Masuk

Ekosistem Tech Indonesia2 menit baca

WFH Lagi Ramai Dibahas. Tapi Kita Mau Hemat… atau Mau Berubah?

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
WFH Lagi Ramai Dibahas. Tapi Kita Mau Hemat… atau Mau Berubah?

WFH Lagi Ramai Dibahas. Tapi Kita Mau Hemat… atau Mau Berubah?

Belakangan pemerintah mulai mendorong WFH lagi.
Alasannya jelas: efisiensi, terutama untuk penghematan BBM.

Bahkan sektor swasta juga diajak ikut.

Kalau kita mundur ke zaman COVID-19,
WFH bukan pilihan.

Itu cara kerja utama.

Semua dipaksa:

  • meeting via Zoom / GMeet
  • kerja paperless
  • kolaborasi online

Dan kita bisa jalan.

Tapi kalau jujur,
baik dulu (COVID) maupun sekarang (BBM),
WFH ini muncul karena “sebab eksternal”.

Bukan karena kita benar-benar ingin membangun cara kerja yang lebih efektif.

Makanya biasanya kalau penyebab itu hilang,
kita balik lagi ke WFO full.

Padahal realitanya?

Orang Jakarta bisa habiskan:
⏱ 90–120 menit sekali jalan
⏱ total 3–4 jam PP setiap hari

⸻

Saya pernah kerja di setup yang berbeda.

Tim tersebar:
Jakarta, Brisbane, US, Afrika Selatan.

Meeting?
Cari waktu saja sudah tantangan.

Kadang saya harus subuh-subuh untuk sync.

Tapi menariknya:

Project tetap jalan.
Deliverable tetap on-time.
Kualitas tetap terjaga.

⸻

Kuncinya bukan di WFH atau WFO.

Tapi di:

  • maturity tim
  • mindset kolaborasi
  • tools yang tepat
  • dan tujuan yang jelas

Kami pakai:
JIRA, Google Docs, Zoom, time tracking.

Dan yang paling penting:
tidak ada ego. Semua fokus ke hasil.

Bahkan kalau ada yang mau kerja dari Bali sebulan?
No problem.

Jadi menurut saya sederhana:

WFH bukan solusi.
WFO juga bukan masalah.

Kalau orangnya masih silo,
mau kerja dari rumah atau kantor… hasilnya sama saja.


Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Komentar

Masuk untuk ikut berkomentar

Masuk

Tulisan lain soal Ekosistem Tech Indonesia

← Semua tulisan