Gelombang PHK Tak Lagi Soal Startup — Kali Ini Pabrikan Pun Tumbang.
Gelombang PHK lagi-lagi melanda.
Tapi kali ini bukan dari startup, bukan dari perusahaan teknologi.
Yang tumbang justru datang dari sektor pabrikan — yang selama ini dianggap stabil dan tahan badai.
Sebut saja Michelin dan pemasok Nike — dua nama besar dengan ribuan karyawan, kini harus merumahkan lebih dari 3.000 orang.
Dan ini baru yang muncul ke permukaan.
Yang tidak terpublikasi, mungkin jauh lebih banyak.
Lalu seperti biasa, muncul reaksi cepat tapi tanpa arah.
Beberapa hari lalu, Dasco dan jajaran pimpinan DPR datang ke pabrik dan menyuarakan satu kalimat klasik:
“Stop PHK.”
Kalimatnya bagus, tapi… ya cuma itu.
Sudah lebih dari dua tahun gelombang PHK ini bergulir — dari startup, fintech, logistik, retail, hingga manufaktur.
Dan apa langkah konkret pemerintah serta DPR selama ini untuk menekan laju PHK massal?
Tidak terlihat.
Tidak ada kebijakan yang menyentuh akar persoalan — hanya kedatangan simbolis dan konferensi pers sesaat.
Jadi jangan heran kalau masyarakat mulai berbondong-bondong menyerukan satu hashtag yang makin relevan tiap harinya:
Karena mereka sudah lelah berharap.
Kita nggak bisa cuma menunggu solusi yang nggak kunjung datang.
Yang bisa kita lakukan sekarang adalah siapkan diri menghadapi realitas baru — dunia kerja yang makin tak pasti.
Mulailah investasi pada diri sendiri:
🔹 Bangun second skill, bahkan third atau fourth skill.
🔹 Kuasai hal-hal baru yang relevan dengan masa depan.
🔹 Dan, yang paling penting, pelajari AI tools.
Karena kenyataannya:
AI bukan lagi sekadar tren, tapi penyelamat produktivitas — bahkan bisa membuka peluang kerja baru yang nggak pernah kita pikirkan sebelumnya.
Saya lagi bikin sesi online singkat:
“AI for Real Work: Belajar Pakai AI Tools untuk Kerja Sehari-hari.”
Rabu, 5 November 2025 | 19.30–21.00 WIB
Live via Zoom
Daftar di sini 👉 https://lnkd.in/gfmjrTrf
💬 Dunia berubah cepat. Yang bertahan bukan yang paling pintar, tapi yang paling adaptif.





