Talenta Digital & AI: Antara Pidato dan Realita
Beberapa hari lalu, Presiden menyampaikan pidato:
“Kita harus menguasai AI. Untuk itu, kita perlu mencetak talenta-talenta hebat dan meningkatkan kualitas pendidikan kita.”
Kalimat yang indah. Visioner.
Tapi di lapangan—ceritanya sering jauh berbeda.
Dari Peta Jalan ke Lapangan
Komdigi sudah meluncurkan buku putih peta jalan AI. Disusun rapi dengan bahasa akademisi dan birokrasi.
Salah satu fokusnya: pengembangan talenta AI lewat kampus (formal) dan training (informal).
Tapi, back to reality:
- Tech winter sudah 3 tahun menghantam industri global.
- Puluhan ribu pekerja tech kehilangan kerja, inovasi ditunda, investasi wait and see.
- Perusahaan lebih banyak “menahan napas” dibanding mencetak talenta baru.
Cerita dari Lapangan
Saya sudah bicara soal isu ini sejak akhir tahun lalu.
Salah satu alasan saya membangun Tech Voice Indonesia adalah untuk meningkatkan literasi digital & AI.
Puluhan sesi sudah kami jalankan: teori, praktik, teknis.
Semua dilakukan swadaya—pakai kantong pribadi, urunan komitmen.
Apakah konsisten & panjang mudah? Tentu tidak. Tapi harus ada yang memulai.
Saya juga mendengar: salah satu edutech besar sempat bikin program “AI Talent Bootcamp”.
Awalnya mau jalan sendiri. Akhirnya minta support NVIDIA agar bisa mencetak 5.000 AI Engineer.
Pertanyaannya: apakah pola ini sustainable?
Pelajaran yang Harus Kita Ingat
- Talenta AI tidak bisa hanya jadi jargon dalam pidato.
- Talenta digital bukan cuma angka di roadmap, tapi orang nyata yang butuh ekosistem nyata.
- Kalau kita mau kuasai AI, eksekusi di lapangan harus selaras dengan visi di podium.
**Sekarang Giliran Kita**
Kalau kamu CTO, CIO, founder, praktisi, atau mahasiswa yang lagi nyemplung di dunia digital—
ini bukan hanya soal AI, tapi soal masa depan bangsa.
🟡 Butuh arah lebih jelas di dunia AI & digital? Saya buka sesi mentoring 1-on-1 → https://lnkd.in/geseiXrD





