Bukan Masalah Kompetensi. Tapi Siapa yang Dapat ‘Bagian’.
Refleksi dari obrolan soal bisnis di Indonesia.
Beberapa waktu lalu, saya membaca tulisan dari Michal Wasserbauer — seorang founder dan investor asal Eropa yang bercerita pengalamannya membangun perusahaan di Indonesia.
Katanya:
“In Europe, we admire speed.
In Indonesia, people respect those who endure.”
“Kalau ingin memimpin di sini, kesabaran adalah keunggulan.”
Kedengarannya bijak ya?
Tapi sebagai orang Indonesia yang udah sering keliling di berbagai industri, saya langsung berpikir:
“Endure yang mana dulu nih? Jangan-jangan yang dimaksud... yaa endure menunggu siapa yang kasih kickback.”
Karena kenyataannya memang begitu.
‘Sabar’ di sini bisa berarti:
- nunggu siapa yang bisa diajak main belakang,
- nunggu siapa yang kuat bayar upeti proyek,
- nunggu deal karena “itu udah jatahnya si bos yang sana”.
1. Patience ≠ Integrity
Michal bilang, “Patience is strategic.”
Saya setuju... kalau kamu sedang bekerja dengan orang yang profesional.
Tapi di banyak kasus—terutama project pemerintah atau korporasi besar—kesabaran justru jadi ‘pintu masuk’ ke negosiasi tidak sehat:
“Semakin besar yang dikasih, semakin cepat close the deal.”
Logika ‘wani piro’ jalan terus.
- Takut Bicara = Budaya Feodal
Michal juga bilang, banyak anak muda takut speak-up.
Tapi bukan cuma karena takut “nggak sopan”.
Itu hasil didikan sistem.
Dari sekolah kita sudah diajari:
“pasal 1 : Senior selalu benar.”
“Kalau salah, kembali ke pasal 1.”
Budaya feodal ini menular sampai ke dunia kerja.
Yang punya ide malah disuruh diam.
Yang kritik, dianggap ngelunjak.
Makanya orang lebih milih diam, sambil cari aman.
- Koneksi > Kompetensi
“Di Eropa orang dihargai karena kecepatan dan skill.”
“Di Indonesia orang sukses karena tahan banting.”
Tapi jujur:
Skill kadang kalah sama koneksi.
Yang penting orang dalam.
Yang penting, "ada harga, ada jasa."
Saya jadi ingat curhat salah satu relasi perusahaan Jepang:
“Produk kami di Jepang sudah terbukti. Tapi begitu masuk Indonesia,
yang pertama ditanya bukan fitur. Tapi: ‘Benefit buat saya apa?’”
Dan ini bukan soal sistem.
Ini budaya.
Kita punya PR besar.
Kalau kita ingin Indonesia benar-benar jadi tanah subur untuk inovasi dan investasi,
kita harus berani bicara soal realita ini.
Bukan untuk nyinyir. Tapi untuk sadar.
👋 Kalau kamu pernah ngalamin hal serupa, yuk cerita di kolom komentar.





