Makan gorengan, minum kopi Susu Gula Aren. Tapi berharap sehat.
Kita sering dengar visi dari Menteri Kesehatan:
“Kita harus perkuat sektor preventif, bukan cuma kuratif.”
Tapi masalahnya bukan di visinya.
Masalahnya adalah… kita nggak siap.
Saya baca satu posting:
Seorang warga Eropa heran waktu transit di Bandara Soetta.
Pilihan makanan yang tersedia?
Mie goreng telur dan gorengan.
Komentarnya? “This is rubbish food.”
Dan kalau kamu pikir itu berlebihan,
coba lihat komposisi kalori minuman kekinian:
Kopi susu gula aren, matcha latte, boba milk tea —
bisa tembus 400–500 kKal per gelas.
Dan ada teman saya, usia 20-an, tiap hari minuman begini —sekarang sudah pakai insulin alias kena diabetes dini.
Ini bukan kasus unik.
Ini realita generasi kita.
Tapi siapa yang peduli?
Pemerintah? Swasta? Startup kesehatan?
Pemerintah terlalu sibuk memadamkan api kuratif.
Startup wellness seringkali boncos karena edukasi publik butuh napas panjang.
Dan yang paling bikin frustrasi?
Kita bahkan nggak punya data.
Data kuratif saja masih tercerai-berai, apalagi data untuk potensi penyakit jangka panjang?
Jadi sekarang saya mulai dari sini:
Bangun kesadaran soal data kesehatan.
Bangun infrastruktur dan insight untuk mengerti tren penyakit sebelum meledak.
Kalau kamu concern soal generasi sekarang dan anak-anak kita nanti,
Kalau kamu kerja di sektor pemerintahan, atau di perusahaan yang punya data & pengaruh,
DM saya. Yuk ngobrol soal data.





