Adopsi AI di Dunia QA: Now or Die?
Sering saya lihat di project software development banyak story dan task yang nggak bergerak.
Saya tanya ke tim, "Ini kenapa kok nggak gerak?"
Jawabannya: "Bottleneck-nya di QA, pak"
1. Kenapa QA Sering Jadi Bottleneck?
Pekerjaan QA cenderung penuh dengan hal-hal yang:
- Repetitive
- Manual
- Butuh banyak dokumentasi
Itulah kenapa beberapa tahun terakhir, terjadi shifting dari QA (Quality Assurance) ke QE (Quality Engineer).
Shifting ini terjadi karena QA manual sering jadi bottleneck.
Jadi, muncullah tren QE yang:
- Menulis test script untuk mengotomasi eksekusi test case
- Menjalankan testing secara otomatis menggunakan CI/CD pipeline
- Memastikan proses testing lebih cepat dan scalable
Tapi dengan AI yang makin canggih? Bahkan peran QE pun terancam.
2. AI Sudah Bisa Menggantikan Banyak Tugas QA/QE
Kalau kamu QA/QE yang masih bergantung pada cara manual — hati-hati!
AI bisa sangat membantu (atau malah menggantikan) pekerjaan QA di banyak aspek:
-
Test Case Generation Dengan tools seperti ChatGPT atau Gemini, kamu bisa otomatis bikin test case dari requirement yang ada.
Tinggal kasih deskripsi fitur, AI bisa langsung kasih daftar test case yang detail. -
Test Script Automation AI bisa bantu nulis test script untuk automated testing dengan cepat.
Misalnya dengan simple prompt:
"Buat test script untuk fitur login dengan validasi email & password"
→ Dalam hitungan detik, AI bisa kasih template script yang siap digunakan. -
Dokumentasi Otomatis Capek bikin report panjang-panjang? AI bisa otomatis menyusun dokumentasi hasil testing yang rapi dan detail.
3. Introducing: Autonomous Quality Engineer (AQE)
Jika QA → QE adalah fase pertama, maka berikutnya adalah peran Autonomous Quality Engineer (AQE).
AQE adalah role baru yang:
- Memanfaatkan AI secara penuh untuk mengotomasi semua proses QA/QE
- Menjadikan AI sebagai eksekutor testing yang mandiri (Agentic AI)
- Berperan sebagai "AI Supervisor" yang memastikan AI testing agent berjalan sesuai ekspektasi
Sebagai AQE, tugas kamu bukan lagi sibuk bikin test case manual,
tapi fokus pada:
✅ Memastikan AI tools bekerja optimal
✅ Mengembangkan strategi QA berbasis data
✅ Memvalidasi keputusan yang dibuat oleh AI
Yakin nggak ikut arus ini? Ya siap2 bakal selesai.
💬 Buat temen2 QA/QE yang masih ragu, mulainya darimana ya, sini ngobrol:
Dan untuk menghadapi perubahan besar ini, jangan jalan sendirian.
**Join komunitas Tech Voice Indonesia** biar bisa saling support di masa yang serba nggak pasti ini.





