakhir, hampir setiap tahun ada kasus besar yang ramai di media—baik dari…

RFP Tanda Tangan Digital 500 Miliar
Ekosistem Tech Indonesia

2 Mar2 mnt

RFP Tanda Tangan Digital 500 Miliar: Absurd?

500 Miliar Rupiah untuk Sistem Tanda Tangan Digital? Negeri ini memang luar biasa... Ketika digitalisasi dikelola dengan mindset yang salah, yang terjadi bukan efisiensi, tapi proyek absurd dengan angka fantastis…

← Semua tulisan