WFH Lagi Ramai Dibahas. Tapi Kita Mau Hemat… atau Mau Berubah?
Belakangan pemerintah mulai mendorong WFH lagi.
Alasannya jelas: efisiensi, terutama untuk penghematan BBM.
Bahkan sektor swasta juga diajak ikut.
Kalau kita mundur ke zaman COVID-19,
WFH bukan pilihan.
Itu cara kerja utama.
Semua dipaksa:
- meeting via Zoom / GMeet
- kerja paperless
- kolaborasi online
Dan kita bisa jalan.
Tapi kalau jujur,
baik dulu (COVID) maupun sekarang (BBM),
WFH ini muncul karena “sebab eksternal”.
Bukan karena kita benar-benar ingin membangun cara kerja yang lebih efektif.
Makanya biasanya kalau penyebab itu hilang,
kita balik lagi ke WFO full.
Padahal realitanya?
Orang Jakarta bisa habiskan:
⏱ 90–120 menit sekali jalan
⏱ total 3–4 jam PP setiap hari
⸻
Saya pernah kerja di setup yang berbeda.
Tim tersebar:
Jakarta, Brisbane, US, Afrika Selatan.
Meeting?
Cari waktu saja sudah tantangan.
Kadang saya harus subuh-subuh untuk sync.
Tapi menariknya:
Project tetap jalan.
Deliverable tetap on-time.
Kualitas tetap terjaga.
⸻
Kuncinya bukan di WFH atau WFO.
Tapi di:
- maturity tim
- mindset kolaborasi
- tools yang tepat
- dan tujuan yang jelas
Kami pakai:
JIRA, Google Docs, Zoom, time tracking.
Dan yang paling penting:
tidak ada ego. Semua fokus ke hasil.
Bahkan kalau ada yang mau kerja dari Bali sebulan?
No problem.
Jadi menurut saya sederhana:
WFH bukan solusi.
WFO juga bukan masalah.
Kalau orangnya masih silo,
mau kerja dari rumah atau kantor… hasilnya sama saja.





