Mudik Tahun Ini Rasanya Sepi. Tapi Kok Rasanya Bukan Karena Lebih Tertib, ya?
Beberapa hari lalu, H-5 Lebaran, saya ikut mudik lewat jalur darat dan menyebrang ke Pulau Sumatera.
Sudah siap mental untuk hadapi antrian panjang di Pelabuhan Merak.
Tapi… sesampainya di sana, kosong.
Sepi.
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.
Awalnya saya pikir, mungkin saya salah hari. Tapi ternyata bukan cuma saya yang merasa begitu.
Saya coba cari data — dan benar saja.
Kemenhub merilis proyeksi penurunan arus mudik tahun ini sebesar 24%.
Ini angka yang nggak main-main. Dan… rasanya cukup menggambarkan kondisi kita sekarang.
Mungkin memang... kita sedang tidak baik-baik saja.
1. PHK masif terjadi sejak 2 tahun terakhir.
2. Lapangan pekerjaan menyusut, anak muda fresh grad mulai frustasi.
3. Investasi lesu, pasar saham rontok, dan startup berguguran.
Semua orang jadi lebih hemat.
Yang dulu bisa mudik bareng keluarga besar, sekarang cukup video call.
Yang dulu bisa beli tiket H-10, sekarang menunggu H-1 demi harga promo.
Yang dulu bisa bawa mobil sendiri, sekarang ramai-ramai patungan bensin.
Semua jargon klasik ekonomi terasa nyata sekarang:
- “Supply lebih besar dari demand.” → Kompetisi makin brutal.
- “Jangan sampai besar pasak dari tiang.” → Hidup hemat bukan pilihan, tapi kewajiban.
Di tengah semua ini, saya masih ingin tahu:
Apakah proyek raksasa seperti MBG (Makan Bergizi Gratis)
yang menyedot ratusan triliun rupiah itu…
akan menyentuh realita PHK, lapangan kerja yang susah, dan investasi yang lari?
Atau hanya proyek monumen untuk dipajang di brosur?
Kalau kamu juga merasa kondisi ini butuh kita bicarakan bareng, yuk ngobrol.
Setidaknya kita bisa saling bantu dan dukung di komunitas.
✅ Join Tech Voice Indonesia di sini → https://lnkd.in/gR4hdQhf





