Dulu Dipanggil Mas Menteri. Sekarang Cuma Disebut Inisial NAM
Saya masih ingat betul, waktu itu kita semua bangga.
Anak muda, mantan founder unicorn, dipercaya Presiden jadi Menteri.
Dikasih panggung buat benerin sistem pendidikan di negeri ini.
Bahkan beberapa anak startup lain diangkat jadi stafsus.
Kita semua punya harapan.
Tapi sekarang?
Di semua berita nasional dan jagat maya, namanya berubah jadi "inisial": NAM Alias Nadiem Anwar Makarim.
Disebut dan dipanggil dalam kasus korupsi pengadaan laptop senilai Rp9,9 Triliun.
Dengan dugaan kerugian negara mencapai Rp1,8 Triliun.
Yang sudah jadi tersangka?
Bukan sembarang orang.
Adalah staf khusus Nadiem sendiri – "Jurist Tan", yang kini berada di luar negeri.
Kasus ini didalami Kejaksaan Agung, dikaitkan juga dengan pengadaan Chromebook untuk guru sekolah,
dan mulai muncul juga dugaan keterkaitan dengan perusahaan besar seperti Google dan GoTo.
Media bahkan mengaitkan dengan investasi Google ke GoTo dan praktik ordal (orang dalam).
Hadeehh...
Sekitar sebulan lalu, ada teman saya DM:
“Ini beneran broo Nadiem korupsi? Kagak percaya gw selevel dia.”
Waktu itu saya jawab, kita lihat aja nanti kerja penegak hukum.
Ternyata sekarang, satu-satu mulai terbuka:
- Grup WhatsApp "Mas Menteri Core Team"
- Arah proyek digitalisasi
- Peran stafsus sebagai “pengatur” pengadaan
Dan saya terdiam.
Miris.
Selama ini saya sering bilang:
Digitalisasi sektor publik gagal bukan karena teknologi, tapi karena mindset.
Karena people problem.
Tapi ini ironis.
Yang sekarang diduga bermain bukan pejabat tua dari partai politik,
tapi anak muda, lulusan luar negeri, mantan anak startup, simbol “maju” dan “modern”.
Mereka yang dulu kita banggakan.
Tapi cara mainnya masih sama.
Main proyek.
Main anggaran.
Main sistem.
Saya emosional.
Bukan karena nama besar yang jatuh.
Tapi karena harapan yang hancur.
📌 Kalau anak muda yang sudah dikasih kepercayaan pun ikut bermain curang, lalu siapa yang bisa kita percaya?
🔹 Mau mulai bangun personal branding di LinkedIn?
→ s.id/branding-linkedin
🔹 Punya ide, keresahan, atau inisiatif di sektor digital dan publik?
🔹 Gabung ke komunitas Tech Voice Indonesia (TVI)





