Tragedi di NTT dan Bom Waktu Masalah Sosial Kita
Saya benar-benar terdiam ketika membaca berita ini.
Seorang siswa SD di NTT mengakhiri hidupnya karena tidak dibelikan pulpen dan buku.
Ini bukan sekadar tragedi.
Ini alarm keras.
Kasus seperti ini terasa seperti bom waktu.
Masalah sosial dan kemiskinan yang menumpuk, lalu meledak dalam bentuk yang paling ekstrem.
Ironisnya, ini terjadi di tengah gembar-gembor program Makan Bergizi Gratis (MBG)
yang katanya fokus ke sekolah dan daerah dengan keterbatasan ekonomi.
Tapi kejadian ini menunjukkan satu hal penting:
masalahnya bukan hanya soal makan,
tapi akses dasar pendidikan dan perlindungan sosial yang luput terbaca.
Menteri Sosial sudah angkat bicara dan menekankan pentingnya penguatan data untuk melindungi keluarga rentan.
Dan saya yakin, di level kebijakan, ini bukan hal baru bagi Kementerian Sosial.
Kalau bicara data, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan:
- Badan Pusat Statistik sudah puluhan tahun mengumpulkan data kependudukan
- Kementerian/lembaga punya unit sendiri-sendiri
- Pemerintah daerah juga punya sistemnya masing-masing
Masalahnya bukan di ada atau tidaknya data.
Masalahnya:
data itu tersebar, tidak terhubung, dan tidak saling bicara.
Banyak data masih:
- dikumpulkan manual
- berbentuk dokumen
- atau tersimpan di sistem vendor yang berdiri sendiri
Akhirnya, data ada…
tapi tidak bisa dibaca sebagai satu cerita utuh.
Sebenarnya Indonesia sudah punya inisiatif penting:
Satu Data Indonesia
yang bertujuan menstandarkan dan mengintegrasikan data lintas sektor.
Beberapa daerah juga sudah jalan:
- Jakarta
- Jawa Barat dan banyak negara lain menggunakan pendekatan serupa dengan platform open data seperti CKAN.
Secara teknologi, ini bukan hal baru.
Tapi selama:
- data sosial
- data pendidikan
- data bantuan tidak benar-benar terhubung dan dipakai bersama,
maka kebijakan akan terus terlihat aktif,
tapi sering salah sasaran.
Dan tragedi seperti ini akan terus muncul,
sebagai pengingat pahit bahwa sistem kita terlambat membaca realita.
Baru "ngeh" pentingnya digitalisasi yang utuh setelah tragedi2 seperti ini MIRIS..





