Elegi Investree — Mimpi yang Lahir Mulia, Berakhir dalam Pelarian
Ada mimpi yang lahir dengan tepuk tangan...
tapi berakhir dalam bisik-bisik kekecewaan.
Hampir sepuluh tahun lalu, seorang anak bangsa bernama Adrian Gunadi berdiri dengan keyakinan besar:
bahwa akses modal harus dibuka untuk mereka yang tidak dilihat bank.
Dari keyakinan itu lahirlah Investree — pionir fintech P2P lending Indonesia, simbol inklusi keuangan, kebanggaan inovasi lokal.
Saya masih ingat bagaimana nama Investree dulu disebut penuh harapan.
UMKM kecil yang tak punya agunan diberi panggung.
Investor lokal dan global berlomba masuk.
Pendanaan ratusan miliar, lalu triliunan, mengalir dari Jakarta sampai Doha.
Investree pernah dielu-elukan sebagai masa depan fintech Indonesia.
Tapi mimpi paling mulia pun bisa runtuh…
bukan karena kompetisi —
melainkan oleh orang yang menciptakannya sendiri.
Saat rasio gagal bayar membengkak, lender menunggu uang pulang, dan kepercayaan publik mulai runtuh.
founder-nya menghilang.
Bukan untuk bertanggung jawab.
Bukan untuk menjelaskan.
Tapi untuk melarikan diri.
Dari panggung startup dan forum fintech,
ia lenyap—muncul kembali bukan sebagai inovator,
melainkan sebagai DPO Interpol, buron kasus penggelapan Rp2,7 triliun.
Dan ketika akhirnya tertangkap di Doha,
ia tak lagi mengenakan jas biru kebanggaan founder…
melainkan rompi tahanan.
Ironi terbesar bukanlah kegagalan Investree.
Ironinya adalah:
ada mimpi yang mati bukan karena musuh...
tapi karena pengkhianatan dari dalam.
Untuk para founder muda —
belajarlah dari cerita ini:
- Membangun startup itu bukan tentang pitch deck dan valuasi.
- Mencari investor itu bukan soal lobi… tapi soal integritas.
- Dan ketika badai datang —
yang membedakan pemimpin dan pelarian,
hanyalah satu kata: tanggung jawab.
Kita tidak boleh lelah membangun.
Tapi kita wajib waspada memilih teladan.
Jika ingin “karya anak bangsa” tetap hidup,
maka mimpi tidak cukup.
Yang kita butuhkan hari ini adalah moral & keberanian untuk bertanggung jawab.
—
💬 Punya pandangan soal kasus Investree atau ekosistem startup kita?
Mari kita bahas dengan jujur.





