Masuk

Ekosistem Tech Indonesia2 menit baca

Koneksi, Upeti, dan Feodalisme Bisnis RI

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Koneksi, Upeti, dan Feodalisme Bisnis RI

Bukan Masalah Kompetensi. Tapi Siapa yang Dapat ‘Bagian’.
Refleksi dari obrolan soal bisnis di Indonesia.

Beberapa waktu lalu, saya membaca tulisan dari Michal Wasserbauer — seorang founder dan investor asal Eropa yang bercerita pengalamannya membangun perusahaan di Indonesia.

Katanya:
In Europe, we admire speed.
In Indonesia, people respect those who endure.”
Kalau ingin memimpin di sini, kesabaran adalah keunggulan.”

Kedengarannya bijak ya?
Tapi sebagai orang Indonesia yang udah sering keliling di berbagai industri, saya langsung berpikir:
“Endure yang mana dulu nih? Jangan-jangan yang dimaksud... yaa endure menunggu siapa yang kasih kickback.”

Karena kenyataannya memang begitu.
‘Sabar’ di sini bisa berarti:

  • nunggu siapa yang bisa diajak main belakang,
  • nunggu siapa yang kuat bayar upeti proyek,
  • nunggu deal karena “itu udah jatahnya si bos yang sana”.

1. PatienceIntegrity
Michal bilang, “Patience is strategic.”
Saya setuju... kalau kamu sedang bekerja dengan orang yang profesional.
Tapi di banyak kasus—terutama project pemerintah atau korporasi besar—kesabaran justru jadi ‘pintu masuk’ ke negosiasi tidak sehat:
“Semakin besar yang dikasih, semakin cepat close the deal.”
Logika ‘wani piro’ jalan terus.

  1. Takut Bicara = Budaya Feodal
    Michal juga bilang, banyak anak muda takut speak-up.
    Tapi bukan cuma karena takut “nggak sopan”.

Itu hasil didikan sistem.
Dari sekolah kita sudah diajari:
pasal 1 : Senior selalu benar.”
Kalau salah, kembali ke pasal 1.”

Budaya feodal ini menular sampai ke dunia kerja.
Yang punya ide malah disuruh diam.
Yang kritik, dianggap ngelunjak.
Makanya orang lebih milih diam, sambil cari aman.

  1. Koneksi > Kompetensi
    “Di Eropa orang dihargai karena kecepatan dan skill.”
    “Di Indonesia orang sukses karena tahan banting.”

Tapi jujur:
Skill kadang kalah sama koneksi.
Yang penting orang dalam.
Yang penting, "ada harga, ada jasa."

Saya jadi ingat curhat salah satu relasi perusahaan Jepang:
Produk kami di Jepang sudah terbukti. Tapi begitu masuk Indonesia,
yang pertama ditanya bukan fitur. Tapi: ‘Benefit buat saya apa?’”

Dan ini bukan soal sistem.
Ini budaya.

Kita punya PR besar.
Kalau kita ingin Indonesia benar-benar jadi tanah subur untuk inovasi dan investasi,
kita harus berani bicara soal realita ini.

Bukan untuk nyinyir. Tapi untuk sadar.

👋 Kalau kamu pernah ngalamin hal serupa, yuk cerita di kolom komentar.

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Ekosistem Tech Indonesia

Kegelisahan Tech dan Lahirnya Tech Voice ID
Ekosistem Tech Indonesia

21 Feb2 mnt

Kegelisahan Tech dan Lahirnya Tech Voice ID

#IndonesiaGelap = Kegelisahan Kita Semua! Jauh sebelum gerakan ini muncul, saya sudah merasa ada yang tidak beres. Buat teman-teman di dunia tech, baik profesional maupun pengusaha, kondisi sekarang benar-benar tidak…

Townhall: Dari Ritual Startup ke Kode Layoff
Ekosistem Tech Indonesia

1 Mei2 mnt

Townhall: Dari Ritual Startup ke Kode Layoff

Dulu, Townhall = budaya transparansi ala startup. Sekarang, Townhall = kode buat layoff. Tiba-tiba, Townhall = gaya Presiden. Istilah “Townhall” itu dulunya keren banget. Populer sekitar 15 tahun lalu, waktu budaya…

Blockchain di Indonesia: Janji Besar, Adopsi Seret
Ekosistem Tech Indonesia

2 Jul2 mnt

Blockchain di Indonesia: Janji Besar, Adopsi Seret

Blockchain: Teknologi Hebat yang Masih Sepi Peminat Video ini cukup ramai. Mas Wapres Gibran tampil di YouTube resmi, bicara soal pentingnya blockchain untuk lompatan digital Indonesia. Keren? Iya. Tapi jujur, saya…

data gen-z siap kerja
Ekosistem Tech Indonesia

15 Jan2 mnt

Gen-Z Dinilai Tidak Siap Kerja, Kampus Disorot

53% Manajer Rekrutmen: Gen-Z Tidak Siap Kerja" 📊 Data yang diringkas oleh Katadata ini mengejutkan: 53% manajer perekrutan menilai Gen-Z tidak siap kerja. Alasan utamanya? Banyak manajer perekrutan mengkhawatirkan…

CoreTax Rp1,3 T: Bug, Vendor, dan Bocor Data
Ekosistem Tech Indonesia

28 Okt2 mnt

CoreTax Rp1,3 T: Bug, Vendor, dan Bocor Data

CoreTax: Ketika Sistem Rp1,3 Triliun Error, Bug, dan Bocor Data Bayangkan sebuah sistem senilai Rp1,3 triliun—dibangun untuk menopang salah satu fungsi paling vital negara: pajak. Tapi yang kita dapat? Bug, error, dan…

← Semua tulisan