Manus Dijual Puluhan Triliun. Kita Masih Sibuk Kagum.
Tahun 2025 kemarin, satu nama sempat lewat: Manus.
General-purpose AI agent dari China.
Saya sempat coba Manus waktu awal rilis.
Jujur saja: biasa.
Trial sebentar, lalu saya tinggal.
Untuk kerja serius, saya masih pakai kombinasi ChatGPT, Gemini, Perplexity, Gamma.
Beberapa bulan kemudian, ceritanya berubah.
Seorang rekan menunjukkan workflow-nya:
dokumen riset dirapikan di NotebookLM,
outline diambil,
lalu diproses di Manus.
Hasilnya?
Presentasi PDF yang rapi, runtut, dan enak dilihat.
Bukan slide asal jadi.
Tapi hasil yang biasanya lahir dari analis dan designer berpengalaman.
Dan tiba-tiba, 29 Desember 2025:
Manus diakuisisi Meta. Nilainya sekitar Rp33 triliun.
Perusahaan belum 3 tahun.
Produknya belum genap 1 tahun.
Ini bukan cerita soal Manus.
Ini cerita soal kecepatan dunia teknologi.
Selalu ada pemain baru.
Selalu ada yang fokus.
Dan raksasa tech nggak mikir lama:
kalau nggak sempat bikin sendiri—dibeli.
Masuk 2026, pertarungan AI bakal makin brutal.
Yang cepat ambil posisi.
Yang lambat jadi pasar.
Dan kita perlu jujur bertanya:
Indonesia mau ikut main,
atau nyaman jadi pengguna + penyumbang data?
Kita rajin seminar AI.
Rajin bikin roadmap.
Rajin bangga pakai produk luar.
Tapi ketika ada AI dijual puluhan triliun…
yang kita bangun apa?
Mas Gibran—yang paling sering bicara soal AI—
pertanyaannya sederhana:
kita mau bangun pemain,
atau cuma tepuk tangan dari pinggir lapangan?
Kita butuh aksi nyata yukk.
AI nggak nunggu kita siap.
Tempat ngobrol jujur soal tech, AI, produk, dan masa depan ekosistem Indonesia—bukan cuma kagum, tapi mikir dan bergerak bareng.





