Dulu saya pernah nulis betapa kagumnya saya naik taksi hijau dari Vietnam itu.
Sunyi.
Adem.
Nyaman banget.
Saya sampai terdiam karena genuinely terkesan.
Tapi kemarin malam, saya baca berita soal mereka lagi.
Dan saya terdiam lagi.
Bedanya, kali ini bukan karena kagum.
Dalam kurang lebih 16 bulan beroperasi di Indonesia, ini yang terjadi:
Februari 2025: menabrak pedagang di Kembangan
Maret 2025: nyemplung ke saluran air di PIK 2
Minggu berikutnya: menabrak Transjakarta
Oktober 2025: tertabrak kereta di Cengkareng
Desember 2025: tertabrak kereta lagi di Kampung Bandan
Januari 2026: mundur tak terkendali dan menghantam rumah makan
April 2026: mogok di perlintasan rel, memicu tabrakan KRL dan KA Argo Bromo
Enam insiden besar.
Belum sampai dua tahun.
Padahal mereka datang dengan positioning yang sangat kuat:
“5 Janji Hijau.”
Pengalaman premium.
Driver profesional.
Kendaraan berkualitas tinggi.
Targetnya juga agresif:
10.000 armada di 2025.
20.000 armada di 2028.
Dan jujur saja, ini bukan cerita tentang “taksi hijau yang jelek”.
Ini cerita yang jauh lebih umum.
Cerita klasik dunia bisnis modern:
growth lari kencang,
tapi operasional dan safety tertinggal.
Ketika expansion dipaksa cepat, SOP biasanya mulai bolong di sana-sini.
Quality control melemah.
Monitoring keteteran.
Training tidak lagi sedalam awal.
Yang penting armada bertambah dulu.
Dan ini bukan cuma terjadi di transportasi.
Startup juga begitu.
Korporasi juga begitu. [kopdes] [embege]
Bahkan institusi publik yang lagi “transformasi digital” sering jatuh ke pola yang sama.
Semua sibuk mengejar scale.
Tapi lupa memastikan fondasinya siap menopang scale itu.
Yang paling bikin saya terganggu justru respons awal mereka setelah tragedi terakhir.
Pernyataan resminya terasa dingin sekali.
Formal.
Prosedural.
Tidak ada rasa.
Kata “belasungkawa” bahkan baru muncul setelah publik mulai ramai mempertanyakan empati mereka.
Kolom komentar langsung ditutup.
Dan buat saya, ketika empati harus menunggu tekanan netizen dulu…
itu bukan empati.
Itu damage control.
Di titik itu saya sadar satu hal:
Semakin besar organisasi tumbuh, semakin besar risiko mereka kehilangan “rasa”.
Bukan karena orang-orangnya jahat.
Tapi karena sistemnya terlalu fokus pada scale, efisiensi, KPI, pertumbuhan…
sampai lupa bahwa di balik angka selalu ada manusia.
Dan biasanya, korban pertama dari growth yang terlalu agresif adalah:
kepercayaan.
Kalau kamu lagi membangun bisnis, produk, atau transformasi digital dan mau ngobrol soal gimana scale tanpa mengorbankan kualitas dan trust — DM saya saja atau ngobrol langsung di:





