Masuk

Digitalisasi Kesehatan2 menit baca

Kemenkes Bukan Kedokteran: Reformasi Layanan

FarenFounder VoiceHub · Inisiator Tech Voice Indonesia
Kemenkes Bukan Kedokteran: Reformasi Layanan

Kementerian Kesehatan, Bukan Kementerian Kedokteran.

Kalau boleh jujur…
Pernah nggak sih kamu sakit dan justru harus berjuang dulu menghadapi sistem yang bikin tambah lelah?

Bukan cuma karena rasa sakitnya, tapi karena harus:

  • Antri panjang dari pagi,
  • Isi form berkali-kali,
  • Dapat rujukan yang muter-muter,
  • Tunggu berjam-jam walau sudah daftar dari subuh.

Saya pernah. Bahkan berkali-kali.
Mau itu rumah sakit umum daerah, rumah sakit swasta, atau klinik. Sama saja.
Padahal waktu sakit, yg kita butuh itu kepastian layanan, bukan birokrasi yang menyulitkan.

Dan ini bukan cerita baru.
Sudah puluhan tahun begini.

Tapi, siapa yang selama ini memimpin sektor kesehatan kita?
Mayoritas dari kalangan dokter.
Yang ahli di bidang klinis — ya.
Tapi apakah siap memimpin sistem pelayanan publik yang kompleks? Belum tentu.

Kini, ketika ada menteri kesehatan yang bukan dari kalangan dokter — justru resistensinya luar biasa.
Contohnya?
Pernyataan Pak Budi Gunadi Sadikin soal akses operasi caesar dan sebaran dokter spesialis di daerah.

Langsung viral.
Asosiasi protes. Guru besar bersuara. Potongan video diviralkan tanpa konteks.

Padahal, kalau kamu tonton utuh obrolannya di podcast ROSI, pesannya sangat jelas:

  • Tujuan utamanya adalah menyelamatkan lebih banyak nyawa.
  • Bukan menurunkan kompetensi, tapi memperluas akses.
  • Ilmu seharusnya diturunkan ke bawah, bukan dimonopoli ke atas.
  • Ini tentang pelayanan masyarakat, bukan soal mempertahankan gengsi profesi.

Kita semua pernah lihat sendiri waktu pandemi:

  • Sistem kita rapuh karena minim integrasi data.
  • Menteri sebelumnya bahkan sempat menyangkal bahaya COVID.
  • Dalam 1 tahun, 161rb orang meninggal.

Kita butuh pemimpin yang paham sistem, berani berubah, dan memikirkan rakyat.
Bukan mempertahankan status quo yg nyaman untuk sebagian kecil saja.

Jadi mari buka mata:

  • Sistem kesehatan bukan tentang siapa paling hebat, tapi siapa paling melayani.
  • Hormat pada profesi bukan berarti anti-transparansi dan anti-inovasi.

Kalau kamu setuju bahwa layanan kesehatan harus lebih manusiawi, lebih adil, dan lebih terbuka, mari dukung reformasi ini.

Dan kalau kamu pernah ngalamin sendiri betapa sulitnya mengakses layanan kesehatan, atau pengen ngobrol dan berkontribusi membenahi sistem ini — let’s talk.

Karena pelayanan kesehatan adalah hak kita semua. Bukan hanya milik segelintir elit.

Dapat tulisan baru lewat surel

Satu email setiap ada tulisan baru. Tidak perlu bikin akun, dan bisa berhenti kapan saja lewat tautan di tiap email.

Tulisan lain soal Digitalisasi Kesehatan

Minggu lalu saya berobat ke Siloam.
Digitalisasi Kesehatan

18 Jul2 mnt

Minggu lalu saya berobat ke Siloam.

Minggu lalu saya berobat ke Siloam. Dan saya senyum sendiri. Bukan karena obatnya... Tapi karena akhirnya saya melihat digital transformation yang benar-benar terasa. Begitu datang... Ambil nomor di kiosk. Lihat…

Pedulilindungi Jadi Judol: Gagal Governance Digital
Digitalisasi Kesehatan

31 Mei2 mnt

Pedulilindungi Jadi Judol: Gagal Governance Digital

Judol, Judol, Judol… Pedulilindungi Gagal Dimaintain! Beberapa hari lalu, ramai lagi soal situs Pedulilindungi yang malah menampilkan JUDOL alias judi online. Padahal saya masih ingat betul masa-masa COVID-19 dulu…

Kesehatan Masih Tertutup, Interoperabilitas Mandek
Digitalisasi Kesehatan

29 Apr2 mnt

Kesehatan Masih Tertutup, Interoperabilitas Mandek

Sektor Keuangan Bisa Terbuka, Kenapa Sektor Kesehatan Masih Seperti Ini? Kalau kita mundur 20 tahun lalu, bank-bank besar di Indonesia seperti BCA dan Mandiri pernah sangat tertutup. Pakai kartu ATM beda bank? Jangan…

Startup Apotek Masuk Zona Abu-abu Distribusi Obat
Digitalisasi Kesehatan

5 Agu2 mnt

Startup Apotek Masuk Zona Abu-abu Distribusi Obat

Kami pikir kami bangun startup apotek. Ternyata kami masuk ke zona abu-abu industri yang dikendalikan di balik layar. Waktu itu kami punya idealisme besar. Pengen bantu orang yang sakit biar lebih mudah akses obat…

Kita Tak Siap Preventif: Krisis Data Kesehatan
Digitalisasi Kesehatan

25 Jul2 mnt

Kita Tak Siap Preventif: Krisis Data Kesehatan

Makan gorengan, minum kopi Susu Gula Aren. Tapi berharap sehat. Kita sering dengar visi dari Menteri Kesehatan: “Kita harus perkuat sektor preventif, bukan cuma kuratif.” Tapi masalahnya bukan di visinya. Masalahnya…

← Semua tulisan