Masuk

Ekosistem Tech Indonesia2 menit baca

Lulusan STEM Banyak, Dampak Teknologi Minim

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Lulusan STEM Banyak, Dampak Teknologi Minim

Lulusan STEM Indonesia Banyak, Tapi Kok Gak Kelihatan ya?

Saya baru saja melihat infografis dari @CSETGeorgetown tentang jumlah lulusan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) di dunia tahun 2020.

Indonesia ternyata ada di posisi 5 besar dunia:

  1. China – 3.57 juta
  2. India – 2.55 juta
  3. United States – 820 ribu
  4. Rusia – 520 ribu
    5. Indonesia300 ribu

Impresif? Iya. Tapi juga bikin mikir…

Kenapa kita nggak kelihatan kontribusinya secara global?
Kalau lihat geliat AI, biotech, EV, renewable energy, atau sekadar bikin produk global aja—nama Indonesia nyaris gak terdengar.

Padahal jumlah lulusan STEM kita hampir mendekati dengan Rusia. Tapi realitanya?

  • Kita masih impor chip.
  • Kita masih jadi pasar, bukan produsen teknologi.
  • Kita lebih sering adaptasi, bukan inovasi.

Beberapa analisa kenapa ini terjadi (feel free to agree/disagree ya):
1. Kurikulum kita jadul
Banyak kampus masih ngajarin hal yang sudah obsolete. Dunia industri sudah pakai AI & LLM, kampus masih ribut C++ dan Java console app.

2. Kesempatan pendidikan gak tepat sasaran
Anak-anak berbakat dari daerah terpencil, sering gak dapat akses terbaik. Padahal banyak dari mereka yang potensial luar biasa.

3. Budaya meritokrasi yang lemah
Anak-anak lulusan luar negeri top malah mikir ribuan kali mau balik ke Indonesia. Karena sistem kita kadang lebih menghargai “siapa kamu” daripada “apa yang bisa kamu bawa”.

Sedih? Iya. Tapi kita juga gak boleh diam aja.

Salah satu solusi yang bisa kita mulai?
Bangun komunitas, buka ruang diskusi, dan bantu satu sama lain untuk naik bareng.
Makanya saya bikin Tech Voice Indonesia, sebagai salah satu ikhtiar kecil untuk bikin ekosistem yang lebih sehat buat kita semua.

💬 Gimana pendapatmu? Kenapa Indonesia gak kelihatan di peta teknologi dunia meski lulusannya banyak?


✅ Kalau kamu anak tech dan pengen punya komunitas sehat untuk ngobrol & upgrade skill → gabung ke https://lnkd.in/gR4hdQhf

✅ Kalau kamu mau ngobrol private mentoring soal karier atau ingin eksplor topik kayak gini → https://lnkd.in/gwVDP9rE

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Ekosistem Tech Indonesia

Tragedi di NTT dan Bom Waktu Masalah Sosial Kita
Ekosistem Tech Indonesia

4 Feb2 mnt

Tragedi di NTT dan Bom Waktu Masalah Sosial Kita

Tragedi di NTT dan Bom Waktu Masalah Sosial Kita Saya benar-benar terdiam ketika membaca berita ini. Seorang siswa SD di NTT mengakhiri hidupnya karena tidak dibelikan pulpen dan buku. Ini bukan sekadar tragedi. Ini…

Luhut DEN
Ekosistem Tech Indonesia

10 Jan2 mnt

Digitalisasi Pemerintah Mandek Karena Mindset

Digitalisasi Pemerintah: Mandek di Mindset? Selama 5 tahun terakhir, kita menyaksikan digitalisasi di sektor pemerintahan berjalan lambat sekali. Walaupun beberapa kementerian seperti Kemenkes dan Mendikbud mulai…

koin jagat
Ekosistem Tech Indonesia

16 Jan2 mnt

Koin Jagat dan Risiko Treasure Hunt yang Viral

Koin Jagat: Kreatif atau Bikin Pikiran Pendek? Beberapa hari ini, koin Jagat jadi topik panas. Sampai-sampai dua kementerian, Komdigi dan Ekraf, ikut menyorot potensi kerusakannya. Karena penasaran, saya coba install…

AI Indonesia Terancam Dikuasai Infrastruktur Cloud
Ekosistem Tech Indonesia

28 Mei2 mnt

AI Indonesia Terancam Dikuasai Infrastruktur Cloud

AI Sedang Diambil Alih. Bukan oleh Kita. Baru saja Microsoft dan Google bikin dua pengumuman besar di Indonesia. Microsoft meresmikan cloud region pertamanya di Tanah Air. Akhirnya. Google kolaborasi dengan Kominfo…

IHSG Anjlok: Alarm Krisis Domestik dan Survival
Ekosistem Tech Indonesia

19 Mar2 mnt

IHSG Anjlok: Alarm Krisis Domestik dan Survival

Darah itu Merah, Jenderal! IHSG anjlok 6,12% ke level 6.076,08, sementara negara-negara tetangga malah hijau semua, menguat di hari dan jam yang sama. Kalau ini cuma 'tren sesaat', kenapa negara lain seperti Singapura…

← Semua tulisan