Hype AI sudah sampai kementerian.
Beberapa waktu lalu saya diminta mengisi workshop penggunaan AI tools di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat PAUD.
Bapak-ibu di sana punya pertanyaan sederhana:
“Bagaimana caranya kami tetap relevan dengan AI?”
Jujur, saya cukup kaget. Saat ditanya siapa yang sudah benar-benar pakai ChatGPT atau Gemini, jumlahnya tidak sampai 20%.
Mereka sudah sering dengar AI, tapi belum tahu: bisa dipakai untuk apa saja? Bagaimana memulainya?
Apa yang saya lakukan?
Saya perkenalkan dulu starting point:
- ChatGPT, Gemini, Claude, Perplexity, Gamma, NotebookLM.
- Lalu kita coba satu-satu, biar mereka bisa lihat perbedaannya.
- Baru setelah itu masuk ke teknik dasar prompt engineering:
Task – apa yang diminta
Context – latar belakangnya
Exemplar – ada contoh referensi?
Persona – dari sudut pandang siapa?
Format – output seperti apa?
Tone – gaya bahasa yang diinginkan
AI bukan pesulap, bukan dukun, bukan simsalabim.
Kalau kita memberi perintah yang jelas, hasilnya akan jauh lebih maksimal.
Refleksi
Bagi kita yang tech-savvy, hal seperti ini terasa “sepele.”
Tapi faktanya, jumlah orang seperti itu tidak sampai 20% dari populasi profesional.
Artinya awareness & literasi AI masih jauh di bawah potensi sebenarnya.
Kalau sekarang kita belum bisa jadi inventor chip atau model AI, setidaknya jadilah early adopter yang cepat dan masif. Dari situ, jalan untuk mendorong inventor-researcher Indonesia akan lebih terbuka.
🟡 Buat bapak-ibu yang ingin meningkatkan produktivitas dengan AI, mari ngobrol.
🟡 Buat yang ingin bikin presentasi atau reporting kompleks dalam hitungan jam, mari ngobrol.
🟡 Kita bisa buatkan sesi workshop — langsung hands-on.
**DM saja langsung kalau mau nanya duluan**.





