Mobil Listrik dari Vietnam? Udah Nyaman, Murah, dan Jalan di Kota Kita
Beberapa waktu lalu saya ada urusan di Jakarta.
Karena ingin coba sesuatu yang beda, saya pesan taksi Xanh SM.
Yes, taksi listrik dari Vietnam yang sekarang wara-wiri di kota besar.
Begitu masuk, saya langsung ngerasa:
sunyi, adem, dan... nyaman banget.
Saya sempat ngobrol dengan drivernya:
Saya: “Mas, ini taksi nyaman banget.”
Driver: “Iya mas, hemat juga. Charging-nya 15 menit udah bisa full, beda sama yang lain bisa sejam.”
Saya: “Terus katanya lebih hemat ya?”
Driver: “Banget. Setoran harian Bluebird itu Rp700 ribuan. Ini Rp300 ribuan.”
Saya: “Wah, untungnya lebih besar dong ya?”
Driver: “Iya mas. Makanya banyak yang daftar.”
Di titik itu saya mikir:
Ini produk dari Vietnam.
Tapi udah jadi solusi nyata di Indonesia.
➡️ Mobilnya dari VinFast
➡️ Taksi operasionalnya Xanh SM
➡️ Dan dalam waktu kurang dari setahun…
➡️ Mereka sudah punya 5.000 armada di jalanan Indonesia.
Gila gak?
Ini bukan sekadar soal EV.
Ini soal eksekusi, keberanian, dan masuknya produk asing ke pasar kita — dengan mulus.
Dan yang bikin terdiam:
Vietnam itu harusnya setara dengan kita.
Tapi sekarang?
Mereka sudah bisa ekspor teknologi + model bisnis ke Indonesia.
Kita belum bahas pemain besar: BYD dari China.
Datang diam-diam.
Tanpa brand warisan.
Tapi langsung ambil posisi.
Toyota, Honda, Daihatsu mulai turun market share-nya.
Dan secara kasat mata —
mobil BYD makin sering kelihatan di jalanan.
Jadi pertanyaannya:
Mau sampai kapan kita cuma jadi konsumen?
Di tanah sendiri.
Dengan sumber daya sendiri.
Kita punya nikel.
Kita punya pasar.
Kita punya tenaga kerja.
Yang kurang?
Keberanian dan orkestrasi.
🟡 Pengen **mulai personal branding di LinkedIn** tapi bingung mulai dari mana?
Join program praktis bareng saya — biar kamu gak cuma scroll-scroll, tapi langsung terlihat. → s.id/branding-linkedin
🟡 **Ngobrol yuk**!
🟡 **Gabung komunitas Tech Voice Indonesia**
Tempat para profesional & tech founder saling support.





