Warisan 27 Ribu Aplikasi: Saatnya Bereskan Kekacauan Data Nasional?”
Kalau kamu sekarang lagi frustrasi cari data valid,
tenang… kamu nggak sendirian.
Saya sudah sering banget ngobrol sama teman-teman di pemerintahan dan swasta —
dan semuanya bilang hal yang sama:
data kita chaos, fragmented, dan nggak bisa dipakai buat ambil keputusan.
Kenapa bisa begini?
Karena hampir satu dekade terakhir digitalisasi kita tanpa arah.
27 ribu aplikasi pemerintah dibuat lebih karena:
- Proyekan,
- Ambisi naik jabatan,
- Atau gengsi bawa-bawa “transformasi digital” setelah dapat gelar.
Hasilnya?
- Setiap K/L/D (Kementerian / Lembaga / Daerah) bikin aplikasinya sendiri.
- Data tersebar, nggak connect, dan nggak usable.
- Banyak yang ditutup, tapi datanya nggak sempat diselamatkan.
Saya pernah ngobrol dengan tim yang diberi tugas “merapikan” kekacauan ini.
Banyak aplikasi akhirnya ditakeover atau dimatikan,
karena memang sudah tidak ada jalan untuk integrasi.
Ini seharusnya jadi PRIORITAS NASIONAL.
Kenapa?
1. Efisiensi negara itu butuh presisi
APBN kita tahun 2025 mencapai Rp3.600 triliun.
Bayangin berapa % potensi salah belanja hanya karena datanya berantakan?
2. Investasi butuh data
Investor butuh insight, bukan asumsi.
Saya sendiri pernah bangun bisnis,
dan harus jungkir balik cari data ke mana-mana,
bahkan pakai jasa riset dan tetap boncos karena datanya nggak sinkron.
3. Produktivitas bangsa bisa naik drastis
Kalau data connect antar instansi,
kita bisa hilangkan formulir-formulir, fotokopi, dan antrian.
Bayangin produktivitas yang bisa kita capai kalau itu semua hilang.
Pertanyaan saya sekarang: siapa yang mau beresin ini?
Kami mulai dari pertanyaan-pertanyaan ini:
- “Kita sudah punya banyak data, tapi… gunanya apa?”
- “Cari data tambahan? Harus mulai dari mana?”
- “Perusahaan data? Lebih banyak jualan survei sampling yang cepat basi.”
- “Kalau datanya internal? Ya numpuk aja di server, nambah cost OPEX tiap bulan.”
Saya yakin ini waktunya ada yang memulai inisiatif serius untuk membereskan data Indonesia.
Bukan cuma integrasi teknis, tapi juga membangun infrastruktur kepercayaan, standardisasi, dan tata kelola data.
Kalau kamu punya masalah serupa di instansi, perusahaan, atau tempat kerja kamu —
atau kamu pegang data tapi nggak tahu harus gimana —
**yuk ngobrol**.
Kalau kamu investor, researcher, atau technologist yang mau bangun masa depan data Indonesia,
**DM saya**.
Let’s fix this together.





