Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

Mengapa RS Menganggap IT Cost Centre, Bukan Investasi

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Mengapa RS Menganggap IT Cost Centre, Bukan Investasi

Kenapa Rumah Sakit Ogah Investasi IT?
POV: Owner / Management Rumah Sakit

Buat banyak manajemen rumah sakit, teknologi IT = cost centre.
Sama kayak biaya listrik, air, atau gaji staf administrasi—penting, tapi bukan prioritas investasi.

Kenapa?
Karena pola pikirnya biasanya seperti ini:
1. Lebih baik renovasi bangunan – pasien bisa langsung lihat dan rasakan
2. Tambah fasilitas kamar & bed – langsung nambah kapasitas
3. Beli alat kesehatan baru – nilai jual RS langsung naik
4. Gaji dokter spesialis top – efeknya instan ke reputasi
5. IT? – ROI-nya baru kelihatan 2–3 tahun lagi (kalau ada)

Padahal… nggak semua teknologi IT itu ROI-nya lama.
Bahkan ada yang bisa langsung direct impact ke revenue dan menekan cost operasional.

Contohnya:
1. Sistem Informasi RS (SIM-RS) yang sudah host-to-host dengan BPJS Kesehatan
BPJS punya aturan klaim yang ribet, dan banyak RS rugi karena mismatch data → klaim ditolak atau dibayar sebagian.
Kalau sistemnya sudah terintegrasi langsung, dispute bisa ditekan, pembayaran lebih lancar, dan cashflow lebih sehat.

Dampaknya? Langsung terasa ke bottom line.

2. AI untuk membaca hasil radiologi (X-ray, USG, CT-Scan, MRI)
Dengan AI yang akurat, kecepatan pembacaan bisa 10x lipat.
Artinya, alat kesehatan yang mahal itu bisa balik modal lebih cepat karena volume layanan meningkat.
Pasien dapat hasil lebih cepat → RS bisa layani lebih banyak pasien → revenue naik.

Intinya:
Kalau mau masuk ke RS, produk IT kamu harus bisa direct impact ke revenue atau menekan cost secara nyata.
Bukan cuma “keren secara teknologi”, tapi “ngasih efek di laporan keuangan”.

Karena suka nggak suka—rumah sakit itu bisnis.
Dan seperti bisnis lainnya, tujuannya adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya.


🟡 Kalau kamu **founder atau innovator di dunia healthtech** dan mau tahu apakah produkmu market fit ke rumah sakit → saya sering bantu teman-teman di bidang ini untuk masuk pasar dengan tepat.

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

KFA: Akhirnya Ada Standar Kode Obat Nasional
Digitalisasi Kesehatan

19 Mei2 mnt

KFA: Akhirnya Ada Standar Kode Obat Nasional

Tau nggak sih, selama puluhan tahun kita… nggak punya standar kode obat nasional? Yes, benar. Obat-obatan di Indonesia selama ini pakai kode masing-masing. Perusahaan farmasi bikin kode sendiri Distributor bikin versi…

satusehat-mandek-pasien-tetap-screening-ulang
Digitalisasi Kesehatan

2 Jun2 mnt

Satusehat Mandek, Pasien Tetap Screening Ulang

Digitalisasi Kesehatan: Masih Jalan di Tempat? Tahun lalu saya sempat pindah rumah sakit sampai 4 kali. Setiap pindah, saya harus screening ulang — ulang lagi isi form, ulang lagi cerita riwayat sakit, ulang lagi semua…

Duri Regulasi di Balik Healthtech Indonesia
Digitalisasi Kesehatan

2 Mei2 mnt

Duri Regulasi di Balik Healthtech Indonesia

Dari Luar Terlihat Mudah, Dari Dalam Penuh Duri: Realita Ekosistem Healthtech Indonesia “Pak, saya pernah pakai Halodoc. Cepat banget. Kenapa dibilang ekosistemnya tertutup?” Pertanyaan ini muncul setelah tulisan saya…

Jangan Lompat ke Aplikasi: Digitalisasi Bertahap
Digitalisasi Kesehatan

5 Sep2 mnt

Jangan Lompat ke Aplikasi: Digitalisasi Bertahap

Digitalisasi di Indonesia: Lompat → Jatuh Kita sering dengar jargon “transformasi digital”. Tapi kenyataannya? Lebih sering jadi “bikin aplikasi, nambah kerjaan baru”. Digitalisasi di Indonesia banyak yang gagal karena…

Healthtech Gagal Karena Kekuasaan dan Regulasi
Digitalisasi Kesehatan

30 Apr2 mnt

Healthtech Gagal Karena Kekuasaan dan Regulasi

Saya pernah membangun startup healthtech. Tapi kami gagal. Bukan karena timnya lemah. Bukan karena teknologinya jelek. Dan bukan karena idenya tidak dibutuhkan. Kami gagal karena satu hal yang jarang dibahas secara…

← Semua tulisan