Masuk

Ekosistem Tech Indonesia2 menit baca

Ketika Negara Mengirim 20 Miliar, dan Warga Mengumpulkan 10 Miliar Sendiri

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Ketika Negara Mengirim 20 Miliar, dan Warga Mengumpulkan 10 Miliar Sendiri

Ketika Negara Mengirim 20 Miliar, dan Warga Mengumpulkan 10 Miliar Sendiri

Sudah dua minggu Sumatera sebagian masih terisolir.
Aceh, Sumut, Sumbar — hancur dalam skala yang sulit dibayangkan.
Rumah, jembatan, sekolah, akses logistik, semuanya lumpuh.

Dan di tengah bencana sebesar ini, kita melihat fenomena yang ganjil:

Pemerintah RI mengumumkan Rp21 miliar bantuan penanganan banjir.
Di saat yang sama, satu orang — Ferry Irwandi — menggalang Rp10 miliar dalam 24 jam, dan langsung masuk ke titik terdalam dengan tim lapangan.

Pertanyaannya sederhana, tapi menyakitkan:
Kalau negara sebesar Indonesia hanya bergerak 2 kali lipat dari upaya satu individu, apakah kita benar-benar sedang serius menanggulangi bencana?

Di titik ini, banyak orang merasa seperti sedang melihat negara berjalan pelan, sementara masyarakat bergerak jauh lebih cepat.

Yang satu mengumumkan bantuan.
Yang satu menembus desa-desa terisolir, membagikan logistik, membawa harapan.

Dan ironinya:
Pemerintah turun setelah seminggu.
Itu pun sekadar simbolisasi kehadiran.

Dilema yang Tidak Pernah Diucapkan: Kemanusiaan vs Keuangan Negara
Salah satu pejabat negara sempat menyampaikan bahwa bencana Sumatera ini berpotensi mengganggu target pertumbuhan ekonomi.

Kalimat itu sederhana.
Tapi maknanya tajam.

Artinya:

  • ada hitung-hitungan di balik bencana,
  • ada dilema anggaran,
  • ada kekhawatiran defisit,
  • dan kemanusiaan masuk antrean prioritas.

Tentu bukan hal yang menyenangkan untuk diucapkan secara publik.
Namun realita ini tersirat jelas.

Publik Menangkap Satu Hal: Setengah Hati
Bukan karena tidak ada bantuan.
Tapi karena skala bantuannya tidak sebanding dengan skala bencananya.

Karena dalam bencana kemanusiaan, kecepatan adalah segalanya.
Dan kita tidak melihat itu.

Ketika warga sendiri saling patungan, saling angkat logistik, saling evakuasi — kita justru bertanya:

Di mana negara saat rakyat bergerak lebih cepat daripada pemerintah?

Ini bukan soal angka.
Ini soal sense of urgency.

Kalau masyarakat mampu menggalang miliaran dalam semalam,
negara seharusnya bisa menggerakkan 100× lebih besar dalam jam yang sama.

Kalau instruksi publik bisa muncul dalam hitungan menit,
logistik nasional tidak boleh menunggu seminggu.

Kalau warga masuk medan banjir,
negara seharusnya sudah lebih dulu tiba di sana.

Saat bencana memanggil, negara bukan hanya harus hadir—
tapi hadir setara dengan skala penderitaannya.

Itu yang rakyat tunggu.
Dan sampai hari ini, kita masih belum melihatnya.

🟡 Join Tech Voice Indonesia
Untuk diskusi sistem nasional, kepemimpinan, data, dan masa depan bangsa.

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Ekosistem Tech Indonesia

Merdeka Digital: Lepas dari Mental Instan
Ekosistem Tech Indonesia

17 Agu2 mnt

Merdeka Digital: Lepas dari Mental Instan

Merdeka Itu Bukan Sekadar Simbol. Tapi Keberanian Lepas dari Mental Pendek. Hari ini, di setiap sudut negeri, merah putih berkibar. Kita rayakan kemerdekaan yang diperoleh dengan darah dan perjuangan panjang. Bukan…

IHSG Anjlok: Alarm Krisis Domestik dan Survival
Ekosistem Tech Indonesia

19 Mar2 mnt

IHSG Anjlok: Alarm Krisis Domestik dan Survival

Darah itu Merah, Jenderal! IHSG anjlok 6,12% ke level 6.076,08, sementara negara-negara tetangga malah hijau semua, menguat di hari dan jam yang sama. Kalau ini cuma 'tren sesaat', kenapa negara lain seperti Singapura…

WFH Lagi Ramai Dibahas. Tapi Kita Mau Hemat… atau Mau Berubah?
Ekosistem Tech Indonesia

17 Mar2 mnt

WFH Lagi Ramai Dibahas. Tapi Kita Mau Hemat… atau Mau Berubah?

WFH Lagi Ramai Dibahas. Tapi Kita Mau Hemat… atau Mau Berubah? Belakangan pemerintah mulai mendorong WFH lagi. Alasannya jelas: efisiensi, terutama untuk penghematan BBM. Bahkan sektor swasta juga diajak ikut. Kalau…

Investree: Mimpi Fintech Runtuh oleh Pengkhianatan
Ekosistem Tech Indonesia

13 Okt2 mnt

Investree: Mimpi Fintech Runtuh oleh Pengkhianatan

Elegi Investree — Mimpi yang Lahir Mulia, Berakhir dalam Pelarian Ada mimpi yang lahir dengan tepuk tangan... tapi berakhir dalam bisik-bisik kekecewaan. Hampir sepuluh tahun lalu, seorang anak bangsa bernama Adrian…

Lulusan STEM Banyak, Dampak Teknologi Minim
Ekosistem Tech Indonesia

26 Mar2 mnt

Lulusan STEM Banyak, Dampak Teknologi Minim

Lulusan STEM Indonesia Banyak, Tapi Kok Gak Kelihatan ya? Saya baru saja melihat infografis dari @CSETGeorgetown tentang jumlah lulusan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) di dunia tahun 2020. Indonesia…

← Semua tulisan